Suara.com - Empat jenis burung endemis Sulawesi yang hidup di hutan Kecamatan Paguat hingga Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, termasuk dalam kategori terancam punah.
"Itu berdasarkan data the International Union for Conservation of Nature (IUCN)," kata Junior Ecologist Burung Indonesia Program Gorontalo Pantiati di Gorontalo, Selasa (18/5/2016).
Keempat jenis burung itu meliputi Maleo Senkawor (Macrocephalon maleo) dengan status genting (EN) dan tiga jenis berstatus rentan (VU), yakni Mandar Muka-Biru (Gymnocrex rosenbergi), Kangkareng Sulawesi (Rhabdotorrhinus exarhatus), dan Julang Sulawesi (Rhcticeros cassidix).
Popayato-Paguat sendiri merupakan wilayah kerja Burung Indonesia dengan program Restorasi Ekosistem.
Menurut Pantiati, Julang dan Kangkareng Sulawesi telah dikategorikan rentan sejak tahun 2012 karena penurunan populasi yang cepat.
"Populasi turun merupakan dampak dari kerusakan habitat, kebakaran hutan, perburuan, hingga penambangan emas," ujarnya.
Kedua jenis rangkong tersebut juga terdaftar pada Lampiran II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) serta dilindung dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
"Dua jenis ini masih relatif mudah dijumpai di kelompok hutan Taluditi, Paguyaman dan Dengilo yang berada dalam bentang Hutan Popayato-Paguat," kata Pantiati.
Sebagai pemakan buah, burung-burung ini hidup berkelompok hingga puluhan individu dan hinggap pada pohon sejenis beringin (Ficus spp).
Ia menambahkan, hutan Popayato-Paguat juga menjadi wilayah jelajah penting bagi Maleo. Sebagai anggota Suku Megapoda, burung ini memakan buah yang jatuh ke permukaan tanah. Maleo juga makan beragam jenis biji, kumbang, semut, rayap, dan siput.
"Pantai di Cagar Alam Panua yang terletak di Kabupaten Pohuwato merupakan salah satu area penting untuk peneluran Maleo karena mereka memanfaatkan suhu panas pasir untuk proses inkubasi telur," jelas Pantiati.
Keberadaan jenis-jenis burung tersebut, lanjutnya, menunjukkan bahwa lokasi itu masih memiliki hutan terbaik di Sulawesi yang perlu diselamatkan. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
-
Dua Kapal Tanker Pertamina Masih di Selat Hormuz, Begini Nasib Awaknya
Terkini
-
Bansos Diberikan Sementara, Cak Imin Tegaskan Masyarakat Harus Berdaya Mandiri Agar Naik Kelas
-
Ancaman Iran di Selat Hormuz: Harga Minyak Dunia di Ambang Krisis
-
Todong Pistol Mainan dan Aniaya Sopir Usai Senggolan di Jalan, Anggota TNI AD Diperiksa Denpom!
-
Di Mana Rusia dan China Saat AS-Israel Gempur Iran?
-
Bupati hingga Sekda Terseret, KPK Tetapkan 14 Tersangka Baru di OTT Pekalongan!
-
Suara Rakyat Indonesia Atas Serangan AS-Israel yang Guncang Iran
-
Terhalang Mendung dan Hujan, Warga di TIM Saksikan Gerhana Bulan via Streaming
-
Bukan Keracunan MBG! BGN Ungkap Fakta Medis Kematian Siswa MIN 2 Bengkulu Utara
-
Pramono Anung Obral Hak Penamaan Seluruh Halte di Ibu Kota: Percuma Bagus Kalau Tak Ada Penghasilan
-
Konflik Timur Tengah Picu Efek Domino: Waspada Inflasi Impor hingga ke Pedagang Kecil