Suara.com - Tentara Filipina menyatakan satu kepala manusia yang sudah dalam kondisi rusak ditemukan di sebuah pulau terpencil pada Senin, lima jam setelah terlewatinya batas waktu tuntutan uang tebusan yang diberlakukan kelompok militan.
Kelompok itu mengancam akan mengeksekusi salah seorang dari empat sandera.
Tentara belum segera mengonfirmasi apakah kepala itu adalah salah seorang empat orang sandera. Kelompok Abu Sayyaf yang berafiliasi dengan Al Qaida telah menuntut uang tebusan.
Para sandera terdiri atas dua pria asal Kanada, seorang pria Norwegia dan seorang wanita Filipina, yang telah memohon lewat sebuah video kepada para keluarganya dan pemerintah negara-negara itu untuk menjamin pembabasan mereka.
"Kami sangat hat-hati, kami tak dapat menyatakan kepala siapa itu," kata juru bicara tentara Mayor Felimon Tan kepada wartawan, dan menambahkan bahwa pengujian akan dilakukan untuk mengidentifikasi korban tersebut.
Para warga menemukan kepala itu di pusat kota Jolo. Tan mengatakan dua orang pria yang mengendarai sepeda motor terlihat membuang sebuah tas plastik berisi kepala manusia yang sudah rusak.
Menurut dia, para militan Abu Sayyaf telah mengancam akan memancung salah seorang dari empat sandera pada Senin jika tuntutan uang tebusan sebesar 300 juta peso (6,4 juta dolar AS) untuk masing-masing sandera jika tidak dibayar pada pukul 15 waktu setempat.
Tuntutan pertama yang diajukan sebesar satu miliar peso bagi masing-masing sandera tersebut. Mereka diculik dari di sebuah kawasan resor di Pulau Samal pada 21 September.
Tentara menerima informasi intelejen bahwa kelompok militan itu telah melakukan eksekusi di luar kota Patikul di Pulau Jolo, yang dikenal sebagai benteng pemberontak.
"Kami belum tahu siapa yang dieksekusi," ujar Tan.
Kelompok Abu Sayyaf merupakan grup militan kecil tapi bengis karena memancung, menculik, mengebom dan aksi-aksi kejahatan lain di Filipina.
Seorang sandera asal Malaysia dipancung November tahun lalu pada hari yang sama perdana menteri negara itu tiba di Manila untuk menghadiri sebuah konferensi tingkat tinggi internasional. Presiden Filipina Benigno Aquino memerintahkan tentara untuk meningkatkan aksi terhadap para militan.
Kelompok itu juga menahan sejumlah orang asing termasuk satu orang dari Belanda, seorang warga Jepang, empat warga Malaysia dan 14 awak kapal tunda dari Indonesia. (Antara/Reuters)
Tag
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- HP Xiaomi yang Bagus Tipe Apa? Ini 7 Rekomendasinya di 2026
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Saat AS dan Iran Negosiasi, Donald Trump Justru Asyik Nonton UFC di Miami
-
Merusak Tanggul dan Ikan Lokal, Pramono Instruksikan Operasi Pembersihan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta!
-
21 Jam Negosiasi AS - Iran: Persyaratan AS Ditolak, Iran Tak Berharap Deal Sekali Pertemuan
-
Tukang Bajaj Dipalak Preman di Tanah Abang, Pramono Anung: Tidak Ada Kompromi, Ambil Tindakan Tegas
-
Dua Dekade Tebar Maut di Bawah Radar, 'Ki Bedil' Maestro Senpi Ilegal Akhirnya Diciduk Bareskrim!
-
Geger Beda Data Sawit RI-Singapura: Indikasi Manipulasi Ekspor hingga 'Penyunatan' Harga Terkuak!
-
3 Persoalan Masih Jadi Sengketa Amerika Serikat - Iran di Perundingan
-
Diplomasi Nuklir Iran Memanas, Amerika Serikat Memberikan Ultimatum Mau Mengubah Poin Kesepakatan
-
Bahlil Peringatkan Kader Golkar Sulut: Jangan Ada Kubu Sana-Sini Kalau Mau Menang 2029!
-
Blokade Selat Hormuz Penghambat Utama Kesepakatan Damai Amerika Serikat dan Iran