Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di Pintu Air Karet, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu,(21/2). [suara.com/Kurniawan Mas'ud]
Sekelompok warga yang mengatasnamakan Masyarakat Cabut Mandat Gubernur DKI Jakarta melakukan aksi untuk memprotes kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama Basuki (Ahok) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (29/3/2015).
Menurut pengamatan suara.com, dalam aksi, mereka membawa spanduk dan poster bertuliskan "Say No To Ahok" dan "Mulut Ahok Bau Toilet." Mereka juga menggalang tanda tangan untuk dukungan mencabut cabut mandat Ahok.
Koordinator ormas yang mengatasnamakan Jaringan Pemuda Penggerak, Gea Hermansyah, mengatakan aksi ini sebagai wujud kekecewaan atas tutur kata Ahok di ruang publik yang menurut mereka kelewat kasar. Misalnya, beberapa waktu lalu di salah satu televisi swasta, Ahok menyebut bahasa "toilet" berkali-kali ketika disinggung soal tudingan hendak mencoba menyuap pimpinan DPRD.
"Kami meminta agar Ahok menjaga perkataannya di publik. Menurut kami tidak mau punya pemimpin yang berkata kotor, seperti dia bilang tai, anjing dan lainnya," kata Gea.
Menurut Gea perilaku Ahok juga bisa berdampak negatif terhadap anak-anak. Sebab, kata dia, hal itu bisa saja ditiru.
"Kata-kata kotor Ahok di TV itu merusak anak-anak kami," katanya.
Atas perilaku negatif Ahok selama ini, Gea jadi ragu dengan hasil tes kesehatan dan psikologi yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah DKI Jakarta dua tahun lalu. Itu sebabnya, ia minta KPUD membuka hasil tes terhadap Ahok.
"Setiap pemimpin, pejabat kan harus psikologi. Jangan-jangan tes psikologi Akok bermasalah. Kami meminta KPU DKI agar menunjukkan hasil tes kesehatan, psikologi Ahok kepada publik," katanya.
Tapi, Gea mengakui bahwa warga Jakarta membutuhkan seorang pemimpin yang jujur dan tegas.
"Ucapan Ahok sering memprovokasi masyarakat, apalagi yang anti Ahok. Betul kami butuh pemimpin yang jujur, berani. Tetapi juga harus santun, bermoral dan bukan pemimpin yang bar-bar," katanya.
Jumat (20/3/2015), Ahok sudah meminta maaf kepada kalangan yang tersinggung oleh perkataan kasarnya di media massa.
Bahasa toilet terlontar beberapa kali ketika menanggapi pertanyaan penyiar TV mengenai tuduhan yang mengatakan Ahok mencoba menyuap Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi senilai Rp12,7 triliun.
"Kalau orang yang merasa tersinggung, atau merasa tidak suka perkataan saya membawa 'bahasa toilet', ya saya minta maaf," kata Basuki di Balai Kota.
Walau meminta maaf, Ahok mengaku tak menyesali pernyataannya. Ia mengaku sudah pusing dengan situasi yang ada.
"Oknum pejabat nyolong uang gila-gilaan dan dengan santun pakai gaya bahasa agama, kamu muak enggak kira-kira? Nah, itu ungkapan perasaan saya yang sudah enggak tahan," ujar Ahok.
Menurut pengamatan suara.com, dalam aksi, mereka membawa spanduk dan poster bertuliskan "Say No To Ahok" dan "Mulut Ahok Bau Toilet." Mereka juga menggalang tanda tangan untuk dukungan mencabut cabut mandat Ahok.
Koordinator ormas yang mengatasnamakan Jaringan Pemuda Penggerak, Gea Hermansyah, mengatakan aksi ini sebagai wujud kekecewaan atas tutur kata Ahok di ruang publik yang menurut mereka kelewat kasar. Misalnya, beberapa waktu lalu di salah satu televisi swasta, Ahok menyebut bahasa "toilet" berkali-kali ketika disinggung soal tudingan hendak mencoba menyuap pimpinan DPRD.
"Kami meminta agar Ahok menjaga perkataannya di publik. Menurut kami tidak mau punya pemimpin yang berkata kotor, seperti dia bilang tai, anjing dan lainnya," kata Gea.
Menurut Gea perilaku Ahok juga bisa berdampak negatif terhadap anak-anak. Sebab, kata dia, hal itu bisa saja ditiru.
"Kata-kata kotor Ahok di TV itu merusak anak-anak kami," katanya.
Atas perilaku negatif Ahok selama ini, Gea jadi ragu dengan hasil tes kesehatan dan psikologi yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah DKI Jakarta dua tahun lalu. Itu sebabnya, ia minta KPUD membuka hasil tes terhadap Ahok.
"Setiap pemimpin, pejabat kan harus psikologi. Jangan-jangan tes psikologi Akok bermasalah. Kami meminta KPU DKI agar menunjukkan hasil tes kesehatan, psikologi Ahok kepada publik," katanya.
Tapi, Gea mengakui bahwa warga Jakarta membutuhkan seorang pemimpin yang jujur dan tegas.
"Ucapan Ahok sering memprovokasi masyarakat, apalagi yang anti Ahok. Betul kami butuh pemimpin yang jujur, berani. Tetapi juga harus santun, bermoral dan bukan pemimpin yang bar-bar," katanya.
Jumat (20/3/2015), Ahok sudah meminta maaf kepada kalangan yang tersinggung oleh perkataan kasarnya di media massa.
Bahasa toilet terlontar beberapa kali ketika menanggapi pertanyaan penyiar TV mengenai tuduhan yang mengatakan Ahok mencoba menyuap Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi senilai Rp12,7 triliun.
"Kalau orang yang merasa tersinggung, atau merasa tidak suka perkataan saya membawa 'bahasa toilet', ya saya minta maaf," kata Basuki di Balai Kota.
Walau meminta maaf, Ahok mengaku tak menyesali pernyataannya. Ia mengaku sudah pusing dengan situasi yang ada.
"Oknum pejabat nyolong uang gila-gilaan dan dengan santun pakai gaya bahasa agama, kamu muak enggak kira-kira? Nah, itu ungkapan perasaan saya yang sudah enggak tahan," ujar Ahok.
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet
-
Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan
-
Sopir Truk Transfer Uang Setelah Dikepung Anak Jalanan di Pesanggrahan, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
'Bikin Malu Presiden', Gus Lilur Desak Prabowo Copot Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama
-
Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Diuntit Alat Pelacak, Netizen Malah Soroti Mobil Fortuner Mewah
-
Isu Setoran 'Upeti' Program MBG, Ketua BGN: Tidak Benar dan Provokatif
-
Niat Cari Cuan di Kapal Cumi, Pemuda Garut Malah Kena 'Zonk' Loker Medsos, HP Sampai Disita
-
IDAI Minta Anak di Bawah 2 Tahun Bebas dari Gawai, Cegah Speech Delay hingga Virtual Autism
-
Haris Rusly Moti: Anomali Gerakan Sosial Saat Ini Justru Anti-Rakyat dan Adopsi Narasi Neoliberal
-
Wali Kota San Miguel Amatitlan Tewas Ditembak di Rumahnya Sendiri