Setiap ibu tentu saja memiliki panggilan sayang untuk buah hatinya, tak terkecuali halnya dengan YouTuber Ria Ricis.
Selama ini, kepada sang anak Ria Ricis selalu menggunakan panggilan sayang yakni Mbak Moana.
Tapi tampaknya, mulut tajam warganet tak pernah ada hentinya menghujat. Belum lama ini, Ria Ricis kena protes warganet usai memanggil anaknya dengan panggilan Mbak Moana.
Beberapa warganet julid bahkan menyebut panggilan Mbak Moana terdengar seperti putri seorang asisten rumah tangga (ART).
Menanggapi hal itu, baru-baru ini akhirnya Ria Ricis buka suara terkait alasannya memanggil sang buah hati dengan nama Mbak Moana.
"Moana jangan dipanggil mbak dong, kesannya baby anak ART. Panggil kakak aja biar nggak sama dengan mbak pengasuh. Lagian Moana bukan asli orang Jawa kok," kata Ria Ricis membacakan komentar warganet.
Dikutip dari laman Matamata.com, Dia pun mengungkapkan alasannya memanggil Baby Moana dengan panggilan Mbak. Hal ini karena ayah Ria Ricis saat masih hidup suka memanggil nama cucu-cucunya dari Oki Setiana Dewi dengan panggilan Mbak. Bahkan Ricis juga dipanggil Mbak oleh almarhum.
Ricis juga mengakui kalau putrinya memang lebih banyak keturunan Sumateranya daripada Jawa. Karena memang hanya ayah Ricis saja yang asli orang Jawa.
Namun pemilihan panggilan sayang Ricis ke anak yakni Mbak Moana untuk mewakilkan sang ayah.
Baca Juga: Gaya Rambut Rizky Billar Saat Berada di Cianjur Curi Atensi, Tiru Model Cepmek?
"Aku tuh berandai-andai kalau papaku nggak bisa manggil Moana dengan sebutan Mbak, bisa diwakilkan sama aku gitu lo. Sama kayak papa manggil cucu-cucu yang lain dan juga manggil aku," jelas Ricis kepada warganet.
Menurut Ricis setiap orang punya panggilan kesayangan masing-masing buat anaknya termasuk dirinya yang ingin memanggil putrinya dengan sebutan Mbak.
Penjelasan Ria Ricis soal panggilan Mbak pun dibela oleh beberapa warganet.
Banyak ternyata yang juga setuju dengan alasan Ria Ricis memanggil anaknya Mbak Moana.
Menurut warganet, hal itu bukan masalah dan Mbak sendiri mengandung makna baik untuk setiap perempuan.
"Mbak itu dalam bahasa Jawa bahasa sopan makanya sebel siapa yg awalnya mengidentikkan pembantu dg "embak" pembantu itu pekerjaan paling mulia, panggil mba siapa kek, namanya, jgn si mbak doank. Gara2 ini byk yg tersinggung dipanggil mba. Woiii mbak itu panggilan menghormati yg lebih tua, ngga rendah dama sekali," komentar warganet.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
Terkini
-
Viral Pelayanan Jutek di Puskesmas Cisarua, Ini Respons Pimpinan
-
Persib vs PSM Makassar: 6 Poin Penting Pesan Pak Haji Umuh untuk Jaga Tahta Klasemen
-
3 Rekomendasi Sepatu Lokal Terbaik Januari 2026, Kualitas Premium Cuma 300 Ribuan
-
'Satu Foto Sejuta Cerita' Dedie A. Rachim Terpukau oleh Karya Jurnalistik di APFI 2026
-
4 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaik untuk Bapak-Bapak di Mei 2026
-
Long Weekend Makin Nyaman, BSB Cash Bank Sumsel Babel Jadi Andalan Pengguna Tol dan LRT
-
Gaya 'Old Money' dengan Sepatu Lari Lokal: 5 Brand yang Tampil Mewah Tanpa Logo Mencolok
-
Waspada Hantavirus! Banten Pernah Catat 1 Kasus, Pintu Masuk Internasional Dijaga Ketat
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
Dedi Mulyadi Ingin Kembalikan Kawasan Batutulis Bogor Jadi Area Hijau dan Sejarah