Hari Batik Nasional: Saat Warisan Budaya Mulai Keluar dari Pakem Busana Formal

Jum'at, 02 Oktober 2026 | 13:08 WIB
Garuda Kencana Batik Hadirkan Campaign Bertajuk Heroes Interpreted (Dok. Istimewa)
BACA 10 DETIK
  • Garuda Kencana Batik meluncurkan kampanye Heroes Interpreted untuk menghadirkan busana batik tulis bergaya modern.
  • Pemilik Garuda Kencana Batik, Yos Christian Addyputra, menyatakan batik dapat disesuaikan dengan gaya hidup masa kini.
  • Tujuan kampanye ini adalah membuktikan bahwa batik tulis tidak kaku serta relevan untuk semua generasi.

Suara.com - Setiap 2 Oktober, Indonesia memperingati Hari Batik Nasional. Momen ini menjadi pengingat bahwa batik bukan sekadar motif pada kain, melainkan bagian dari perjalanan budaya yang terus berkembang mengikuti zaman.

Namun, di tengah perkembangan industri fashion yang semakin dinamis, batik masih kerap ditempatkan dalam ruang yang terbatas. Kemeja kantor, kebaya, beskap, atau busana untuk acara formal masih menjadi gambaran yang paling umum ketika berbicara tentang batik.

Padahal, batik memiliki kemungkinan yang jauh lebih luas. Hal inilah yang menjadi perhatian Yos Christian Addyputra, Owner Garuda Kencana Batik. 

Menurutnya, batik tulis seharusnya tidak hanya dipandang sebagai busana tradisional, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi fashion item yang lebih modern dan relevan untuk berbagai generasi.

“Sebenarnya sudah lama kami ingin memberikan gambaran bahwa batik tulis itu tidak harus melulu cuttingan tradisional, tidak harus jadi bawahan kebaya, beskap, atau kemeja kantor,” ujar Yos saat ditemui di salah satu gerai Garuda Kencana Batik, belum lama ini.

Pandangan tersebut kemudian diterjemahkan Garuda Kencana Batik melalui campaign bertajuk Heroes Interpreted. Campaign ini mencoba melihat kembali sosok pahlawan nasional dan ikon sejarah Indonesia melalui pendekatan fashion yang lebih modern.

Alih-alih menghadirkan figur-figur tersebut dalam tampilan yang sepenuhnya konservatif, Garuda Kencana Batik menginterpretasikannya kembali melalui busana batik tulis dengan potongan yang lebih kekinian.

Bagi Yos, pendekatan tersebut menjadi cara untuk mempertemukan dua hal yang selama ini seolah berada di ruang berbeda: sejarah dan perkembangan fashion.

“Ketika kami reimagined national heroes dengan cuttingan batik tulis yang modern, menurut kami itu menjadi bridge antara masa lalu dan masa sekarang. Ketika bisa dilakukan dengan baik, secara langsung mengabarkan bahwa batik itu tidak lekang oleh waktu,” katanya.

Melalui campaign tersebut, batik tidak hanya ditampilkan sebagai simbol masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup masa kini. Bahkan sosok-sosok sejarah yang selama ini lekat dengan citra formal dapat diterjemahkan dalam tampilan yang lebih fashionable.

“Overall message-nya, kami ingin menunjukkan bahwa batik tulis itu tidak sekaku itu dan bisa dikenakan oleh semua generasi. Bahkan ketika dipakai ikon-ikon historical yang memiliki very conservative image, masih bisa terlihat bagus dan fashionable,” tegasnya 

Menurut Yos, perkembangan batik memang tidak bisa dilepaskan dari perubahan cara masyarakat memandang busana. Salah satu persoalan yang masih ditemui adalah anggapan mengenai bagaimana batik seharusnya dikenakan.

“Masalah cutting dan cara pakai batik ini kan masih jadi perdebatan di tengah masyarakat. Di sinilah kami hadir untuk menunjukkan bahwa batik dapat dikreasikan bergaya modern, namun tetap menghormati nilai-nilai budaya dan pakem yang selama ini sudah tertanam di dalamnya,” ujar Yos.

Perubahan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Yos mencontohkan tren batik tulis dengan potongan slim fit yang mulai berkembang sekitar 2010. 

Kala itu, penggunaan material yang tidak stretch membuat potongan ketat belum menjadi sesuatu yang umum. Seiring perkembangan material dan teknologi, eksplorasi terhadap bentuk busana pun semakin terbuka.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com