/
Selasa, 18 Juli 2023 | 06:03 WIB
Ketua Umum LPOI yang juga mantan Ketum PBNU, KH Said Aqil Siradj. ([Suara.com/Oke Atmaja])

KH Saiq Aqil Siradj menilai kontroversi Ponpes Al Zaytun tidak bisa dilihat semata ebagai lembaga pendidiki murni seperti pada umumnya. Tapi harus diteliti lebih dalam.

Bahwa proses indoktrinasinya, tutur Said, patut dicurigai sebagai fenomena proses ideologisasi, kaderisasi, dan gerakan anti-Pancasila dan/atau anti-NKRI.

Pernyataan tersebut berdasarkan pada banyaknya kesaksian tentang adanya "sekolah dalam sekolah", "kaderisasi dalam kaderisasi".

Bahkan layak dicurigai bahwa ekosistem, tata laksana, dan organ gerakan yang mereka ciptakan mengarah pada pembentukan "negara dalam negara".

"Jangan terkecoh oleh bungkus rapi pembelajaran berbasis pendidikan formal dengan kurikulum terstandar pemerintah dan pembelajaran agama yang ditanamkan karena bukan tidak mungkin itu hanya sebagai kamuflase belaka," ucapnya.

"Negara tidak boleh kalah dengan sindikasi Al Zaytun," mantan Ketua Umum PBNU ini menegaskan.

Said Aqil yang kini menjabat Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) menilai Ponpes Al Zaytun dapat melahirkan gerakan yang radikal, ekstrem, dan intoleran.

"Al Zaytun harus ditelisik sebagai komunitas dan ekosistem tertutup dan eksklusif yang memiliki tata cara hidup dan kehidupan yang terpisah dengan masyarakat pada umumnya," ucapnya.

Sehingga, tuturnya, bukan tidak mungkin dengan ketertutupan melahirkan banyak kamuflase, dan eksklusivitas menggerakkan tata nilai yang radikal, ekstrem, dan intoleran.

Baca Juga: Lucky Hakim Dibuat Takjub Tajirnya Ponpes Al Zaytun: Bisa Triliunan Uangnya

"Yang pada saatnya bukan tidak mungkin menjadi embrio gerakan anti-NKRI, apalagi bila dilihat dari background dan behaviour pimpinan pesantren yang memiliki latar belakang NII (Negara Islam Indonesia) dan beberapa fakta gerakan, jejaring, dan alumninya," ucapnya.

Untuk itu, ia mendesak pemerintah bertindak tegas melakukan penyelidikan komprehensif dan melakukan penyidikan atas kasus yang ada.

Serta membuka fenomena Al Zaytun ini seterang-terangnya kepada masyarakat.

"Negara harus segera mengambil alih Al Zyatun, membenahi dan me-reinstall sistem pendidikan Al Zaytun agar tidak bertentangan dengan cita-cita NKRI dan menjaga secara ketat agar tidak menjadi tempat bersemainya benih-benih NII," ucap Said Aqil.

Load More