- Presiden Prabowo Subianto memanggil Kepala BRIN Arif Satria ke Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa, 27 Oktober 2026.
- Kepala BRIN melaporkan perkembangan riset strategis meliputi bidang air, kesehatan, kebencanaan, sampah, serta teknologi satelit.
- Deputi BRIN Edy Giri menyatakan penguatan hilirisasi riset sains dan teknologi sangat penting untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju.
Suara.com - Presiden Prabowo Subianto meminta Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menghadap ke Istana Kepresidenan Jakarta, siang ini.
Tiba di Istana, Arif menyampaikan telah menyiapkan sejumlah laporan untuk disampaikan kepada Prabowo.
Arif sendiri mengaku belum tahu menahu ihwal tujuan Prabowo memanggil dirinya ke Istana.
"Namun saya, ya mempersiapkan beberapa laporan yang memang saat ini menjadi penugasan karena beliau beberapa kali memberikan tugas pada BRIN, ya," kata Arif, Selasa (27/10/2026).
Tugas tersebut, salah satunya meminta Arif melaporkan tentang beberapa perkembangan riset di berbagai bidang yang menjadi fokus dari Prabowo.
"Satu, bidang air; dua, bidang kesehatan; tiga, bidang kebencanaan; kemudian bidang sampah, ya; dan juga termasuk dalam bidang satelit. Jadi saya kira ini penugasan yang memang terus beliau berikan pada kami dan hari ini tentu kami akan melaporkan sejumlah hal kepada beliau,' kata Arif.
Sebelumnya, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Edy Giri Rachman Putra mengungkapkan penguatan hilirisasi riset di sektor sains dan teknologi menjadi syarat untuk menjadi negara maju.
“Negara maju tentunya akan didukung dengan kuatnya sains, teknologi dan hilirisasi. Tentunya di BRIN juga sebagai salah satu-satunya lembaga riset nasional di Indonesia, memiliki program ataupun strategi ataupun kebijakan bahwa hasil riset kita harus sampai ke hilir,” ucapnya dalam agenda Talent Fest 2026 MTN Goes to Campus di Gedung Kesenian Sunan Ambu, ISBI Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin.
Dia berpendapat bahwa keluaran riset tak boleh berhenti sebatas pada publikasi akademis semata, melainkan bertransformasi menjadi pengetahuan aplikatif yang berlanjut pada tahap invensi dan hilirisasi hasil riset.
Dalam praktiknya, proses hilirisasi disebut sering menghadapi kendala yang disebut “lembah kematian” (valley of death), yakni kondisi ketika banyak hasil riset gagal menembus tahap komersialisasi.
Kegagalan ini, pada umumnya, disebabkan adanya jurang pemisah antara dunia riset yang tak bergerak ke arah hilir dan pihak industri yang tidak aktif menjemput inovasi dari hulu.
Karena itu, BRIN menyediakan ekosistem kolaboratif yang mengintegrasikan perguruan tinggi sebagai pusat talenta riset dengan kebutuhan sektor industri yang diwujudkan melalui penyelenggaraan “Talent Fest” yang mempertemukan pelaku industri dengan pengelola manajemen riset untuk memperkuat kapasitas pengembangan produk berbasis riset.
“Ini sangat luar biasa dan tentunya ini menjadi salah satu hal yang mungkin kita sama-sama akan kembangkan sama teman-teman dari perguruan tinggi,” ungkap Edy.