Suara.com - Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta sampai saat ini masih menunggu hasil penyelidikan polisi mengenai penyebab dua karyawan PT. Transportasi Jakarta, Niko Adeli (23) dan Siti Nurhayati (23) meninggal dunia di dekat tangga penyeberangan busway, Jalan Mangga Dua Raya, Jakarta Pusat, Rabu (30/12/2015) pukul 02.00 WIB. Sebelumnya, polisi meyakini sepasang kekasih itu meninggal karena kesetrum listrik saat melewati genangan air dekat kabel listrik.
"Kita tidak bisa mengatakan itu (salah PLN), tapi inilah kenyataannya. Kita tunggu saja identifikasi dari kepolisian, mudah-mudahan semua bisa jelas dan terang," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Energi Yuli Hartono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (4/1/2015).
Menurut Hartono di Jakarta, kabel listrik yang sudah terkelupas, tak hanya ada di tempat kejadian Niko dan Siti meninggal.
Ketika ditanya mana saja kabel listrik yang terkelupas, Hartono belum tahu pasti. Ia menyarankan kepada masyarakat untuk menghindari titik-titik tertentu saat turun hujan.
"Aku lagi cari ada beberapa (titik yang rawan). Jangan main setrum, jangan lewat JPO, jangan lewat jalan," katanya.
Agar kasus tak terulang, Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memerintahkan Dinas Perindustrian dan Energi DKI untuk segera memetakan dan merapikan kabel listrik yang terkelupas agar tidak mengancam keselamatan warga.
"Diminta Pak Gubernur kasih waktu dua minggu sampai sebulan untuk mapping. Kemudian kita minta koordinasi dengan PLN merapikan semuanya," kata Hartono.
Hanya saja, Hartono tak tahu kapan proses merapikan kabel-kabel itu rampung.
"Ya nggak tahu, entar dulu. Kayak malaikat saja. Ya secepatnyalah maunya kita," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
Sidang Vonis Laras Faizati Digelar Hari Ini, Harapan Bebas Menguat Jelang Ulang Tahun Ke-27
-
Pascabanjir Sumatra, Penanganan Beralih ke Pemulihan Layanan Kesehatan dan Kebutuhan Dasar
-
Indonesia Tancap Gas Jadi Pusat Halal Dunia lewat D-8 Halal Expo Indonesia 2026
-
Literasi Halal Dinilai Masih Lemah, LPPOM Siapkan Pelajar Jadi Agen Perubahan
-
Jepang Studi Banding Program MBG di Indonesia
-
Kasus Korupsi LPEI Berkembang, Kejati DKI Tetapkan 4 Tersangka Baru dan Sita Aset Rp566 Miliar
-
Merasa Tak Dihargai, Anggota DPR Semprot Menteri KKP: Kami Seperti 'Kucing Kurap'
-
Korban Bencana Boleh Manfaatkan Kayu Hanyut, Kemenhut Juga Stop Penebangan Hutan
-
Politisi PDIP Ingatkan Prabowo: Jangan Buru-buru Bangun IKN, Siapkan Dulu Ekosistemnya
-
Bukan Sekadar Banjir: Auriga Desak KLHK dan KPK Usut Dugaan Korupsi di Balik Perusakan Lahan PT TPL