Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil telah resmi bergabung ke Partai Golkar. Ia pun dinilai harus pandai-pandai beradaptasi di partai berlambang pohon beringin tersebut.
Hal ini lantaran kerasnya perkubuan dan faksionalisme kepentingan di internal Golkar.
Jika tidak berhasil beradaptasi, maka nasibnya bisa seperti Tuan Guru Bajang (TGB) yang tidak terpakai dan terbuang dari arus utama politik Golkar.
Hal itu disampaikan dosen Ilmu Politik dan Studi Internasional Universitas Paramadina A. Khoirul Umam.
"Ridwan Kamil harus pandai beradaptasi untuk mendayung di antara berbagai karang. Jika ia berhasil, maka Ridwan Kamil bisa mengapitalisasi posisinya di Golkar untuk agenda politik besar selanjutnya," kata Khoirul Umam dalam keterangan tertulis, Kamis (19/1/2023),
Tantangan lainnya, kata dia, sejumlah partai politik merasa dikecewakan oleh 'oportunisme' Ridwan Kamil yang dianggap begitu mudah meninggalkan mereka yang pernah berjuang untuknya.
Setidaknya, Umam menilai Gerindra, PKS, dan NasDem adalah tiga partai besar yang pernah merasa 'tertipu' oleh manuver Ridwan Kamil. Khususnya terkait Pilkada Bandung dan Jawa Barat.
Terakhir, kata dia, yang paling vulgar adalah NasDem, di mana dalam pidato Surya Paloh disebutkan ada gubernur yang didukung penuh tapi begitu mudah melupakan dan meninggalkannya.
Statemen itu besar kemungkinan diarahkan salah satunya kepada Ridwan Kamil.
Baca Juga: Gerinda, PKS dan NasDem Pernah Merasa Tertipu oleh Ridwan Kamil, Akademi Ingatkan Hal Ini
"Catatan politik ketiga partai itu kemungkinan akan menjadi ganjalan serius bagi manuver Ridwan Kamil ke depan," katanya.
Umam mengatakan sosok Ridwan Kamil bisa saja berdampak positif terhadap perbaikan elektabilitas Golkar. Namun sifatnya relatif hanya lokal di wilayah Jawa Barat dan Banten.
"Kehadiran Ridwan Kamil di Partai Golkar akan berdampak positif terhadap perbaikan elektabilitas Golkar, tapi relatif terlokalisir di wilayah Jawa Barat, Banten, dan sekitarnya saja," kata dia.
Ridwan Kamil, katanya, tidak secara otomatis menjadi ikon Golkar di tingkat nasional karena sudah cukup banyak kekuatan besar dan para penghuni lama yang tinggal di dalamnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
Terkini
-
3 Rekomendasi Makanan Pembuka Buka Puasa Agar Tubuh Tak Syok
-
Terungkap: AS Siapkan Strategi Perang Jangka Panjang di Iran, Beda dari Venezuela
-
Dari Era 800-an, Ratusan Golok Dipamerkan di Bogor Menuju Warisan Dunia UNESCO
-
Polisi Bongkar Penyelundupan Ganja 15,5 Kg dari Jakarta Hingga Pamulang
-
Cukup Ganti Lantai, Rumah Langsung Terlihat Baru Jelang Ramadan dan Idulfitri
-
Kasus Pengoplosan Elpiji 3 Kilogram di Bangka Terungkap, Bagaimana Pengawasan Distribusinya?
-
Meriah! Warga Cipadung Sukaresmi Gelar Turnamen Bulutangkis Gendongan Unik
-
CEK FAKTA: Purbaya Laporkan Puan Terkait Korupsi Uang Ratusan Triliun, Benarkah?
-
Nasib Buruh Perempuan hingga Korban MBG Jadi Sorotan Tajam API
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama