- Badan Riset dan Inovasi Nasional mengkaji pemanfaatan polimer laut untuk kemasan pangan ramah lingkungan pada Selasa.
- Peneliti BRIN dan IPB University menyatakan hasil samping ikan serta polimer laut berpotensi diolah secara optimal.
- Pengembangan bahan kemasan alternatif tersebut masih memerlukan penelitian dan pengujian keamanan lanjutan sebelum diterapkan secara luas.
Suara.com - Sampah plastik terus menjadi tantangan karena plastik sintetis masih banyak digunakan untuk mengemas makanan. Salah satu upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan tersebut adalah mengembangkan alternatif kemasan dari sumber daya alam, termasuk potensi polimer yang berasal dari laut.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengkaji pemanfaatan sumber daya laut untuk mengembangkan bahan kemasan pangan yang lebih ramah lingkungan. Namun, bahan alternatif ini masih memerlukan penelitian dan pengujian sebelum dapat digunakan secara luas.
Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, Bakti Beriyanto Sedayu, menjelaskan bahwa kitosan dan alginat merupakan dua jenis polimer alami dari sumber daya laut yang berpotensi dikembangkan menjadi edible film dan kemasan aktif.
Hal tersebut disampaikan dalam Webinar Ngaji Teknologi dan Proses Pangan (NgajiTek) Seri ke-26 bertema “Inovasi Berkelanjutan Sumber Daya Laut untuk Pangan: Edible Polimer, Produk Pangan, dan Ekonomi Sirkular”, Selasa (20/10).
“Polimer dari sumber daya laut, seperti kitosan dan alginat, berpotensi dikembangkan menjadi kemasan pangan yang lebih ramah lingkungan,” kata Bakti.
Edible film merupakan lapisan tipis yang dapat dimakan dan digunakan untuk melapisi makanan. Sementara itu, kemasan aktif dirancang memiliki fungsi tambahan, misalnya membantu menjaga mutu dan keamanan pangan.
Meski demikian, Bakti menegaskan bahwa pengembangan bahan tersebut tetap membutuhkan pengujian untuk memastikan karakteristik material dan keamanannya saat bersentuhan dengan makanan.
Hasil Samping Ikan Bisa Dimanfaatkan
Selain mengembangkan bahan kemasan, sumber daya laut juga berpotensi dimanfaatkan melalui pengolahan bagian ikan yang selama ini belum digunakan secara optimal.
Guru Besar Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Mala Nurilmala, menjelaskan bahwa kulit, tulang, sisik, dan gelembung renang ikan dapat menjadi sumber kolagen, gelatin, serta turunannya untuk berbagai keperluan, termasuk produk pangan.
“Pemanfaatannya perlu disertai pengujian mutu, keamanan, kandungan logam berat, dan potensi alergen,” jelas Mala.
Pengolahan hasil samping perikanan dapat meningkatkan nilai ekonomi bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan. Pendekatan ini juga sejalan dengan ekonomi sirkular, yaitu memaksimalkan pemanfaatan sumber daya dan mengurangi bahan yang terbuang.
Riset Perlu Diuji hingga Siap Digunakan
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menekankan pentingnya kolaborasi untuk menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat dan memiliki nilai tambah ekonomi.
Sementara itu, Kepala PRTPP BRIN, Satriyo Krido Wahono, menyebut pemanfaatan sumber daya laut berpotensi mendukung pengembangan pangan fungsional, teknologi pengawetan dan pengemasan, serta peningkatan mutu pangan.
Pengembangan tersebut membutuhkan kolaborasi antara peneliti, perguruan tinggi, dan industri agar hasil penelitian dapat berlanjut ke tahap pembuatan prototipe, validasi, hingga penerapan.
Meski menawarkan peluang, polimer laut belum bisa dianggap sebagai pengganti plastik sintetis secara langsung. Pengujian keamanan, kinerja kemasan, dan penerapannya dalam skala nyata tetap diperlukan untuk menilai manfaatnya, termasuk potensinya dalam mengurangi sampah plastik.
Penulis: Chairunisa