- Warga RT 02/RW 03, Tebet, Jakarta Selatan menginisiasi pengolahan sampah organik dapur menggunakan metode Teba Modern sejak Januari 2026.
- Program ini bertujuan mengurangi beban sampah organik rumah tangga di TPA Bantar Gebang melalui sistem pengelolaan mandiri warga.
- Pengurus RT menyediakan wadah khusus dan mengolah sampah organik menjadi pupuk sebagai upaya menciptakan lingkungan yang lebih bersih.
Suara.com - Kesadaran mengelola sampah secara mandiri mulai tumbuh dari lingkungan permukiman warga. Di Komplek Gudang Peluru, RT 02/RW 03, Tebet, Jakarta Selatan, warga setempat menginisiasi program pengolahan Sampah Olahan Dapur (SOD) berbasis metode Teba Modern.
Program ini dijalankan sebagai upaya mengurangi sampah organik rumah tangga yang selama ini berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang.
Sekretaris RT 02, Erik Rangga Kusuma, menjelaskan bahwa gerakan ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari edukasi pemilahan sampah yang sudah dimulai sejak 2017. Namun, penerapan metode Teba Modern baru dilakukan secara intensif sejak Januari 2026 setelah melalui tahap riset dan persiapan lahan.
“Program ini sebenarnya kelanjutan. Tapi pelaksanaan metode Teba Modern mulai intensif sejak awal tahun 2026,” ujar Erik saat ditemui Suara.com, Senin (11/5/2026).
Metode Teba Modern dilakukan dengan membuat lubang sedalam dua meter menggunakan buis sumur sebagai tempat penguraian sampah organik. Sampah dapur yang terkumpul kemudian disiram cairan mikroorganisme EM4 dan molase setiap tiga hari sekali agar proses pengomposan lebih cepat dan tidak menimbulkan bau.
Untuk memudahkan warga berpartisipasi, pengurus RT membagikan ember khusus berwarna kuning sebagai wadah setoran sampah dapur. Warga diminta tidak menggunakan kantong plastik saat membuang sampah organik.
“Kenapa pakai ember? Karena kami tidak mau ada sisa plastik lagi. Jadi warga cukup taruh sampah dapur langsung ke ember, nanti kami yang olah dan bersihkan,” jelas Erik.
Sistem pengelolaannya pun dibuat praktis. Warga cukup menaruh ember berisi sampah di depan rumah, lalu relawan RT akan mengambil, mengolah sampah ke dalam lubang Teba, dan mengembalikan ember dalam kondisi bersih.
“Warga tinggal drop kapan saja. Nanti kami olah, embernya dibersihkan lalu dikembalikan lagi,” katanya.
Baca Juga: Pengusaha Ngadu ke Purbaya, Proyek PLTSa Makassar Terhambat Sejak 2022
Sejak berjalan awal tahun ini, jumlah warga yang ikut program terus bertambah. Dari total 57 rumah di RT 02, kini sekitar setengahnya sudah aktif mengelola sampah organik secara mandiri.
Menurut Erik, peningkatan partisipasi mulai terasa sejak April hingga Mei 2026, terutama setelah isu pengelolaan sampah menjadi perhatian pemerintah daerah.
“Dalam satu malam saja kami bisa dapat 12 permintaan ember baru dari warga,” ujarnya.
Meski mendapat respons positif, tantangan terbesar program ini adalah edukasi yang harus terus dilakukan, terutama kepada Asisten Rumah Tangga (ART) yang sering berganti. Akibatnya, masih ditemukan sampah non-organik seperti tisu dan plastik tercampur dalam ember setoran.
“Kendalanya memang edukasi yang harus berulang-ulang karena pergantian ART cukup cepat,” ungkap Erik.
Ke depan, pengurus RT mengusung visi LESTARI atau Lubang Resapan Sampah untuk Lingkungan Asri melalui program Satu Sumur Satu Lestari (S3L). Target utamanya adalah menciptakan nol persen sampah organik keluar dari rumah warga.
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot
-
Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral
-
Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan
-
Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan
-
Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan
-
BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan
-
Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel
-
Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak
-
Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali