Puluhan petani dari kawasan Pegunungan Kendeng kembali melakukan aksi protes dengan mengecor kaki menggunakan semen di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis (16/3/2017). [Suara.com/Kurniawan Mas'ud]
Dua petani pegunungan Kendeng, Gunarti dan Gunarto, diterima Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Rabu (22/3/2017). Kedua petani datang sebagai delegasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara .
Usai Jokowi pidato, berlangsung acara foto bersama. Tapi, Gunarti memilih menyingkir dari kerumunan, lalu berdiri di pojok pilar.
Tiba-tiba, Gunarti yang mengenakan kostum adat Jawa menangis.
Tak lama kemudian, Gunarti dan rekannya, Gunarto, menghampiri Jokowi untuk bersalaman. Mereka sempat berbincang.
Gunarti menyerahkan secarik kertas kepada Jokowi. Dia menanyakan keberadaan PT. Semen Indonesia di Rembang, Jawa Tengah, sampai hari ini ditolak warga.
"Bapak kami petani pegunungan Kendeng. Bagaimana dengan pabrik semen yang masih beroperasi di Rembang?" kata Gunarti.
Jokowi mengatakan kasus pabrik Semen Indonesia akan diselesaikan di tingkat provinsi.
"Ya, diselesaikan dulu di tingkat provinsi, di gubernur, Pak Ganjar Pranowo, baru ke saya. Jangan apa-apa ke saya," ujar dia.
Usai pertemuan, Gunarti mengaku sebenarnya ingin menyampaikan banyak hal kepada Jokowi tentang permasalahan di tengah masyarakat pegunungan Gendeng sejak ada pabrik semen.
"Saya penginnya sih bicara baik-baik, dikasih waktu dari bicara dari hati ke hati, ibaratnya anak sama Bapak begitu. Tetapi saya nggak punya kesempatan itu, ya saya datang ke sini sebenarnya harapannya itu," tutur dia.
Kertas yang diserahkan kepada Jokowi tadi, kata dia, berisi tembang pangkur. Tadinya, dia ingin menyanyikannya, tetapi tak diberi kesempatan.
"Saya menulis dua tembang pangkur yang ingin saya tembangkan di depan Bapak Jokowi, tapi nggak ada kesempatan. Kertasnya sudah saya kasihan ke Pak Jokowi," kata dia.
Keberadaan pabrik semen menjadi alasan 50 petani pegunungan Kendeng demonstrasi dengan cara mengecor kaki di depan Istana Merdeka, Jakarta. Kemarin, salah satu petani bernama Patmi (48), meninggal dunia.
Mereka memprotes keberadaan Semen Indonesia di Rembang karena mengancam kelestarian lingkungan dan pertanian masyarakat.
Usai Jokowi pidato, berlangsung acara foto bersama. Tapi, Gunarti memilih menyingkir dari kerumunan, lalu berdiri di pojok pilar.
Tiba-tiba, Gunarti yang mengenakan kostum adat Jawa menangis.
Tak lama kemudian, Gunarti dan rekannya, Gunarto, menghampiri Jokowi untuk bersalaman. Mereka sempat berbincang.
Gunarti menyerahkan secarik kertas kepada Jokowi. Dia menanyakan keberadaan PT. Semen Indonesia di Rembang, Jawa Tengah, sampai hari ini ditolak warga.
"Bapak kami petani pegunungan Kendeng. Bagaimana dengan pabrik semen yang masih beroperasi di Rembang?" kata Gunarti.
Jokowi mengatakan kasus pabrik Semen Indonesia akan diselesaikan di tingkat provinsi.
"Ya, diselesaikan dulu di tingkat provinsi, di gubernur, Pak Ganjar Pranowo, baru ke saya. Jangan apa-apa ke saya," ujar dia.
Usai pertemuan, Gunarti mengaku sebenarnya ingin menyampaikan banyak hal kepada Jokowi tentang permasalahan di tengah masyarakat pegunungan Gendeng sejak ada pabrik semen.
"Saya penginnya sih bicara baik-baik, dikasih waktu dari bicara dari hati ke hati, ibaratnya anak sama Bapak begitu. Tetapi saya nggak punya kesempatan itu, ya saya datang ke sini sebenarnya harapannya itu," tutur dia.
Kertas yang diserahkan kepada Jokowi tadi, kata dia, berisi tembang pangkur. Tadinya, dia ingin menyanyikannya, tetapi tak diberi kesempatan.
"Saya menulis dua tembang pangkur yang ingin saya tembangkan di depan Bapak Jokowi, tapi nggak ada kesempatan. Kertasnya sudah saya kasihan ke Pak Jokowi," kata dia.
Keberadaan pabrik semen menjadi alasan 50 petani pegunungan Kendeng demonstrasi dengan cara mengecor kaki di depan Istana Merdeka, Jakarta. Kemarin, salah satu petani bernama Patmi (48), meninggal dunia.
Mereka memprotes keberadaan Semen Indonesia di Rembang karena mengancam kelestarian lingkungan dan pertanian masyarakat.
Tag
Komentar
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila
-
3 Kali ke Prancis dalam 5 Bulan, Elite PDIP Pertanyakan Urgensi Kunjungan Presiden Prabowo
-
Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa
-
Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya
-
Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
-
Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif
-
Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?
-
Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT
-
Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
-
HLUN 2026 Momentum Wujudkan Lansia Tangguh Menuju Indonesia Emas