Pertanyaan mendasar: apa hubungannya? Akan tetapi, mari kita simak proses kecerdasan atlet-atlet berikut ini.
Sebastian Vettel adalah pembalap Formula 1 (F1) dari tim Aston Martin, pemegang gelar Juara Dunia F1 empat kali berturut-turut (2010, 2011, 2012, dan 2013).
Selain prestasinya, Seb--nama sapaannya--terkenal sebagai sosok cerdas. Ia memiliki kemampuan cepat beradaptasi dengan bahasa. Selain sebagai penutur asli bahasa Jerman, ia juga fasih berbicara bahasa Inggris, Italiano, Prancis, Finnish, serta sedikit Portugis.
Bahasa Inggris didapatkan semasa ia bergabung dengan tim Red Bull yang bermarkas di Milton Keynes, Inggris. Sehingga aksen, cengkok, bahkan sampai humor satirnya "made-in England". Bahasa Italia ia dapatkan saat bergabung dengan Scuderia Ferrari, tim yang bermarkas di Maranello, Italia. Krunya dominan orang sana, otomatis Seb menuntut diri sendiri bisa berbahasa ini.
Lantas bahasa Finnish atau Finland adalah hasil belajar dari Kimi Raikkonen, teman satu tim yang berasal dari Negeri Seribu Danau itu.
Lainnya, seperti bahasa Prancis dan Portugis dipelajarinya otodidak, karena Seb memang dikenal sebagai sosok yang suka belajar apa saja.
Lantas hubungannya dengan Marselino Ferdinan?
Begini, di dunia F1, yang bisa disebut mewakili dunia olah raga otomotif pada khususnya, dan diperluas cabor-cabor (cabang olah raga) pada umumnya, selain skill atau kemampuan teknik seorang atlet, kebisaan di hal non-teknis menjadi nilai atau value lebih tinggi. Dalam hal ini antara lain bahasa.
Atlet yang sudah mampu melewati zona nyaman dengan mau, berusaha, dan berani menggunakan bahasa atau cara bertutur di luar bahasa ibu atau bahasa sendiri memiliki sederet kelebihan. Artinya, mampu berkomunikasi dengan pelatih, kru, pengawas pertandingan, bahkan kompetitor dan penggemar di luar bahasa sendiri.
Dengan menggunakan bahasa asing dan keluar zona nyaman, determinasi si atlet pun lebih tinggi.
Nah, sekarang simak Marselino Ferdinan. Ia berasal dari Indonesia. Berdarah paduan Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Surabaya, Jawa Timur, bahasa yang digunakan adalah Indonesia baik dialek baku dan daerah, serta penutur bahasa-bahasa Nusa Tenggara serta Suroboyoan.
Dari saat main di Persebaya Surabaya yang menggunakan bahasa kita sendiri, ia pindah ke Belgia, di tim KMSK Deinze.
Kepanjangannya apa? Koninklijke Maatschappij Sportkring Deinze.
Berdasarkan pengalaman Metro Suara.com bermukim di Belgia beberapa tahun lalu, negara ini unik. Penduduknya berbicara bahasa Belanda yang tidak Belanda, Prancis juga tidak sangat Prancis.
Mengapa begitu? Karena di negeri ini terdapat wilayah-wilaya dengan kebahasaan seru, bagi yang ingin belajar. Seluruh kota memiliki dua nama yang ditunjukkan di papan penanda. Contohnya Antwerp atau Antwerpen, Liege atau Luik, Bruxelles atau Brussels.
Sekarang, simak nama Deinze yang menggunakan awalan "Koninklijke Maatschappij Sportkring" artinya klub sepak bola ini berada di wilayah yang lebih dominan bahasa Belanda yang tercermin dari penggunaan bahasa itu sebagai penunjuk identitas. Dan alamat klub bola ini adalah Deinze, East Flanders.
Di manakah itu? East Flanders dalam bahasa Belanda adalah Oost-Vlaanderen dan dalam bahasa Prancis Province de Flandre-Orientale. Sebuah provinsi di Belgia yang berbatasan dengan Provinsi Zeeland di Belanda dan provinsi Flemish di Antwerp, Flemish Brabant, Hainaut dan West Flanders.
Jadi, Marselino Ferdinan berbicara bahasa apa? Indonesia sudah pasti, Inggris sebagai bahasa internasional juga, Belanda dan Prancis, sangat mungkin bila menilik lokasinya. Dan satu lagi yang mungkin tidak terpikirkan: bahasa Flemish (Vlaams), bisa Flemish Dutch (Vlaams-Nederlands), Belgian Dutch (Belgisch-Nederlands) atau Southern Dutch (Zuid-Nederlands).
Tag
Berita Terkait
-
Misteri Marselino Ferdinan Tidak Diturunkan KMSK Deinze, Ini Buktinya Ia Dukung Kemenangan Tim Reserves 4-2
-
Presiden RI Siap Saksikan Timnas Indonesia di Laga Pembuka Piala Dunia U-17 2023, Ketua Umum PSSI Sebutkan Kunci Ini
-
Timnas Indonesia Lanjut ke 16 Besar Asian Games 2022, Dibutuhkan Dua Pemain Mengisi Slot Tersedia
-
Berkah Kalah dari Taiwan dan Pasukan Kim Jong-un, Timnas Indonesia Bisa Masuk 16 Besar Asian Games 2022
-
Ranking FIFA Kita Naik, Malaysia Juga Sampai Pelatihnya Bikin Komentar Tersirat Begini Tentang Timnas Indonesia
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 5 Pilihan Sepatu Running Lokal Rp100 Ribuan, Murah tapi Kualitas Bukan Kaleng-Kaleng
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Mencerahkan Wajah, Cukup 3 Langkah Praktis Murah Meriah!
Pilihan
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
Terkini
-
Sejarah Baru Konservasi Lampung: Dua Harimau Cacat Korban Jerat Sukses Lahirkan 2 Bayi
-
KPK Ungkap Orang yang Klaim Bisa Urus Kasus Bea Cukai Ada di Semarang
-
Daftar Saldo Minimal Tabungan BRI Terbaru 2026
-
Dorong Produktivitas Daerah, BRI Malang Salurkan KUR Rp5,55 Triliun di Awal 2026
-
Soroti Pernyataan Amien Rais, Pigai: Kebebasan Berpendapat Ada Batasnya
-
Apa Bedanya Sekolah Rakyat dan Sekolah Biasa? Heboh Anggaran Sepatu Rp700 Ribu Sepasang
-
Kasus Dokter Magang Meninggal di Jambi Disorot, Polisi Tunggu Hasil Audit Kemenkes
-
Prabowo Dorong Kampus Turun Tangan, Jadi 'Asisten' Pemda Tangani Masalah Daerah lewat Program ASRI
-
Saatnya Mengaku: Kita Scrolling Bukan Mencari Hiburan, Tapi Lari dari Kenyataan
-
Atasi Antrean BBM di Riau, Pertamina Perpanjang Layanan SPBU hingga 24 Jam