LINIMASA - Pernahkah Anda memperhatikan sepatu lari Anda, pasangan, atau milik keluarga?
Kemungkinan besar bagian depannya terdapat lengkungan ke atas atau yang disebut dengan toe spring atau pegas jari kaki.
Mungkin Anda akan menganggap itu bagian yang dibuat agar lebih nyaman digunakan untuk berjalan.
Mengutip sebuah artikel yang diunggah pada Sciencealert.com, sepatu lari merupakan produk sepatu yang digunakan banyak orang karena menawarkan kenyamanan dan efesiensi saat digunakan. Akan tetapi, penelitian menyebutkan bahwa sepatu lari dengan desain toe spring dapat menyebabkan permasalahan dalam jangka panjang.
Pegas jari kaki yang sering ada dalam design sepatu lari menyebabkan lemahnya otot kaki sehingga kaki lebih rentan cedera plantar fasciitis (peradangan yang terjadi pada jaringan di bawah kaki yang membentang dari tumit hingga jari kaki).
Setiap langkah kaki yang kita lalui akan mempengaruhi beberapa bagian kaki: tumit menyentuh tanah, lalu seluruh kaki menapak tanah begitu selanjutnya pada langkah berikutnya kita akan menumpu berat badan pada jari kita.
Dorongan ini bisa disebut dengan toe-off membutuhkan otot-otot kecil di sendi metatarsophalangeal (yakni tempat bola kaki kita bertemu dengan pangkal jari kaki) yang berfungsi agar kaki kita tetap kaku.
Sendi inilah yang bertugas untuk transfer energi dari kaki ke tanah dan kembali ke kaki.
Adanya pegas jari kaki ini disinyalir mengurangi fungsi kerja dari otot-otot ini.
Baca Juga: Pentingnya Bersyukur dan Menikmati Setiap Apa yang Kita Makan
Apabila kerja otot tidak maksimal, maka mereka akan sulit untuk melindungi jaringan lunak lain yang berada di kaki sehingga memungkinkan terjadinya plantar fasciitis.
Lantas, apakah lebih baik berlari tanpa menggunakan alas kaki?
Berjalan atau berlari dengan alas kaki dengan fitur yang minim bahkan tanpa alas kaki memang diklaim dapat memperkuat otot kaki, tapi hal ini akan menimbulkan masalah lain yakni cedera betis dan cedera tendon achilles.
Solusi terbaik adalah melakukan transisi lambat dari sepatu lari ke sepatu dengan fitur yang minimalis untuk menghindari cedera yang berlebih.
Kontributor: R. Inayah
Berita Terkait
-
Jangan Takut Gemuk! Ikuti Intuitive Eating, Pola Diet Sehat meski Banyak Makan
-
Perlukah Konsumsi Protein Selama Olahraga? Begini Penjelasan Para Ahli
-
Joget sambil Pamer Body Langsing, Melly Goeslaw Malah Kena Nyinyir Netizen: Aku Kira Aming
-
Panduan Baru Bagi Penderita Diabetes: Penurunan Berat Badan, Pola Tidur, dan Menjaga Gula Darah
-
Tak Hanya Mejeng di Nasi Liwet, Daun Salam Ternyata Bermanfaat untuk Kesehatan
Terpopuler
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
- Setelah Pelatih Giliran Suporter FC Twente Usir Mees Hilgers: Pemain Malas
- Di Bursa Capres 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Tembus 42 Persen, Ungguli Prabowo
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
5 Rekomendasi Eyeliner Pensil Serut yang Waterproof, Pigmented dan Tahan Lama
-
Pindah ke Gresini, Joan Mir Akui Nyontek Marc Marquez
-
Api Sore Hari
-
Darurat Karhutla Kalimantan, Jepang Kirim 600 Pasukan Khusus dan Kapal Amfibi
-
Resmi! Daftar Pemain Timnas Indonesia untuk Kualifikasi Piala Asia U-20 2027
-
Lodewyk Pusung Ajukan Praperadilan Ketiga, Kejagung Ingatkan Batasan KUHAP Baru
-
Mengenal Inovasi Sistem Hybrid Terbaru pada Mitsubishi New Xforce HEV
-
Ulasan Buku Senjata Kaum Lemah: Ketika Melawan Tak Harus Berteriak
-
Bahaya Residu Benzena pada Sunscreen Spray, Bisa Picu Kanker Darah
-
Terjawab! Alasan Teknis Mengapa Vario Evo 160 Tipe Tertinggi Belum Pakai Suspensi Ganda