Suara.com - Mahasiswa IPB pelopori gerakan pengurangan kantong plastik ke sejumlah negara ASEAN melalui program ASEAN Reusable Bag campaign. Dia mengkampanyekan penggunaan tas pakai ulang (reusable).
"ASEAN Reusable bag campaign (ASEAN RBC) merupakan sebuah gerakan peduli lingkungan yang berkonsentrasi terhadap pengurangan penggunaan kantong plastik di negara ASEAN," kata Ranitya Nurlita mahasiswa Studi Manajemen Sumber Daya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, di Bogor, Selasa (6/10/2015).
Ranitya mengatakan gerakan ASEAN RBC diinisiasi oleh Young Southeast Asian Leaders Initative (YSEALI) yang dilaksanakan di tiga negara yakni Indonesia, Malaysia dan Filipina selama satu tahun ke depan.
Menurut Ranitya dipilihnya negara ASEAN dalam kampanye penggunaan tas belanja pakai ulang karena ASEAN termasuk negara penyumbang plastik terbesar di dunia di banding negara maju.
"Negara di ASEAN termasuk negara penyumbang sampah plastik terbesar, dan paling banyak membuang sampah plastik ke laut," katanya.
Sebagai negara berkembang, kebiasaan masyarkaat di negara ASEAN masih tradisional menggunakan kantong plastik untuk berbelanja. Berbeda dengan negara maju yang sudah menggunakan reusable bag.
"Seperti di Amerika masyarakatnya jarang menggunakan kantong plastik. Karena untuk menggunakannya mereka harus bayar sebesar 25 sen USD," katanya.
Produksi sampah plastik negara di ASEAN pada tahun 2000 sebesar 56 miliar ton. Thailand menjadi negara pertama penyumbang sampah plastik terbesar yakni 33 persen, disusul Indonesia sebesar 24 persen, Malaysia diperingkat ketiga sebesar 17 persen dan Filiphina diperingkat empat sebesar 10 persen dan Singapura 3 persen. Pada tahun 2015 Indonesia menjadi negara nomor dua di Asia memproduksi sampah plastik terbanyak setelah Tiongkok.
"Negara di Asia Tenggara menjadi penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, ada Indonesia, Malaysia, Vietnam dan Filiphina," katanya.
Padahal penggunaan sampah plastik tidak ramah lingkungan karena membutuhkan 200 tahun untuk mengurai plastik tersebut di tanah. Beberapa dampak negatif dari penggunaan sampah plastik yakni menyebabkan banjir karena tertutupnya reservoar (daerah resapan air), penyebab karsinogenik (pemicu kanker), mengurai ratusan satu di bumi.
"Produksi plastik boros energi, untuk memproduksi plastik menghabiskan 12 juta barel dari minyak bumi, menghabiskan 14 juta pohon per tahunnya," kata dia.
Tidak hanya itu, sampah plastik yang dibuang ke laut juga merusak ekosistem perairan, banyak kasus biota laut terkontaminasi sampah plastik, ada hewan yang terjerat plastik.
Menurut Ranitya, penggunaan tas pakai ulang lebih ramah lingkungan dibanding bioplastik yang mulai banyak diproduksi dan dipasarkan. Karena bioplastik juga tidak terurai sempurna di bumi. Bioplastik dibuat dari campuran pati yang hanya 5 persen, sisanya plastik semua.
"Tas pakai ulang salah satu solusi yang bisa digunakan untuk upaya pengurangan kantong plastik. Energi yang dibutuhkan untuk pembuatan tas ini lebih sedikit dibanding kantong plastik serta bisa dipakai ulang dalam jangka waktu yang lama," katanya.
Ranitya mengatakan, ASEAN RBC memiliki rangkaian acara untuk mengajak masyarakat menggunakan tas belanja pakai ulang (reusable bag) diantaranya ASEAN RBC goes to Road, ASEAN goes to campus, ASEAN RBC goes to school, belanja dengan tas pakai ulang, kompetisi merancang tas pakai ulang, dan edukasi penggunaan tas pakau ulang ASEAN Reusable bag, serta Forum and expo 2015.
"Yang unik saat melakukan ASEAN RBC goes to road, kami melakukan di sejumlah negara dengan cara merampok kantong platik milik masyarakat di jalan dan diganti dengan tas pakai ulang," katanya.
Ranitya menambahkan, kampanye penggunaan tas pakai ulang untuk mengurangi sampah kantong plastik telah dilaksanakan sejak tujuh bulan lalu. Harapannya, program tersebut dapat diterima masyarakat yang akhirnya menerpakan gaya hidup ramah lingkungan. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Singapura Diguncang Gelombang Protes Rakyatnya, Buntut Rencana Penggundulan Hutan untuk Perumahan
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Muktamar ke-35 NU Diwarnai Aksi Protes, Gus Yahya: Saya Mohon
-
Presiden Prabowo Tutup Muktamar NU Ke-35 di Jombang, Senin Besok
-
Gus Ipul Pastikan Forum Muktamar NU Ke-35 Bebas Ubah Keputusan Organisasi
-
Review Film The Last Sunrise: Makna Kehidupan di Balik Senyum dan Air Mata
-
Jepang Kirim Pasukan Bela Diri Bantu Meredam Kebakaran Hutan Kalimantan
-
3 Lip Balm Rp30 Ribuan yang Bagus Atasi Bibir Kering Menurut Review Pengguna
-
Persib Bandung Resmi Melepas Dion Markx ke Persita Tangerang demi Menit Bermain
-
Penyekatan Demonstrasi dan Nyawa Warga: Pejompongan Jangan Jadi 'Zona Berbahaya'
-
Sekolah Terdampak Gempa NTT Mulai Belajar Besok, Metode Disesuaikan Kondisi
-
Dorong UMKM Naik Kelas, BRI Pertajam Ekosistem Klaster Usaha di Merauke