Bisnis / Makro
Minggu, 10 Mei 2026 | 17:19 WIB
Ilustrasi uang kartal. (Pixabay/ WonderfulBali)
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia mencatat posisi uang primer pada April 2026 tumbuh sebesar 14,3 persen mencapai Rp 2.232,2 triliun.
  • Pertumbuhan uang primer dipicu oleh kenaikan giro bank umum sebesar 21,6 persen serta uang kartal 14,6 persen.
  • Kondisi ini mencerminkan stabilitas likuiditas nasional tetap terjaga guna mendukung aktivitas ekonomi yang produktif di masyarakat.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) mencatat posisi Uang Primer (M0) pada April 2026 tumbuh 14,3 persen. Pertumbuhan ini melambat dibandingkan bulan Maret 2026 yang melonjak 16,8 persen.

Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny, mengungkapkan, posisi uang primer tersebut masih tumbuh positif dan mencapai Rp 2.232,2 triliun.

"Ini mencerminkan terjaganya stabilitas likuiditas perekonomian nasional serta efektivitas instrumen kebijakan moneter BI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi," katanya dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (10/5/2026).

Bank Indonesia. [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Ramdan enjelaskan perkembangan uang primer tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia yang melesat sebesar 21,6 persen (yoy).

Selain itu, komponen uang kartal yang diedarkan juga mengalami kenaikan sebesar 14,6 persen (yoy), di mana pertumbuhan M0 adjusted ini telah mempertimbangkan secara saksama dampak pemberian insentif likuiditas melalui pengendalian moneter yang disesuaikan.

Secara lebih rinci, uang kartal yang diedarkan pada April 2026 menyentuh angka Rp 1.301,1 triliun. Dari total tersebut, jumlah uang yang beredar di luar bank umum dan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) mencapai Rp 1.195,6 triliun. Sedangkan, uang tunai yang tersimpan di internal perbankan tercatat sebesar Rp 105,5 triliun. 

"Kondisi ini mengindikasikan bahwa kebutuhan uang tunai di tengah masyarakat masih tergolong cukup tinggi selaras dengan aktivitas ekonomi yang terus bergerak produktif," katanya.

Selain pertumbuhan pada sektor uang tunai, dana perbankan yang ditempatkan di BI juga menunjukkan tren peningkatan. Giro bank umum di BI tercatat mencapai Rp 454,2 triliun, sedangkan untuk posisi giro sektor swasta di BI berada di angka Rp 7,6 triliun.

Ramdan menambahkan, skema M0 ini berfungsi untuk menggambarkan perkembangan uang primer dengan mengisolasi dampak penurunan giro bank di BI akibat pemberian insentif likuiditas. 

Baca Juga: BI Lapor Harga Rumah Lesu Pada Awal Tahun 2026

"Sejak Januari 2025, Bank Indonesia telah melakukan penyesuaian perhitungan guna meningkatkan transparansi informasi keuangan dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam bagi publik mengenai dinamika uang primer serta pengaruh kebijakan bank sentral terhadap stabilitas pasar," tandasnya.

Load More