Menjadi murid sekolah, sejak dahulu ia ingin mendapatkan pendidikan dari tempat yang mengajarkan disiplin tinggi.
Menyandang nama panjang Herlina Christine Natalia Hakim, aktris serta sutradara perfilman Indonesia ini membenarkan, banyak yang mengiranya beriman Katolik. Karena nama kedua dan ketiga bisa dikira nama baptis dan krisma. Siapa tahu ia seorang mualaf?
Karena itu, dengan sangat hati-hati bahkan minta maaf terlebih dahulu, Denny Sumargo, pemilik acara podcast Woy Curhat Bang! bertanya, "Apakah Ibu ..." tanpa meneruskan karena merasa tidak enak hati soal kekepoan yang mewakili banyak orang ini.
"Oh tidak mengapa. Memang saya lahir Hari Natal, sehingga di bagian nama ada Natalia," papar pemeran Tjoet Nja' Dhien, kelahiran Kuala Tungkal, Jambi 25 Desember 1956.
Menilik asal namanya, Christine Hakim yang akrab dipanggil Ibu menyatakan ayahnya yang bekerja di Dirjen Pajak saat itu tengah bertugas di Jambi. Sekeluarga pun ikut serta.
"Ada seorang Jerman, bertugas sebagai misionaris yang membantu ibu saya melahirkan. Sehingga untuk penghormatan, nama pemberiannya, Christine dimasukkan orangtua ke bagian nama saya yang sudah disiapkan sebelumnya, Natalia," tukas perempuan enerjik ini.
Tidak hanya itu, saat lulus Sekolah Dasar (SD), Christine Hakim yang berusia 12 tahun minta sendiri kepada orangtuanya agar disekolahkan di sekolah Katolik St Theresia Menteng. Saat itu keluarga mereka bermukim di Bendungan Hilir, Jakarta.
Keinginan pemain film legendaris yang selalu bermain apik, antara lain di film Badai Pasti Berlalu, Daun di Atas Bantal, sampai Eat, Pray, and Love ini untuk bersekolah di sekolah berlatar belakang mengamati tetangganya. Ada yang sekolah di St Theresia, terkenal sebagai sekolah dengan tingkat kedisiplinan tinggi.
"Saat itu belum seperti sekarang, belum ada sekolah-sekolah Islam yang terkenal. Saya melihat, saudara-saudara saya yang bersekolah di swasta atau bukan negeri dan bukan Katolik. Sekolahnya bagus, namun tetap bandel. Antara lain diantar ke gerbang sekolah, nanti kabur lewat gerbang lainnya. Saya ingin kedisiplinan, sehingga saya ajukan pada orangtua,," tandas Ibu Christine Hakim.
Awalnya, keinginan ini dipertanyakan. Apalagi di kalangan keluarganya, Christine Hakim cilik adalah anak yang paling rajin mengaji.
"Orangtua memanggil guru ngaji seminggu dua kali, tetapi atas keinginan sendiri, setiap jam tiga sore saya ke madrasah dekat masjid Bendungan Hilir untuk belajar, datang sendiri, daftar sendiri, baru setelah pulang main di rumah sebentar dengan adik-adik dan sesudah itu belajar ngaji lagi dengan guru yang dipanggilkan orangtua," jelasnya.
Dan setelah menjalani pendidikan sekolah sedemikian lama, Christine Hakim tetap setia kepada iman yang telah dipeluknya.
"Saya sangat bersyukur, karena selama sekolah di SMP Santa Theresia mendapatkan guru matematika, dulu ilmu ukur dan aljabar, yang sangat luar biasa. Membuat saya makin jatuh kepada ilmu matematika dan memperkuat struktur berpikir," lanjut Christine Hakim.
Berdasarkan pengalamannya sebagai murid, ia tidak suka pelajaran hapalan. Sedangkan matematika adalah logis, bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, selalu memiliki rumus untuk memecahkan masalah.
Berita Terkait
-
Bang Tigor Diduga Paksa Anak Untuk Mualaf, Memang Pindah Agama Secara Begitu Menurut Islam?
-
Kembangkan Pasar Surabaya, Mitra Agen Lion Parcel Tumbuh Signifikan
-
Nathalie Holscher Tak Lanjutkan Proses Hapus Tato Karena Kesakitan, Boleh Begitu Menurut Islam?
-
Sarah Menzel Bakal Mualaf Jika Jadi Istri Azriel Hermansyah, Bolehkah Menikah Beda Agama Dalam Islam?
-
Sarah Menzel Disebut Akan Mualaf Demi Menikah Dengan Azriel Hermansyah, Apakah Sah Dalam Islam?
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi