Partai Demokrat memutuskan hengkang dari Koalisi Perubahan setelah Anies Baswedan mantap mendeklarasikan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar sebagai bakal calon wakil presidennya.
Hal ini tentu ramai dikaitkan dengan gagalnya Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mendampingi Anies di Pemilihan Presiden 2024.
Namun sebenarnya seperti apa kronologi hingga Anies dan Partai NasDem selaku pengusungnya memutuskan untuk menggandeng Cak Imin ketimbang AHY?
"Jadi pada saat di hari Jumat Sabtu Minggu itu sudah terjadi suasana deadlock. Satu pihak sudah mulai mengirimkan pesan bahwa akan mencari opsi lain," ungkap Anies, dikutip dari kanal YouTube Liputan6, Jumat (15/9/2023).
"Jadi kami coba sesuai permintaan mereka, meminta untuk ada semacam surat menyatakan bahwa opsinya yang tersedia adalah Mas AHY. Karena itulah permintaan itu dipenuhi, dibuatlah surat tadi," sambungnya.
Surat yang dimaksud adalah ajakan Anies agar AHY mendampinginya sebagai bacawapres yang tampak ditulistangan dan ditandatangani oleh sang mantan Gubernur DKI Jakarta.
Sayangnya opsi ini pun berujung deadlock. "Tiga hari kemudian nggak bisa maju, deadlock sama sekali. Nah itu kejadiannya selesai Maghrib, malamnya Gus Imin ngobrol dengan Pak Surya Paloh," ujar Anies.
"Jadi kita menyaksikan salah satunya berhenti, kemudian muncul jalan baru dalam hitungan jam. Pak Surya Paloh kemudian pada waktu itu melihat ini adalah jalan keluar, kan ya udah macet semua di sini, memang harus segera diambil keputusan," imbuhnya.
Karena itulah langsung diambil keputusan, termasuk agar Anies mendeklarasikan rencana maju Pilpres 2024 bersama Cak Imin alih-alih AHY. Padahal saat itu pun Cak Imin datang menemui Surya Paloh tanpa niatan untuk langsung dijadikan tandem Anies.
Baca Juga: Sakit Hati Ditinggal demi Cak Imin, Demokrat Kuliti Lagi Kebohongan Anies Baswedan: Pengkhianat!
Anies juga menekankan bahwa semua pihak saling mengetahui, termasuk soal surat ajakan Anies terhadap AHY. Namun memang situasi yang sudah deadlock membuat manuver besar langsung dilakukan. Hanya saja manuver ini mengecewakan sejumlah pihak, bahkan Partai Demokrat sampai melabeli Anies sudah berkhianat.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Mau Gelar Scudetto, Haram Buat Pemain Inter Milan Salahkan Wasit Kalau Kalah
-
Pecah Kongsi? Netanyahu Sindir Donald Trump Soal AS Mau Negosiasi dengan Iran
-
Trump Klaim Iran Mau Berunding, Teheran: Bohong! AS Gemetar dengan Rudal Sejjil
-
Demi Tiket Piala Dunia 2026, Gennaro Gattuso: Pemain Dilarang Lembek, Berjuang Mati-matian
-
Penumpang Ungkap Momen Mencekam Tabrakan Pesawat Air Canada, Pilot Selamatkan Banyak Nyawa
-
Kim Jong Un Terpilih Lagi Jadi Presiden Korut, Sang Adik Hilang Misterius
-
Viral Polisi Ditantang Duel Remaja di Blitar saat Sita Petasan Siap Meledak, Ini Kronologinya
-
Sinopsis Project Hail Mary, Misi Ryan Gosling Selamatkan Bumi dari Kepunahan
-
Momen Idulfitri, Prabowo Hubungi Presiden Palestina Mahmoud Abbas Bahas Solidaritas Bangsa
-
Menlu Israel Klaim 40 Negara Labeli Garda Revolusi Iran sebagai Teroris, Ada Indonesia?