/
Jum'at, 16 Desember 2022 | 15:10 WIB
Rocky Gerung (YouTube)

Pengamat politik Rocky Gerung mengkritik Bank Indonesia yang membuat uang edisi khusus Rp 100.000 yang digunakan sebagai mahar pernikahan putra bungsu Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kaesang Pangarep dengan Erina Gudono.

Diketahui uang mahar Kaesang dan Erina sebesar RP 300.00 yang terdiri dari pecahan uang lembar Rp 100.000. Uang mahar tersebut menjadi sorotan lantaran memiliki nomor seri KSE 10122022, ESG 111296, dan KSP 251294.

Rocky menilai hal tersebut merupakan preseden yang buruk karena mengistimewakan anak Presiden dengan mencetak uang seri khusus untuk pernikahan Kaesang dan Erina.

"Jadi preseden ini adalah preseden yang buruk karena tidak bisa, hanya karena anak Presiden lalu diistimewakan, oleh Bank Indonesia," ujar Rocky yang dikutip Suara.com, Jumat (16/12/2022).

Uang lembar Rp 100 ribu dengan seri KSE 10-12-22 yakni memiliki arti pernikahan Kaesang-Erina pada 10 Desember 2022. Lalu uang lembar Rp 100 ribu dengan nomer seri ESG 11-12-96 memiliki arti nama Erina Gudono dan tanggal kelahirannya. 

Sedangkan uang Rp 100 ribu dengan nomer seri KSP 25-12-94 yakni memiliki arti nama Kaesang Pangarep dan tanggal lahirnya.Rocky menyebut Bank Indonesia bukanlah petugas sablon yang mencetak uang sesuai permintaan pribadi, melainkan pejabat moneter.

Karena itu kata Rocky perlu ada pemeriksaan terkait pencetakan uang mahar untuk Kaesang dan Erina.

"Itu Bank Indonesia itu pejabat moneter bukan petugas sablon yang bisa nyablon sesuai dengan permintaan privat. Jadi etika ini yang mesti diperiksa karena sudah diberitakan," ucap Rocky.

Rocky menuturkan pencetakkan uang edisi khusus untuk mahar pernikahan Kaesang dan Erina dapat menjadi perbandingan bagi masyarakat lainnya. Dimana kata Rocky seharusnya masyarakat berhak untuk meminta Bank Indonesia mencetak uang edisi khusus seperti Kaesang dan Erina.

Baca Juga: 3 Manfaat Menggunakan Prolog pada Novel yang Kita Tulis

"Hal yang lebih drastis adalah orang akan bikin atau akan menuntut perbandingan yang setara itu.
Jadi setiap orang misalnya berhak untuk minta dicetakan uang. Jadi semua perkawinan juga bisa sebetulnya minta ke Bank Indonesia, lama-lama Bank Indonesia akan mencetak blangkonya aja, sehingga tinggal diisi itu siapa yang dapat nomor seri," tutur Rocky.

Bahkan ia mengibaratkan jika seandainya mantan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizeq Shihab meminta mencetak uang edisi khusus HRS 212, apakah Bank Indonesia memenuhi permintaannya.

"Coba kita uji, kalau Habib Rizieq misalnya minta supaya ada seri khusus dia, mungkin nanti ada ke acara Maulidan nanti karena dianggap bahwa ini Maulidan pertama, dimana dia bisa berceramah setelah masih mungkin masih masa adaptasi setelah keluar dari penjara, lalu dia minta seri HRS 212 mau dicetak nggak tuh?," papar Rocky.

Lebih lanjut Rocky menyebut perkawinan bukanlah peristiwa negara. Sebab kata Rocky, mencetak uang edisi khusus adalah sebagai bentuk penghargaan seperti pada momen-moment tertentu.

"Ini soalnya kita ingin ada keterangan, kan perkawinan bukan peristiwa negara. Jadi kalau negara mencetak uang itu untuk penghargaan," ungkap Rocky.

Load More