Suara.com - Padepokan Lemah Putih Kampung Bonorejo, Desa Plesungan, Karanganyar, Jawa Tengah, mendapatkan penghargaan kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Penghargaan diberikan pada 3 Juni 2015 karena Padepokan Lemah Putih merupakan salah satu komunitas budaya yang dapat memberikan penafsiran baru dalam pembebasan tubuh dalam gerak hayati.
Dirintis sejak Tahun 1986 oleh Soeprapto Soerjodarmo di Solo, kini padepokan meluas menjadi komunitas global melalui penyelenggaraan berbagai pertemuan (pasamuan) multikultur.
Selain itu, Padepokan Lemah Putih juga telah menjadi wadah berbagai lintas kesenian dan telah menjadi ruang terbuka untuk ajang kolaborasi karya, pelatihan, pameran, dan pertunjukan seni.
Sejumlah program tetap diselenggarakan di sini, seperti lir-ilir, macaning, performance art laboratory peoject, undisclosed territory, dan performance art event.
"Saya memberi nama Padepokan Lemah Putih karena menghargai istri. Istri saya bernama Siti, itu tanah," kata Soeprapto kepada Suara.com di Solo, Selasa (8/9/2015).
Program kegiatan diarahkan pada merayakan kesenian-kesenian etnik di dalam perjalanan waktu atau celebration ethnic art in time.
Di sini etnik tidak diletakkan pada masa lalu, tapi justru diarahkan ke masa depan, dijadikan satu tumpuan dari sebuah proses memajukan kemanusiaan.
"Saya mencoba mengangkat itu (kesenian-kesenian etnik di dalam perjalanan waktu) dengan banyak kegiatan yang dinamai dengan seni srawung atau saling berbagi," katanya.
Dia menjelaskan srawung dapat diartikan sebagai "berbagi pengalaman." Di sini para seniman pendukung tidak dilihat hanya sebagai profesional, tetapi nilai-nilai kemanusiaan mereka.
Berbagai pengalaman inilah yang giat dilakukan oleh Padepokan Lemah Putih, seperti srawung pasar dan srawung candi. Dalam kegiatan ini diikuti berbagai seniman dari dalam dan luar negeri.
"Srawung pasar artinya kita menggelar pertunjukan seni di pasar. Pesannya adalah pasar punyai nilai tradisi. Di pasar tradisi ini dimaknai sebagai manusia, bukan hanya pembeli barang. Bukan hanya sebagai uang. Pasar tradisi akan hilang kumandangnya. Pasar tradisi akan runtuh," ungkap dia. (Labib Zamani)
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Dahaga Menahun Berakhir, 295 Rumah di Semanan Kini Nikmati Air Bersih dari Waduk Aseni
-
Angka Putus Sekolah Tinggi, Pramono Buka Opsi Tambah Sekolah Gratis
-
Baleg DPR Dukung UU Pembatasan Uang Tunai, Dinilai Ampuh Tekan Politik Uang
-
Donald Trump Lanjut Blokade Selat Hormuz: Iran Tercekik Seperti Babi yang Dipanggang
-
Gus Ipul Bongkar Sosok Nurhayati, Aktivis Muslimat NU yang Gugur dalam Kecelakaan KRL
-
Donald Trump Minta Israel Jangan Asal Bom Lebanon, Serangan Harus Tepat Sasaran
-
Apresiasi Praja IPDN, Wamendagri Bima: Latih Kepemimpinan Atasi Dinamika Pemerintahan
-
Kebakaran Apartemen Mediterania Diduga karena Korsleting Listrik, 5 Penghuni Dievakuasi ke RS
-
Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC, Apa Plus Minusnya?
-
DPRD DKI: Jakarta Mimpi Jadi Kota Global Tapi Anak Putus Sekolah Masih Banyak