/
Selasa, 28 Februari 2023 | 17:48 WIB
Mario Dandy Satriyo ((Twitter))

Unsur pola asuh dan tingkat kecerdasan emosional yang rendah mampu menghasilkan ekspresi wajah datar.

Ekspresi wajah datar yang ditampilkan Mario Dandy Satriyo pelaku penganiayaan brutal atas David Latumahina dalam konferensi pers gelaran Polres Metro Jakarta Selatan pekan lalu masih menjadi kajian.

Dikutip dari salah satu tayangan YouTube TVOne, Selamat Pagi Indonesia, Monica Kumalasari, pakar mikroekspresi menganalisa bahasa non-verbal dari sikap yang ditunjukkan Mario Dandy Satriyo.

Ekspresi wajah lelaki usia 20 tahun itu menunjukkan rasa tidak takut.

"Artinya "Saya tidak takut", ini masih konsisten. Kalau ternyata itu benar, bisa saja pola asuh orangtuanya," jelas Monica Kumalasari.

Sementara dari tayangan YouTube Berita Satu, salah satu narasumber Drs. Soeprapto, S.U, Sosiolog Kriminal Universitas Gadjah Mada menyatakan bahwa Mario Dandy Satriyo memiliki tingkat kecerdasan emosional yang rendah.

"Dahulu untuk mengukur kecerdasan hanya berdasarkan IQ (Intelligence Quotient), kini melibatkan kondisi lingkungan, dan sosial, sehingga ada EQ (Emotional Intelligence) atau tingkat kecerdasan emosional. Dalam hal ini, pelaku memiliki tingkat kecerdasan emosional yang rendah," paparnya.

Berdasarkan pemaparan pakar mikro ekspresi Monica Kumalasari, dan Drs. Soeprapto dari sudut psikolog kriminal, unsur pola asuh dan tingkat kecerdasan emosional yang rendah menjadi penjelas dari ekspresi yang ditunjukkan Mario Dandy Satriyo.

Menurut Kentucky Counseling Center, beberapa ciri seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan emosional rendah antara lain:

* Selalu harus benar
* Tidak menyadari perasaan orang lain
* Berperilaku tidak peka
* Menyalahkan orang lain atas masalah mereka
* Memiliki keterampilan mengatasi hal yang buruk
* Memiliki ledakan emosional
* Harus berjuang untuk mempertahankan sebuah relasi
* Mengalihkan percakapan menuju diri dendiri sebagai pusatnya.

Disimak dari ciri-ciri ini, kondisi tingkat kecerdasan emosional rendah bisa dibentuk dari pola pengasuhan dan cara membesarkan anak.

"Di mana kemampuan memahami dan mengatur emosi seharusnya sudah diajarkan kepada anak sejak usia dini. Ini adalah kewajiban penting dari orangtua. Anak-anak harus didorong untuk memahami, berbagi, dan mengungkapkan apa yang mereka rasakan kepada orangtua mereka," demikian dituliskan Kentucky Counseling Center.

Di sisi lain, jika orangtua memiliki EQ yang rendah, mereka akan kesulitan untuk bisa menghasilkan atau membesarkan anak dengan kecerdasan emosional tinggi. Pasalnya, anak-anak paling baik belajar lewat pemberian contoh. Orangtua yang tidak dapat mengelola emosi mereka secara efektif kemungkinan besar akan menghasilkan anak dengan tingkat kecerdasan emosional rendah.

Kemudian, orangtua yang sangat mengontrol atau menerapkan hukuman fisik kemungkinan besar juga menghasilkan anak yang tumbuh dengan EQ rendah.

Load More