Bukan Sekadar Irigasi, Bagaiaman Tradisi Subak Bali Menjaga Keseimbangan Manusia dan Alam

Kamis, 01 Oktober 2026 | 11:58 WIB
Ladang padi teras yang tenang dikelilingi oleh pohon kelapa di lanskap pagi berkabut. (dok.Pexels/Mikhail Nilov)

Suara.com - Menjaga lingkungan tidak selalu harus mengandalkan teknologi modern. Di Bali, masyarakat telah lebih dulu memiliki kearifan lokal yang mengatur hubungan manusia dengan alam melalui sistem Subak.

Subak selama ini dikenal sebagai sistem irigasi tradisional yang mengatur pengairan sawah. Namun, keberadaannya tidak hanya berhubungan dengan pembagian air. sistem tersebut juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali itu sendiri.

Berdasarkan penelitian yang terbit dalam Jurnal Bali Membangun Bali tahun 2018, Subak merupakan sistem irigasi yang dikelola oleh petani sekaligus memiliki kelembagaan sendiri.

Sistem ini mengatur jumlah lahan sawah yang mendapatkan air dari satu sumber. Tak hanya itu, ada aturan serta ritual yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.

Dengan adanya sistem tersebut, pengelolaan sumber daya alam tidak bisa berdiri sendiri. Air yang menjadi kebutuhan utama pertanian dikelola melalui kerja sama masyarakat yang bergantung pada sumber daya tersebut.

Ketika Air menjadi Tanggung Jawab Bersama

Berdasarkan sistem Subak ini, air bukan semata-mata dijadikan sebagai sumber daya yang dialirkan menuju sawah. Pengelolaannya melibatkan masyarakat yang punya kepentingan bersama terhadap keberlangsungan pertanian.

Bahkan dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa Subak memiliki kekuatan sebagai lembaga sosial-budaya.

Sayangnya, sistem ini sangat rentan terhadap intervensi dari luar. Salah satu persoalannya adalah keterbatasan air untuk pertanian, karen sumber air juga dimanfaatkan untuk kebutuhan lain.

Kondisi tersebut menunjukkan betapa eratnya relasi antara keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Ketika ketersediaan air mengalami gangguan, permasalahannya tidak lagi mengenai sistem irigasi. Di balik itu ada keberlangsungan kegiatan pertanian dan masyarakat yang menggantungkan hidup pada lahan tersebut.

Di situlah terlihat hubungan manusia dengan lingkungan tecermin melalui konsep Tri Hita Karana yang menjadi salah satu landasan dalam kehidupan Subak. Konsep ini menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.

Dalam kajian tersebut menekankan bahwa keberlanjutan Subak perlu memperhatikan tiga aspek, di antaranya parhyangan atau nilai-nilai spiritual, pawongan yang berkaitan dengan kehidupan sosial, serta palemahan yang berhubungan dengan lingkungan fisik.

Bukan Hanya Alam yang Terancam

Permasalahan Subak tidak berhenti pada ketersediaan air. Lahan pertanian juga ikut menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan.

Penelitian tersebut melaporkan tingginya pajak lahan pertanian menjadi salah satu faktor yang diyakini berhubungan erat dengan tingginya alih fungsi lahan di Bali. Tercatat sekitar 750 hektare per tahunnya terjadi alih fungsi lahan.

Saat sawah beralih fungsi, keberadaan Subak ikut terdampak. Sebab, sistem tersbeut tidak dapat terlepas dari lahan pertanian dan masyarakat petani yang menjalankannya.

Dalam arti lain, menjaga Subak bukan hanya persoalan mempertahankan tradisi. Ada lingkungan dan kehidupan masyarakat yang ikut dipertaruhkan di dalamnya.

Tantangan tersebut semakin kompleks begitu perubahan sosial dan ekonomi menjadikan kegiatan pertanian harus terus menghadapi persaingan dengan sektor lain.

Pergeseran itu terlihat pada sektor pariwisata, perubahan konsep pertanian, perdagangan bebas, hingga perkembangan bioteknolgi.

Spirit Keagamaan Ikut Menjaga Lingkungan

Hubungan antara nilai spiritual dan kepedulian terhadap lingkungan juga disoroti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Dalam webinar "Merawat Lingkungan melalui Spirit Keagamaan", Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kudus, Moh. Rosyid, menjadikan Subak sebagai contoh dari bagian kearifanlokal yang menjaga keseimbangan alam.

Menurutnya, Subak tidak hanya memegang fungsi secara teknis, melainkan turut menjadi organisasi sosial dan religius yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana.

Di sisi lain, Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN, Aji Sofanudin, menyebut bahwa menjaga lingkungan bisa dilihat sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.

"Menjaga lingkungan bukan semata kewajiban ekologis, tetapi juga merupakan bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral," kata Aji.

Nilai tersebut selaras dengan keberadaan Subak yang memposisikan hubungan manusia dengan alam sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Namun, perlu ditegaskan bahwa keberlanjutan sistem ini tetap membutuhkan dukungan nyata. Rosyid menyoroti sejumlah tantangan. Mulai dari alih fungsi lahan, pencemaran akibat pupuk kimia, ketergantungan tenaga kerja luar Bali, hingga rendahnya minat generasi muda untuk bertani.

Demikian, menjaga Subak sama saja dengan menjaga lebih dari sekadar saluran irigasi.

Ada air yang perlu dipertahankan, sawah yang perlu dilindungi, petani yang perlu didukung, serta nilai sosial dan spiritual yang diwariskan generasi ke generasi.

Di tengah krisis lingkungan, Subak menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi bagian dari cara masyarakat merawat alam.

Begitu hubungan antara manusia, lingkungan, dan nilai yang mereka yakini tetap terjaga dan lestari. Keberlanjutan bukan hanya menjadi persoalan ekologis, melainkan juga jadi bagian dari kehidupan bersama.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com