Prancis dilanda huru-hara sepanjang pekan lalu. Dua unit polisi terbesar di Prancis meminta Pemerintah Presiden Emmanuel Macron untuk "memulihkan ketertiban" dan tidak menyerah kepada para perusuh
"Pernah cukup," demikian pernyataan dari Aliansi Polisi Nasional dan UNSA Polisi yang diposting di Facebook pada Jumat malam (30/6/2023), dilansir dari Russia Today.
"Di hadapan massa yang makin liar ini, meminta ketenangan tidak lagi cukup, Anda harus memberlakukannya!" demikian serikat tersebut mengatakan, menambahkan bahwa satu-satunya sinyal politik yang dibutuhkan saat ini adalah untuk memulihkan ketertiban dalam republik.
"Rekan-rekan kami, seperti sebagian besar warga, tak bisa lagi mentoleransi tuntutan minoritas kekerasan ini. Sekarang bukan saatnya untuk tindakan serikat tetapi untuk melawan 'perusak'. Menyerah, menyerah, dan memuaskan mereka dengan melepaskan senjata kami bukanlah solusi, mengingat keadaan yang serius."
Polisi harus menunjukkan solidaritas, menghentikan kerusuhan sesegera mungkin, dan memulihkan aturan hukum, tuntutan serikat tersebut, tetapi memperingatkan pemerintah bahwa mereka mengharapkan "langkah-langkah konkret untuk perlindungan hukum" bagi para petugas ke depan.
Ultimatum de facto kepada Macron ini datang setelah tiga malam kerusuhan yang semakin brutal di seluruh negeri, dipicu oleh kematian seorang remaja berusia 17 tahun bernama Nahel M. ketika sedang ada pemeriksaan lalu lintas di pinggiran kota Paris, Nanterre, pada Selasa pagi (27/6/2023).
Petugas yang menembak mati remaja Prancis-Aljazair tersebut telah didakwa dengan pembunuhan dan dipenjara, meskipun pengacaranya bersikeras bahwa itu adalah upaya untuk menenangkan para perusuh.
Lebih dari 400 orang telah ditangkap di seluruh Prancis, dengan sebagian besar yang ditahan adalah remaja. Pemerintah Prancis telah mengerahkan lebih dari 40.000 polisi dan gendarmes di seluruh negeri, termasuk 5.000 di Paris dan sekitarnya. Di antara mereka adalah unit anti-teroris dan taktis elit, yang didukung oleh kendaraan lapis baja.
Para perusuh telah menyebabkan hampir 4.000 kebakaran, menghancurkan lebih dari 2.000 mobil, dan merusak hampir 500 bangunan, demikian yang disampaikan Macron dalam pertemuan darurat kabinet Prancis pada Jumat sore, setelah memotong kunjungannya ke pertemuan pemimpin UE di Brussels.
Baca Juga: Daftar Nama FF Keren, Gunakan Username Free Fire Ini Biar Game Semakin Seru
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
Terkini
-
BI: Sektor Perbankan dalam Kondisi Prima di Tengah Krisis Akibat Konflik Timur Tengah
-
Bos OnlyFans Leonid Radvinsky Meninggal Dunia, Sosok di Balik Revolusi Industri Konten Dewasa
-
Cek Hari Libur Nasional April 2026, Ada Long Weekend?
-
Tutorial Move On Setelah Mudik Supaya Bisa Kerja Lagi dengan Efektif
-
Close Your Eyes Siap Comeback April dengan Album Baru, Warna Musik Berbeda!
-
Debut John Herdman di Timnas Indonesia, GBK Diprediksi Membara
-
Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Tiba, Catat 3 Tanggal Aman Bebas Macet Ini
-
Menhub Minta Truk Logistik Tahan Operasi Saat Puncak Arus Balik Lebaran
-
Beralih ke Dunia Akting, Gahyun Dreamcatcher Gunakan Nama Baru Lee Seo Yul
-
Honor MagicPad 4: Tablet Tipis Super Premium yang Siap Gantikan Laptop