/
Selasa, 19 September 2023 | 13:13 WIB
Ilustrasi pinjol ilegal (Freepik/tonodiaz)

Seorang pria dikabarkan nekat melakukan bunuh diri karena terus mendapatkan teror dari debt collector (DC) aplikasi pinjaman online (pinjol) AdaKami.

Seperti dilansir dari akun @rakyarvspinjol, Selasa (19/9/2023), terdapat unggahan tangkapan layar yang mengaku sebagai korban pinjol AdaKami memutuskan untuk mengakhiri hidup karena terus menerus mendapat teror dari DC AdaKami.

"Aku mau cerita tentang korban kebrutalan terror DC pinjol legal Adakami yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri ya," tulis akun tersebut.

Dalam tangkapan layar tersebut diceritakan bila keluarga yang terjerat pinjol terpaksa bunuh diri akibat tidak mampu membayar utang di AdaKami. Sebelum bunuh diri teror dan pemecatan dari pekerjaan membuat korban pinjol makin terpuk.

Keluarga korban memang sengaja tidak menghebohkan peristiwa bunuh diri ini, karena malu membuka aib almarhum. Melalui aplikasi AdaKami, korban meminjam dana sebesar Rp 9,4 juta. Namun, korban justru diminta pengembalian dana hingga Rp 19 juta.

"Korban adalah seorang suami dan ayah, yang memiliki seorang anak balita perempuan. Usia anaknya masih 3 tahun. Keluarga sudah sepakat untuk tidak kasus in dan up cerita ini untuk menjaga nama baik korban," tulis akun tersebut.

Singkat cerita, teror dari DC  AdaKami mulai mengganggu kinerja korban yang berkerja sebagai tenaga honorer di salah satu kantor pemerintahan yang berujung pemecatan

OJK mengumumkan daftar pinjol legal terbaru Januari 2023. (sumber: Antara)

Kendati demikian, kesulitan yang dialami korban ternyata tak diceritakan ke keluarga. Kepada keluarga, korban hanya menceritakan bila SK-nya tidak diperpanjang. 

"Menerima kabar korban dipecat, keluarga pun membantu ala kadarnya tanpa mengetahui akar permasalahannya. Setelah dipecat, istri dan anaknya pun pulang ke rumah orang tua-nya," tulis akun tersebut.

Baca Juga: Profil dan Biodata Tiurmaida Situmeang: Kepsek di Medan yang Diduga Tahan Gaji Guru

Setelah teror telpon, DC AdaKami pun terus meneror dengan cara melakukan orderan fiktif melalui aplkasi online ke alamat korban. Dalam satu hari, 5-6 order fiktif selalu datang ke rumah korban.

Mendengar teror dari pinjol AdaKami yang menimpa suaminya, istri korban justru menolak untuk pulang, karena takut. Tepat 2 hari setelah percobaan mediasi, istri menolak pulang ke rumah dan teror masih terus berlanjut.

"Korban mengakhiri hidup nya dengan cara bunuh diri. Korban menghembuskan napas terakhirnya pada bulan Mei 2023," tulis akun tersebut.

Load More