Ditanya alasannya memilih menjadi pemulung dibanding pekerjaan lainnya, polisi kelahiran 21 Februari itu mengaku pemulung bukanlah pekerjaan yang merugikan orang lain, bahkan Seladi mengaku tak merasa malu jika harus mengumpulkan sampah dari masyarakat. "Saya memilah barang yang sudah dibuang orang sehingga tidak akan merugikan orang lain," tuturnya.
Memilih pekerjaan sampingan sebagai pemulung dilakoni bapak tiga anak tersebut sejak tahun 2004 silam. Dari hasil memilah sampah, Bripka Seladi bisa mendapatkan penghasilan antara Rp50 ribu hingga Rp75 ribu per hari. "Semakin kita bekerja keras mengumpulkan dan memilah sampah, semakin banyak uang yang dihasilkan, yang penting halal. Bagi saya, uang tidak halal tidak akan membawa berkah," kata pria yang menjadi polisi sejak 1977 ini.
Awalnya, Seladi hanya memulung sampah di kawasan Polres Malang Kota. Namun, saat mulai ada orang lain mengambil sampah di sana, Seladi bergeser ke tempat lain. Ia terus memulung ke sejumlah lokasi di Kota Malang. Akhirnya, ia fokus memulung sampah kereta di Stasiun Kotabaru Malang. Ia menganggap rezeki itu sudah sangat berlimpah, itu pun sudah kewalahan menanganinya. Padahal, ia telah dibantu oleh anak dan dua pekerjanya.
Keterlibatan anak dan keluarganya, bukan karena ingin mempekerjakan anak, tetapi bertujuan untuk mendidik anaknya mengenai makna kerja keras dan nilai kejujuran. "Saya mengajari anak saya untuk mau bekerja keras agar mendapatkan uang. Kerja itu berat. Mencari rezeki tidak gampang. Makanya, saya ajari anak bekerja keras seperti ini. Ini rezeki berlimpah, tetapi banyak orang enggan menyentuhnya," ucapnya.
Untuk memilah sampah yang sudah dikumpulkannya bersama anak dan istrinya, Seladi tidak perlu jauh-jauh, karena lokasi "gudang"-nya itu tidak jauh dari kantor SIM , sekitar 200 meter. Rumah kosong itu milik kenalan Seladi yang diperbolehkan sebagai tempat penampungan sampah.
Semua sampah itu dari stasiun yang berasal dari setiap kereta yang berhenti di Stasiun Kotabaru Malang. Beberapa dari sampah itu masih ada yang bisa dijual, seperti plastik, kertas, atau kemasan makanan. "Banyak orang beranggapan sampah ini tidak ada gunanya, tetapi bagi saya ini adalah rezeki luar biasa yang diberikan Tuhan," ucapnya.
Pekerjaan sampingan Seladi sebagai seorang pemulung tidak membuat anak-anak maupun istrinya malu. Bahkan, dari pekerjaan sampingan, selain sebagai seorang polisi tersebut, Seladi mampu menyekolahkan anak-anaknya. Anak pertamanya saat ini sudah bekerja di RSI Unisma Malang. Anak keduanya, Rizal Dimas Wicaksono (20), lulus D-2 Teknik Informatika Universitas Negeri Malang dan anak ketiganya masih duduk di bangku kelas II SMA.
Anak kedua Seladi, Dimas juga berkeinginan untuk menggantikan profesi ayahnya sebagai seorang polisi dan saat ini sedang berjuang untuk bisa masuk menjadi polisi. "Sebagai seorang polisi mungkin saya tidak banyak uang, tetapi saya sudah cukup bahagia dengan keberadaan anak-anak dan istri saya yang mau menerima apa adanya. Kejujuran tetap harus kami pegang teguh, itu juga yang membuat kami bahagia," ujarnya. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Demonstrasi Bayaran Rusak Demokrasi, Dalangnya Harus Ditindak
-
Kantor BGN dan DPR RI Dijaga Ketat, 1.287 Personel Amankan Aksi Unjuk Rasa di Jakpus
-
Jenguk YTR di RSHS, KSP Dudung Langsung Hubungi Dirut BPJS Soal Biaya Perawatan
-
Koalisi Sipil Kritik Draf RUU HAM, Sebut Ada Pasal Karet hingga Ancam Independensi Komnas HAM
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!