- Badan Pengelola Dana Perkebunan dan ASPEKPIR membantu UMKM mengekspor dua kontainer lidi sawit ke Tiongkok.
- Petani dan UMKM memperoleh pendampingan teknis agar lidi sawit memenuhi standar kualitas dan spesifikasi pasar internasional.
- Keberhasilan ekspor lidi sawit menjadi model kolaborasi untuk mengembangkan produk turunan perkebunan lainnya di masa depan.
Direktur ASA Ilham mengatakan sejumlah aspek menjadi perhatian dalam proses tersebut, antara lain panjang, tingkat kekeringan, dan warna lidi.
Setelah melalui proses pendampingan, lidi sawit tersebut akhirnya dapat dikirim ke Tiongkok. Dalam diskusi, Ilham menyebut total produksi yang telah dibantu melalui kolaborasi tersebut mencapai dua kontainer berukuran 40 kaki.
Setiap kontainer memiliki kapasitas sekitar 30 ton. Pada pengiriman dari Langkat, Sumatera Utara, satu kontainer berisi sekitar 30.000 kilogram lidi sawit dikirim ke Tiongkok.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa produk yang terlihat sederhana sekalipun dapat memiliki peluang pasar yang lebih luas ketika dikelola dengan standar dan pendampingan yang tepat.
Membuka Peluang Produk Sawit Lain
Bagi BPDP, pengalaman pengembangan lidi sawit dapat menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, pendamping, petani, dan UMKM dapat membuka akses ke pasar internasional.
Helmi mengatakan model tersebut dapat diterapkan untuk mengembangkan produk turunan sawit lainnya.
βIni menjadi role model, menjadi contoh bahwa ini sudah bisa lho dengan kolaborasi-kolaborasi kita bisa memberikan impact, bisa memberikan devisa bagi desa-desa kita,β ujarnya.
Pengembangan produk pun diharapkan tidak berhenti pada lidi sawit. BPDP mendorong munculnya berbagai produk turunan lain yang dapat memberikan nilai tambah sekaligus membuka peluang ekspor bagi UMKM perkebunan.
ASPEKPIR juga berkomitmen mendorong anggotanya untuk terus mengembangkan produk samping kelapa sawit. Selain lidi sawit, asosiasi mulai mempelajari pengembangan produk lain, salah satunya biochar yang dinilai memiliki peluang untuk pasar ekspor.
Kisah lidi sawit ini memperlihatkan bahwa peluang usaha bisa datang dari hal-hal yang selama ini dianggap sederhana. Dengan peningkatan kualitas, pengetahuan, pendampingan, serta akses pasar, produk berbasis komoditas perkebunan dari tingkat petani pun memiliki kesempatan untuk menjangkau konsumen di luar negeri.
Dari desa, lidi sawit kini tidak hanya menjadi produk untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari cerita bagaimana UMKM Indonesia mencoba membawa produk lokal ke pasar dunia.