Suara.com - Ambrolnya jembatan gantung di Sungai Ciberang mengingatkan adanya kelalaian dalam perawatannya. Sebagian kabel tembaga yang masih menggantung nampak berkarat disertai bantalan kayu lapuk dimakan waktu.
Suherman, perwakilan warga Desa Tambak mengatakan tidak ingin menyalahkan siapapun atas ambrolnya jembatan. Menurut dia, warga sudah berupaya merawat sarana penghubung dua desa dan dua kecamatan itu secara swadaya. Maklum, pemerintah daerah Kabupaten Lebak tidak pernah memprioritaskan dananya untuk pembangunan ataupun perawatan jembatan gantung dekat Desa Pajagan dan Desa Tambak itu.
"Di Tambak ada empat jembatan seperti ini dengan dua sudah direnovasi. Tapi yang di sini selalu tidak kebagian dana renovasi," kata Suherman saat ditemui di tepi Sungai Ciberang.
Menurut dia, Pemda tidak pernah memprioritaskan jembatan gantung Pajagan-Tambak itu karena kawasan itu akan menjadi daerah rendaman Waduk Karian.
Hal itu dibenarkan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya yang mengatakan pembangunan jembatan penghubung Pajagan-Tambak hanya akan menjadi pemborosan anggaran karena dalam waktu dekat akan ditenggelamkan karena masuk dalam area pembebasan lahan untuk waduk. Iti mengatakan Kabupaten Lebak memiliki 960 unit jembatan gantung dengan 360 di antaranya rusak.
"Kalau nanti Waduk Karian dibangun, maka akan sia-sia kami alokasikan Rp4 miliar untuk jembatan ini. Sedangkan ada jembatan yang lebih parah daripada ini," kata Iti.
Iti mengaku mengalami dilema terkait jembatan yaitu kecilnya anggaran dari pemerintah pusat dan juga adanya rencana mega proyek Waduk Karian yang belum kunjung terealisasi meski dicanangkan pada 1985.
Suherman tak sependapat dengan pernyataan Bupati Lebak terkait dikesampingkannya renovasi jembatan di desanya itu karena jembatan masuk area rendaman waduk.
Dia sempat memprotes Iti secara langsung saat keduanya bertatap muka dalam rangkaian kunjungan Menteri Pendidikan Anies Baswedan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Mochamad Basuki Hadimuljono dan sejumlah pemangku kepentingan. Perwakilan Desa Tambak itu termasuk orang yang pesimistis terhadap realisasi waduk karena sejak pertengahan 1980-an hingga kini mega proyek itu belum menunjukkan petanda sedikitpun dari pembangunan.
"Katanya pembangunan waduk itu lima sampai sepuluh tahun. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda pembangunannya. Saya tidak yakin dengan realisasi pembangunan waduk. Maka tolong jembatan ini segera direnovasi karena warga sangat membutuhkannya," kata dia.
Setidaknya dua orang itu memiliki keinginan yang sama yaitu didirikannya kembali jembatan yang menjadi tumpuan warga dua desa untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Suherman mengatakan di Desa Tambak terdapat sekitar 500 Kepala Keluarga (KK), sedangkan Desa Pajagan terdapat sekitar 300 KK. Sebagian besar tergantung oleh akses jembatan yang kini ambrol. Sedikit banyak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) cukup membantu aktivitas warga untuk menyeberang sungai dengan bantuan perahu karetnya.
Kendati demikian, bukan berarti masyarakat tidak mendapati tantangan kala harus menyeberang Sungai Ciberang. Perahu karet memiliki kapasitas 12 orang sekali angkut. Artinya, warga menemui lebih banyak kesulitan jika dibandingkan masa sebelum jembatan ambrol. Jika memilih tidak menyeberang di dekat jembatan ambrol itu, warga harus menempuh jalan memutar sejauh tujuh kilometer.
Sementara bagi para pengendara sepeda motor tentu akan kesulitan menyeberang karena perahu karet tidak memiliki kemampuan menyeberangkan kendaraan bermotor yang beratnya lebih dari 100 kilogram itu. Kontur tanah juga tidak memungkinkan untuk memindahkan motor dari pinggir sungai ke perahu.
Hal itu merupakan dampak dari jembatan ambrol yang tidak diantisipasi pencegahannya. Suherman menekankan warga desa tidak mengeluh dengan musibah itu justru tetap optimistis dan mengambil hikmah dari ambrolnya jembatan.
"Kita ambil hikmahnya saja. Jembatan putus ini mengingatkan kita bahwa ada yang perlu dirawat dan jangan tunggu hingga ambruk serta memakan korban. Kami juga menunjukkan diri sebagai warga yang tidak pernah mengeluh meski tidak mendapat alokasi renovasi jembatan di masa dulu, kami memperbaikinya secara swadaya sampai jembatan ambruk kemarin," kata dia.
Suherman mengaku tidak meminta banyak hal tapi satu yaitu renovasi jembatan yang menjadi tumpuan warga dua desa ini. (Antara)
Berita Terkait
-
Silsilah Keluarga Hasbi Jayabaya, Penerus 'Dinasti' Bupati Lebak Sindir Masa Lalu Wakilnya Eks Napi
-
Heboh! 5 Fakta Wabup Lebak Ngamuk Disebut Mantan Napi oleh Bupati
-
6 Fakta Amuk Bupati Lebak di Hari Kemerdekaan yang Bikin Kades Panas Dingin
-
Viral Amuk Bupati Lebak: Jalan Desa Hancur, Kadesnya Pakai Pajero
-
Ambruk saat Pengecoran, Jembatan Rp771 Juta di Makassar Belum Sempat Dipakai!
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Henri Subiakto Sebut Pasal yang Menjerat Roy Suryo Tak Masuk Akal, Status P21 Dipertanyakan
-
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Segera Ditandatangani, Teheran Beri Sinyal Berbeda
-
Apa Itu Restitusi? Wamen PPPA Tegaskan Korban Bullying Berhak Dapat Ganti Rugi
-
Bangun Spiritualitas Warga Jawa Barat, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan
-
Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet
-
Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan
-
Sopir Truk Transfer Uang Setelah Dikepung Anak Jalanan di Pesanggrahan, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
'Bikin Malu Presiden', Gus Lilur Desak Prabowo Copot Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama
-
Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Diuntit Alat Pelacak, Netizen Malah Soroti Mobil Fortuner Mewah
-
Isu Setoran 'Upeti' Program MBG, Ketua BGN: Tidak Benar dan Provokatif