Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan pemerintahannya tampaknya tertarik untuk melakukan studi terkait penghalangan sinar matahari guna melambatkan pemanasan global. Hal ini terkuak melalui sebuah laporan yang disyaratkan oleh Kongres telah dipublikasikan di situs web Gedung Putih.
Dilansir dari Sputnik News (2/7/2023), laporan tersebut menguraikan opsi penelitian terkait proses yang dikenal sebagai Modifikasi Radiasi Matahari (SRM). Dokumen ini mengkaji isu geoengineering matahari dari kerangka "risiko intervensi vs risiko tidak berbuat apa-apa".
Dalam laporan berhalaman 44 yang diminta oleh Kongres dalam laporan kebijakan yang menyertai RUU anggaran 2022, dijelaskan beberapa cara untuk membatasi jumlah sinar matahari yang mencapai Bumi, antara lain adalah penyuntikan aerosol stratosfer (SAI) untuk memantulkan sinar matahari jauh dari planet seperti yang terjadi secara alami setelah letusan gunung berapi, memperbanyak penutupan awan di atas lautan dengan teknik marine cloud brightening, dan mengurangi jumlah awan cirrus yang tinggi untuk mengurangi radiasi matahari yang mencapai Bumi.
Dokumen penelitian menyatakan, "Rencana Penelitian ini berfokus pada peningkatan pemahaman tentang dampak potensial SRM, bukan teknologi yang diperlukan untuk implementasinya. Sebagian besar penelitian ini akan berkontribusi pada pemahaman kita tentang proses iklim dasar dan dampak dari emisi gas rumah kaca manusia, serta hasil dari SRM."
Meskipun demikian, setelah laporan tersebut dipublikasikan, timbul reaksi negatif di internet. Meskipun hanya disajikan sebagai makalah penelitian, gagasan tersebut dianggap sebagai "gila". Beberapa sejumlah warganet khawatir bahwa hal tersebut pada akhirnya akan menjadi upaya "melegalkan senjata iklim," sementara yang lain khawatir tentang "dampaknya terhadap manusia, kehidupan tumbuhan, dan pasokan pangan."
Menariknya, rencana berani untuk mencoba mengubah sinar matahari sebelumnya juga diusung oleh Bill Gates. Miliarder teknologi, filantropis, dan salah satu pendiri Microsoft bersama beberapa donatur swasta mendukung Program Penelitian Geoengineering Matahari di Universitas Harvard pada tahun 2021. Program tersebut mengkaji metode seperti penyemaian stratosfer dengan aerosol untuk memantulkan sinar matahari.
Namun, dalam sebuah surat terbuka, para sarjana yang menjadi inisiator Perjanjian Non-Penggunaan Geoengineering Matahari berpendapat bahwa penggunaan teknologi semacam itu harus dicegah, karena tidak dapat diatur dengan efektif dan akan menimbulkan "risiko yang tidak dapat diterima jika diterapkan sebagai bagian dari kebijakan iklim di masa depan."
Menurut laporan media AS yang mengutip seorang pejabat senior pemerintah AS, saat ini pemerintahan Biden tidak memiliki rencana untuk meluncurkan program penelitian komprehensif terkait modifikasi radiasi matahari.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, Ulangi Jejak Kelam Pendahulu
-
Ledakan Dahsyat Guncang Mall AEON Dua Orang Tewas, Diduga Akibat Kebocoran Gas
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
Terkini
-
Dibalik OTT Bupati Pemalang, Camat Turut Diangkut: KPK Sabar Tunggu Rapat Sampai Selesai
-
Bupati Pemalang Anom Widiyantoro Terjaring OTT KPK, 21 Orang Diamankan di 3 Kota
-
Bagaimana Cara Menghadapi Pasangan Berzodiak Scorpio Saat Mereka Sedang Marah atau Ngambek?
-
Sudaryono Tutup 833 Dapur MBG, Tapi Akar Masalahnya Belum Tersentuh
-
Profil Risya Azzahra Natakusumah, Anak Wakil Gubernur Banten yang Viral di X
-
Apakah Cushion OMG Cocok untuk Kulit Berjerawat? Kenali Klaimnya sebelum Membeli
-
Krisis Iklim Sebabkan Warga Indonesia Kehilangan 84 Jam Tidur per Tahun: Apa Dampaknya?
-
Beli Pulsa dan Paket Data Indosat di BRImo Dapat Cashback 10 Persen
-
Rakyat Tak Butuh Birokrasi Berbelit dan Pemimpin yang Tak Bekerja
-
Di Tengah Evakuasi Korban Gempa Bumi Kumamoto, Jepang Diterjang Cuaca Panas Ekstrem