/
Jum'at, 20 Januari 2023 | 14:51 WIB
Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto di Kemusuk, Argomulyo, Sedayu, Bantul (SuaraJogja.id/Hiskia Andika)

Banyak cerita soal pemerintahan Presiden ke-2 Soeharto yang diungkap oleh penulis pidatonya, Yusril Ihza Mahendra, ketika berdiskusi di podcast Total Politik.

Tidak terkecuali soal seberapa besar tekanan yang diterima oleh para bawahan Soeharto, bahkan sampai membuat perwira-perwira tinggi TNI berpangkat jenderal pun tak berkutik.

Yusril lantas menceritakan momen ketika dia masih tergolong anak bawang di lingkup Kementerian Sekretariat Negara. Saat itu jabatan Mensesneg dipegang oleh Letjen TNI (Purn.) Moerdiono.

"Kadang-kadang saya suka dikerjai juga sama Pak Moerdiono atau Pak Feisal Tanjung (Panglima TNI Jenderal (Purn.) Feisal Tanjung)," terang Yusril, dikutip pada Jumat (20/1/2023).

Saat itu biasanya Moerdiono yang notabene atasannya suka tiba-tiba mengajak Yusril ke Bina Graha, gedung kepresidenan yang dibangun di era pemerintahan Soeharto.

Sebagai bawahan, Yusril pun menurut saja meski tidak tahu apa alasannya diajak ikut menemui Soeharto di Bina Graha.

"Pak Harto ngomong, ngomong, ngomong, (lalu tiba-tiba bertanya) 'Jenderal bagaimana?' Pak Feisal (menjawab) 'Iya, iya'," tutur Yusril, menirukan pembicaraan saat itu.

Lalu Soeharto ganti bertanya kepada Mensesneg saat itu, Moerdiono, yang dijawab, "Wah gini, gini, berkomentar lah," lanjutnya.

Tak disangka, Soeharto kemudian juga ikut bertanya ke Yusril. "Pak Harto ngomong gitu, jadi saya kemukakan lah pendapat saya. Setelah panjang lebar saya ngomong, (Soeharto menjawab) 'Iya, iya, ya sudah kita tunda dulu'. Akhirnya kita keluar," kata Yusril.

Baca Juga: Kabar Duka, Cak Fuad Kakak Cak Nun Meninggal Dunia

Lantaran pembahasannya ditunda, rombongan itu pun berlalu dari Bina Graha. Yusril kembali bersikap selayaknya pegawai paling muda dan hanya mengikuti, sehingga dibuat bingung ketika para atasannya justru tertawa pasca menjauh dari ruang pertemuan dengan Soeharto tadi.

Usut punya usut, Yusril rupanya sengaja diajak untuk berani membantah perintah Soeharto. Pasalnya para jenderal yang menempati posisi strategis seperti Moerdiono dan Feisal Tanjung tak berani untuk menolak sang penguasa orde baru.

"Sambil jalan, Pak Moerdiono ketawa-ketawa, (lalu bilang) 'Itulah gunanya sampeyan kita ajak, supaya sampeyan yang bilang enggak sama Pak Harto'. (Yusril membantah) 'Pak Moer aja yang bilang enggak', (dijawab lagi) 'Mana berani?!'" tutur Yusril.

Feisal Tanjung juga mengamini pengakuan Moerdiono saat itu, sementara Yusril masih heran mengapa para jenderal itu tidak berani menolak Soeharto.

"Ya kalau kita kan didamprat habis, gimana kita? Lha situ kan dianggap anak kecil, masa mau dimarahin?" ucap Yusril menirukan penjelasan Moerdiono saat itu.

Load More