/
Senin, 16 Januari 2023 | 14:26 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menghadiri puncak perayaan HUT Ke-50 PDI Perjuangan di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Selasa (10/1/2023). ([Dok. Relawan Ganjar])

Tingginya elektailitas dan popularitas yang dimiliki Ganjar Pranowo ternyata tak menjadi jaminan dirinya bakal mendapat golden ticket dari partainya berlabuh, PDI Perjuangan untuk maju sebagai calon presiden pada Pilpres 2024 mendatang.

PDI Perjuangan dinilai tak memasukkan nama Ganjar Pranowo dalam skema menghadapi 2024 mendatang. Beberapa pengamat mengatakan hal itu tercermin dari sikap Ketua Umum PDIP pada acara HUT ke 50 partai berlambang kepala banteng tersebut.

Mengenai hal ini, Analis politik, Arifki Chaniago menyebutkan ada beberapa alasan Ganjar tidak menjadi 'bintang' di HUT PDIP. 

Pertama, Ganjar berkemungkinan tidak masuk dalam skema capres yang dipersiapkan oleh Megawati di tahun 2024.

"Megawati menyebut trah Soekarno, Puan dan memperkenalkan anak-anak Puan ke peserta HUT PDIP," ujar Arifki. 

Kedua, ia menangkap Megawati seperti serius untuk memikirkan trah Soekarno sebagai capres-cawapres di 2024 dan mempersiapkan regenerasi kepemimpinan di internal PDIP. 

Dengan membuka jalan untuk trah Soekarno, Arifki memprediksi sinyal kepemimpinan PDIP selanjutnya bakal ke anak-anaknya. 

"Ketiga, dengan keluarnya nama Ganjar di kelompok-kelompok relawan politik dan beberapa partai politik menjadi masalah dalam skema organisasi PDIP," lanjutnya.

Ganjar adalah kader PDIP tetapi namanya lebih dulu keluar di partai lain. Secara organisasi, Ganjar dinilai mendesak PDIP dengan menggunakan relawan dan tangan partai lain agar mendeklarasikan dirinya sebagai capres. 

Baca Juga: Diprotes Warga, Moeldoko: Eksekusi Lahan Kampung Penara Serdang Hilir Wujud Kehadiran Negara

“Pendekatan relawan yang mendesak PDIP agar mendeklarasikan Jokowi di tahun 2014 mungkin saja efektif karena posisinya saat itu sebagai oposisi. Namun, saat ini posisi PDIP adalah partai penguasa. Seharusnya siapa calon yang bakal diusung oleh PDIP tentu tidak terlalu masalah, karena PDIP punya infrastruktur politiknya," tutur direktur eksekutif Aljabar Strategic ini. 

Sayangnya, ia melihat munculnya Ganjar di PDIP tidak menjadi kejutan seperti yang terjadi pada Jokowi.

"Sehingga banyak menilai Ganjar meniru pola yang dilakukan oleh Jokowi,” imbuh Arifki. 

Jika Ganjar Pranowo tidak memperoleh restu nyapres dari Megawati, hemat dia, seharusnya mantan anggota DPR itu memaksimalkan posisinya di partai lain, dalam hal ini Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). 

Meski, Ganjar harus bertarung dengan kader-kader anggota koalisi partai KIB yang berencana ingin maju sebagai capres, seperti Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.

Selain itu, ada Ridwan Kamil yang sudah bergabung dengan Partai Golkar, Erick Thohir yang dekat dengan PAN, serta Sandiaga Uno yang juga dikabarkan bakal merapat ke PPP jika tidak diusung oleh Gerindra. 

"Dari berbagai dinamika yang terjadi di partai-partai KIB, Ganjar mungkin saja dengan mudah mendapatkan posisi capres, tetapi dinamika cawapres bakal menyulitkan hasilkan kesepakatan," analisnya. 

Dari sisi masa jabatan, Arifki mengingatkan, Ganjar sudah dua periode menjabat gubernur. Pilihan maju sebagai capres atau cawapres tentu logis. 

Ia menilai popularitas Ganjar jadi sia-sia jika ambisi politiknya di tahun 2024 hanya sekadar menjadi menteri. 

"Jika kesempatan di tahun 2024 tidak diambilnya, pada tahun 2029 tidak hanya cahaya dari PDIP yang bakal semakin redup untuk Ganjar, tetapi juga penilaian dari publik. Pilihan Ganjar yang tersisa cuma mengharapkan tiket dari KIB jika ingin tetap maju sebagai capres,” tutup Arifki.  

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Suara.com dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.

Load More