Ekonom senior Rizal Ramli kembali menyentil masalah presidential threshold (PT) yang menjadi pintu masuk menjamurnya politik uang di Indonesia.
Dilihat di kanal YouTube Refly Harun, awalnya Rizal mengklaim bahwa Indonesia mengalami kemunduran lantaran pemerintah yang berkuasa menjadi semakin otoriter.
"Setelah kejatuhan Pak Harto, kita dan semua kawan-kawan memperjuangkan supaya sistem otoriter berubah menjadi demokratis dan bahwa KKN seminimal mungkin," ucap Rizal, dikutip pada Jumat (15/9/2023).
"Kita menang tetapi hanya sementara selama pemerintahan Gus Dur dan Habibie. Tetapi setelah itu kembali lagi pelan-pelan, semakin otoriter dan money politic semakin meluas, semakin dahsyat, dan merasuki seluruh kehidupan sosial politik kita," lanjutnya.
Politik uang yang kian menjamur ini bahkan membuat proses pemilihan pemimpin menjadi semakin mudah dan tidak berkualitas. Sebab menurutnya siapapun bisa maju selama mempunyai modal uang yang cukup.
"Sederhana, mau jadi bupati perlu nyewa partai yang ongkosnya Rp20-60 miliar. Mau jadi gubernur perlu nyewa partai biayanya Rp100-300 miliar. Mau jadi presiden, sewa partai perlu Rp1,5 triliun," tutur Rizal.
"Inilah yang disebut sebagai akibat dari sistem threshold atau ambang batas. Sistem ini sebetulnya sangat manipulatif," imbuhnya.
Bahkan Rizal mengklaim praktik ini sebagai bentuk kriminal dalam sistem demokrasi. Mirisnya, PT malah dilegalkan oleh Mahkamah Konstitusi.
"Kebanyakan calon ini tidak punya uang. Oleh karenanya perlu bandar atau cukong yang membayar sewa kepada partai-partai, menyewa perusahaan polling untuk menaikkan nama kandidat, perusahaan survei, dan sebagainya. Jadi begitu calon itu terpilih, pengaruh daripada cukong-cukong sangat kuat," ungkap Rizal.
Karena itulah, menurut Rizal, tidak heran bila pemerintah malah lebih sering mengutamakan investor serta kepentingan ekonomi ketimbang kehidupan dan kesejahteraan rakyat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Gandeng Lansia dan Hidupkan Payet Sabit Jadul, Khayae Curi Perhatian di IFW 2026
-
Makna Lambang Tunas Kelapa Pramuka, Simbol Generasi Tangguh dan Bermanfaat
-
Golkar Buka Suara Soal Kepala Daerah Marak Kena OTT, Singgung Mahalnya Biaya Politik
-
Gardu Induk Gandul Bermasalah, Listrik di Jakarta Hingga Tangerang Sempat Gelap Gulita
-
BRI Bekali PMI di Taiwan dengan Keterampilan Wirausaha untuk Bangun Usaha Produktif
-
YouTube Diberi Waktu 3 Hari soal Kasus Bigmo, Komdigi Ancam Denda hingga Pemutusan Akses
-
Day Cream Apa yang Bisa Menghilangkan Flek Hitam Usia 40? Ini 4 Pilihannya Sesuai Review
-
Deflasi Juli 2026 Picu Tanda Tanya, BPS Sebut Bukan Gara-gara MBG Libur
-
NHM Teguhkan Komitmen Good Mining Practices melalui Binwas Terpadu ESDM
-
Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review