Momen dramatis terjadi ketika sidang pembacaan tuntutan terhadap Richard Eliezer Pudihang Lumiu pada Rabu (18/1/2023). Selain karena momen Eliezer yang langsung menangis di pelukan pengacaranya, Ronny Talapessy, publik juga dibuat salah fokus dengan gestur jaksa yang membacakan tuntutan.
Seperti dilihat cuplikan tayangan ulangnya di program ROSI, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Paris Manalu seperti menahan tangis saat membaca tuntutan. Bahkan Jaksa Paris sempat terdiam, mengatur napas sejenak, sebelum kembali menuntut Eliezer.
Bukan hanya itu, terlihat pula Jaksa Paris sampai harus dikuatkan oleh Jaksa Sugeng Hariadi yang duduk di sebelahnya. Jaksa Sugeng tampak mengalihkan pandangan sepanjang tuntutan dibacakan hingga di akhir terlihat seolah menyeka air mata.
Hal ini rupanya turut disoroti oleh Ahli Hukum Pidana Universitas Trisakti, Dr. Albert Aries, yang sebelumnya hadir sebagai saksi ahli meringankan untuk Eliezer.
Lantas apa makna gestur para jaksa tersebut menurut Albert? Apakah senada dengan spekulasi publik soal adanya tekanan terhadap para jaksa tersebut?
"Pertama, Kejaksaan itu satu atap, tetapi dalam konteks rencana penuntutan, kalau diasumsikan itu adalah menangis, berarti ketika menyusun tuntutan ini, bisa jadi Mbak Rosi, bisa jadi nih ya, suaranya tidak bulat," jelas Albert, dikutip dari kanal YouTube KOMPASTV, Jumat (20/1/2023).
"Meskipun tadi saya katakan bahwa Kejaksaan itu satu atap dalam konteks penuntutan, dan independen serta merdeka dalam memastikan adanya penuntutan yang adil dan objektif," lanjutnya.
Albert tidak menampik bahwa gestur jaksa-jaksa itu seolah menunjukkan adanya upaya saling menguatkan yang disampaikan secara nonverbal.
Hal ini yang kemudian terlihat membuat Rosianna Silalahi selaku pembawa acara agak gusar. "Jadi ada relasi kuasa juga dalam menentukan rencana tuntutan? Jaksa-jaksa di bawah punya tuntutan yang lain, kuasa yang diatasnya menentukan yang berbeda?" tanya Rosi.
Baca Juga: Masa Jabatan Kades 9 Tahun Dinilai Terlalu Lama, Ayo Beri Kesempatan Kader Bangsa Mulai Tingkat Desa
Albert kemudian menerangkan bagaimana cara praktisi hukum menentukan tuntutan dan pasal yang digunakan terhadap terdakwa kejahatan tertentu.
"Kami sebagai praktisi hukum melihat segala sesuatu berdasarkan alat bukti. Tapi jangan lupa, ketika menegakkan hukum, meski dalam posisi yang berbeda, ada hati nurani, dan bisa jadi hati nurani itu berteriak ketika ada sesuatu yang dirasakan kurang adil," terang Albert.
"Jangan lupa, hukum itu untuk manusia, bukan manusia untuk hukum," tegasnya menambahkan.
Analisis inilah yang diduga melatarbelakangi sikap emosional kedua jaksa tersebut.
"Ini menunjukkan ada simpati bahwa ketika ada seseorang yang berusaha untuk jujur, berusaha untuk kooperatif membantu mengungkap peristiwa ini, dia harus diperhadapkan pada tuntutan yang amat berat, 12 tahun penjara, meskipun hakim nggak terikat hal ini," tutur Albert.
Bahkan Albert sampai mengutip pernyataan seorang filsuf, Jeremy Bentham. "Apa manfaat pemidanaan yang begitu berat untuk Eliezer yang begitu jujur? Apakah dia bisa memperbaiki kelakuan Eliezer, pemidanaan itu? Yang kedua, apakah dia bisa mencegah Eliezer melakukan tindak pidana di kemudian hari?" ungkap Albert.
Berita Terkait
-
Putri Candrawathi Biang Kerok Pembunuhan tapi Cuma Dituntut 8 Tahun Bui, Pengacara Yosua: Tidak Fair!
-
Susah Payah Bongkar Skenario Sambo, Jaksa Malah Sebut Richard Eliezer Bukan Penguak Fakta Pembunuhan Yosua
-
Klaim Jaksa Kasus Brigadir J Tak Masuk Angin, Kejagung: Gila Apa, Masuk Angin Mungkin Suka Keluar Malam
-
Apa Itu Justice Collaborator, Kenapa Richard Eliezer Masih Dituntut 12 Tahun Penjara ?
-
LPSK Minta Jaksa Revisi Hukuman Bharada E: Bisa Picu Pelaku Kejahatan Ogah Jadi Justice Collaborator
Terpopuler
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 30 Link Twibbon Idul Fitri 2026 Simpel Elegan, Cocok Dibagikan ke Grup Kantor dan Rekan Kerja
- 7 HP Samsung Terbaik untuk Orang Tua: Layar Besar, Baterai Awet
Pilihan
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
Terkini
-
Film Dream Animals: The Movie, Hewan Lucu Selamatkan Dunia Camilan
-
6 Buah untuk Turunkan Asam Urat Tinggi Pasca Lebaran secara Alami, Konsumsi Rutin
-
WFH demi Hemat BBM: Solusi Visioner atau Sekadar Geser Beban ke Rakyat?
-
Kisah Haru Driver Ojol dan Tunanetra yang Akhirnya Bisa Masuk Istana di Momen Lebaran Presiden
-
Kapan Lebaran Ketupat 2026? Ini Jadwal dan Makna Perayaannya
-
Mata Membesar dan Senyum Hilang PM Jepang Saat Donald Trump Ngoceh Soal Pearl Harbor
-
1.639 Narapidana di Bali Dapat Remisi Idul Fitri, 26 Langsung Bebas!
-
Review S Line: Garis Merah yang Menguak Rahasia Terdalam Manusia
-
Tradisi Salam Tempel saat Lebaran: Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
-
Terbongkar! Isi Obrolan 2 Jam Prabowo dan Megawati di Istana, Singgung Geopolitik Global?