Suara.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghentikan penggusuran di kawasan Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan. Penghentian sampai gugatan warga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menghasilkan keputusan tetap.
"Pemerintah DKI harus menghormati hukum," ujar Komisioner Komnas HAM Siane Indriani, ketika menerima aduan warga Bukit Duri di Komnas HAM, Jakarta, Kamis (8/9/2016).
Komnas HAM menyesalkan tindakan Pemerintah DKI Jakarta yang tetap mengeluarkan dua surat peringatan kepada warga Bukit Duri, walaupun gugatan warga kepada pemerintah melalui mekanisme perwakilan kelompok ("class action") sedang bergulir di pengadilan. Gugatan tersebut terdaftar dalam perkara perdata nomor: 262/Pdt.G/2016/PN.JKT.PST pada tanggal 10 Mei 2016.
"Kalau tidak dihentikan sampai adanya putusan hukum tetap, artinya kepala daerah DKI tidak menghormati hukum," kata Siane lagi.
Komnas HAM memandang penggusuran bukanlah solusi untuk kesejahteraan masyarakat. Alih-alih menggusur dan memindahkan warga ke rumah susun yang menyewa, DKI diminta untuk mengevaluasi kembali penataan kotanya. Pemprov DKI Jakarta di bawah pimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama hampir tidak pernah melakukan dialog dengan warga.
"Kalau ada kata-kata 'memberikan rusunawa', itu artinya manipulatif, sebab rusun itu bukan diberikan, tapi disewa. Yang menjadi korban lagi-lagi kelompok miskin," kata dia lagi.
Komnas HAM sendiri akan memberikan surat resmi kepada Gubernur DKI agar menghentikan rencana penggusuran Bukit Duri dan memberikan perhatian terhadap keinginan warga. Kalau tidak digubris, Komnas HAM berjanji terus memberikan surat rekomendasi.
"Akan ada surat kedua, ketiga. Kami yakin masyarakat akan memberikan penilaian sendiri," ujar Siane.
Setelah dua surat peringatan kepada warga, Pemprov DKI Jakarta berencana melakukan penggusuran rumah-rumah di Bukit Duri, diperkirakan pada 14 September 2016. Wilayah yang terkena kebijakan normalisasi Kali Ciliwung adalah RW 9, RW 10, RW 11, dan RW 12.
Koordinator Pendampingan Warga Bukit Duri Wisnu Handono mengatakan akan ada sekitar 2.000-an KK menjadi korban penggusuran.
"Hal itu membuat kami semakin resah, ditambah lagi adanya intimidasi yang dirasakan warga di lapangan," kata Wisnu pula. (Antara)
Berita Terkait
-
Ahok: Kalau Maia Mau Wagub Lumayan, Bisa Hadapi Dhani
-
Ahok: Kalau Nggak Pro Rakyat Kecil Masa Kasih Tunjangan Kesehatan
-
Ahok Larang Dinas Olahraga Belanja Alat Buat Atlet, Ini Alasannya
-
Daripada Duit Besar Buat Bamus Betawi, Lebih Baik Buat Atlet
-
Ahok Minta Klub Berprestasi di PON XIX Diberi Bonus Besar
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
10 Sisi Terang dan Gelap Zodiak Cancer, Diklaim Jadi Zodiak Paling Banyak di Indonesia
-
Darurat Algoritma, Saat Anak Jadi Alat Promosi Vape di YouTube
-
Ketika Orang Hilang Tak Segera Dicari, Siapa yang Bertanggung Jawab?
-
Korban Selamat KM Mutiara Sentosa II Tiba di Surabaya
-
Berangkat Dari Kalimantan, Om Basri Siap Hadapi Penyidik Polda Sulsel
-
4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
-
5 Alasan Kenapa Hotel Bersejarah Ini Bakal Jadi Spot Hits Terbaru di Bangkok
-
Mengenal Kecanggihan Honda NX500 Motor Crossover Terbaru Pengganti CB500X
-
Qatar Ungkap Kemajuan Negosiasi AS-Iran, Harga Minyak Dunia Anjlok 4 Persen
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal