News / Nasional
Sabtu, 06 Juni 2015 | 15:24 WIB
Sejumlah WNI yang selamat dari gempa Nepal tiba di Lanud Halim Perdana Kusuma. [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Suara.com - Guru Besar Universitas Pertahanan, Institut Peradaban, Salim Said kembali mengkritik soal pemakaian Bandara Halim Perdana Kusuma untuk pesawat sipil. Menurutnya itu mengganggu aktivitas penerbangan militer.

Kata Salim, Lanud Halim PK merupakan lapangan terbang militer. Di sana harus dijadikan pusat pangkalan militer untuk aktivitas penjagaan kedaulatan negara.

"Sekarang Halim dipakai untuk penerbangan sipil padahal lapangan terbang Militer Indonesia dalam menjaga keutuhan Indonesia. Itu menggangu kegiatan," kata Salim saat ditemui di kawasan Menteng Jakarta Pusat, Sabtu (6/6/2015).

Dia pernah mengingatkan pemerintah untuk tidak menggunakan Lanud Halim sebagai penerbangan sipil. "Halim tidak boleh diganggu gugat oleh penerbangan sipil. Karena Halim merupakan pangkalan utama Angkatan Udara melaksanakan tugas dan mempertahankan kedaulatan wilayah RI," kata Salim.

Menurutnya, pemerintah lebih memprioritaskan Halim untuk dijadikan penerbang sipil ketimbang menjadikannya sebagai pangkalan utama TNI Angkatan Udara (AU). Dia juga mengkritik pemerintah yang dianggap gagal mengelola penerbangan sipil.

"Permasalahannya Pemerintah kita terlambat mengantisipasi perkembangan penerbangan komersial. Anda tahu Bandara Cengkareng (Soekarno Hatta) terlalu padat. Kalau mau take off harus menunggu setengah jam. Itu tidak diantisipasi sehingga kelabakan dan dipindahkan ke Halim, padahal Halim untuk alutsista," katanya

"Jadi Pemerintah harus memikirkan pembangunan bandara komersial di luar Halim," kata Salim.

Load More