Suara.com - 'The Storm Makers', sebuah film dokumenter yang berceria soal perdagangan manusia untuk tujuan seks dari Kamboja membukan sebuah realitas tentang kerentanan perbudakan di Kamboja. Film itu digarap Guillaume Suon, sutradara keturunan Prancis-Kamboja.
'The Storm Makers' menampilka, anak perempuan bernama Aya yang berasal dari sebuah desa di Kamboja. Dia dijual menjadi budak seks saat berusia 16 tahun. Film 'The Storm Makers' digarap selama 3 tahun dan mengumpulkan cerita Aya yang kini sudah terlepas dari perbudakan.
Saat ini Aya sudah berusia 20 tahun. Dia sudah kembali ke Provinsi Battambang di barat laut Kamboja. Dia diperdagangkan ke Malaysia sebagai pekerja rumah tangga.
Aya bekerja kepada majikan yang kasar dan suka menyiksa. Bahkan dia diperkosa tiap malam dan menjadi hamil. Aya pun lari.
"Seharusnya aku mati di sana," kata Aya.
Pelaku perdagangan manusia mengaku menjual lebih dari 500 anak perempuan Kamboja yang berusia 14 tahun. Aksi itu bersih dari mata polisi.
"Cerita Aya adalah contoh kuat yang menunjukkan semua alasan mengapa Kamboja menjadi salah satu negara korban perdagangan manusia," Suon seperti dilansir Reuters, Senin (31/8/2015).
Hampir 20 persen warga Kamboja hidup di bawah garis kemiskinan. Bahkan negara tidak memiliki jaringan kesejahteraan sosial untuk melindungi keluarga miskin.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat tahun 2015 ini melaporkan jika Kamboja menjadii sumber perdagangan manusia. Bahkan negara itu disebut sebagai kawasan transit dan sasaran untuk memperkerjakan perempuan dan anak-anak untuk bekerja sebagai pekerja seks komersial.
Sebagai negara yang miskin, penduduk di pedesaan lebih tergiur untuk bekerja di Thailand, Malaysia, Taiwan dan Timur Tengah. Sayangnya itu dilakukan dengan ilegal. Bahkan nilai hasil penjualan manusia untuk seks itu mencapai 150 miliar dolar AS.
"Hampir semua orang tahu seseorang yang telah bekerja di luar negeri itu mudah untuk menemukan korban trafficking dan para pedagang, yang beroperasi secara bebas dan dengan impunitas," tutup Suon. (Reuters)
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Terkait Reformasi Polri, Boni Hargens Apresiasi Komitmen Kapolri Listyo Sigit
-
Banyak Kasus Terlambat Ditangani, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Paru
-
Terbongkar! WNA China Sulap Apartemen Jakarta Jadi Pabrik Vape Narkoba Etomidate
-
Alih Fungsi Kali Ciputat dan Kelalaian Proyek Jadi Biang Kerok Banjir di Taman Mangu Indah?
-
Hakim Militer Minta Ahli Kimia Uji Campuran Air Keras dalam Kasus Andrie Yunus
-
Ade Armando Pamit dari PSI: Tameng untuk Jokowi atau Sekadar Strategi 'Cuci Tangan' Politik?
-
Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos
-
Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!
-
Kata Pengamat Soal Rupiah Melemah: Jangan Panik, Tak Bakal Ganggu Daya Beli
-
Kemensos Siapkan Skema Transisi Dapur Mandiri Siswa Sekolah Rakyat