Pansus Hak Angket KPK DPR RI di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/7).
Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia Lucius Karus mengimbau masyarakat jangan mudah percaya temuan panitia khusus hak angket terhadap KPK, termasuk pernyataan Arteria Dahlan dalam konferensi pers pada Rabu (20/9/2017) yang menyebut ada temuan indikasi Ketua KPK Agus Rahardjo terlibat kasus proyek pengadaan alat berat pada Bina Marga Provinsi DKI Jakarta tahun 2015.
"Tak ada sedikitpun alasan untuk percaya informasi-informasi yang dilontarkan pansus terhadap KPK yang sifatnya sekedar bahan rumpi," kata Lucius, Kamis (21/9/2017).
Menurut Lucius pansus tidak benar-benar bekerja untuk memperbaiki kelemahan KPK. Tapi sebaliknya, kata dia, ingin melemahkan lembaga antirasuah dengan menyerang pimpinannya.
"Dan lagi urusan pansus KPK harusnya fokus pada kelembagaan KPK. Kalau ada masalah terkait dengan personil tertentu di KPK, biarlah manajemen internal institusi yang menyelesaikannya," katanya.
Padahal, menurut Lucius, terkait kasus hukum, pansus mestinya memberikan contoh kepada publik. Lucius mengatakan kasus korupsi sudah ada lembaga yang berwenang untuk memrosesnya. Jika pansus memegang bukti yang kuat, seharusnya langsung menyerahkan kepada penegak hukum.
"Ketika pansus pura-pura bodoh dengan mengumpar kasus hukum seseorang tanpa langkah hukum yang nyata untuk melaporkan ke penegak hukum, bukankah itu tak lebih dari kerja tukang gosip?" kata Lucius.
Itu sebabnya, daripada mencari-cari kesalahan pimpinan KPK, Lucius menyarankan pansus bekerja dengan fokus di akhir masa kerja. Dengan demikian, data maupun argumentasinya dapat diterima.
"Tak penting lagi melancarkan manuver-manuver menjelang waktu penghakiman kerja pansus ini dilaporkan ke publik melalui mekanisme paripurna di DPR. Manuver-manuver mereka akan terkubur bersama dengan kekuatan atau kelemahan hasil kerja mereka pada akhir masa kerja mereka. Saat kerja mereka harus dipertanggungjawabkan, publik bisa menilai apakah pansus ini pahlawan untuk menguatkan KPK, atau sesungguhnya tak lebih dari pecundang yang jadi alat kepentingan koruptor untuk meluputkan diri," kata Lucius.
"Tak ada sedikitpun alasan untuk percaya informasi-informasi yang dilontarkan pansus terhadap KPK yang sifatnya sekedar bahan rumpi," kata Lucius, Kamis (21/9/2017).
Menurut Lucius pansus tidak benar-benar bekerja untuk memperbaiki kelemahan KPK. Tapi sebaliknya, kata dia, ingin melemahkan lembaga antirasuah dengan menyerang pimpinannya.
"Dan lagi urusan pansus KPK harusnya fokus pada kelembagaan KPK. Kalau ada masalah terkait dengan personil tertentu di KPK, biarlah manajemen internal institusi yang menyelesaikannya," katanya.
Padahal, menurut Lucius, terkait kasus hukum, pansus mestinya memberikan contoh kepada publik. Lucius mengatakan kasus korupsi sudah ada lembaga yang berwenang untuk memrosesnya. Jika pansus memegang bukti yang kuat, seharusnya langsung menyerahkan kepada penegak hukum.
"Ketika pansus pura-pura bodoh dengan mengumpar kasus hukum seseorang tanpa langkah hukum yang nyata untuk melaporkan ke penegak hukum, bukankah itu tak lebih dari kerja tukang gosip?" kata Lucius.
Itu sebabnya, daripada mencari-cari kesalahan pimpinan KPK, Lucius menyarankan pansus bekerja dengan fokus di akhir masa kerja. Dengan demikian, data maupun argumentasinya dapat diterima.
"Tak penting lagi melancarkan manuver-manuver menjelang waktu penghakiman kerja pansus ini dilaporkan ke publik melalui mekanisme paripurna di DPR. Manuver-manuver mereka akan terkubur bersama dengan kekuatan atau kelemahan hasil kerja mereka pada akhir masa kerja mereka. Saat kerja mereka harus dipertanggungjawabkan, publik bisa menilai apakah pansus ini pahlawan untuk menguatkan KPK, atau sesungguhnya tak lebih dari pecundang yang jadi alat kepentingan koruptor untuk meluputkan diri," kata Lucius.
Komentar
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Sehari di Palembang, Ini yang Dilakukan Wapres Gibran dari RSUD hingga PSEL
-
Takhta Dunia di Ujung Era: Spanyol atau Argentina yang Menulis Sejarah?
-
MMA Marketing Talk 2026 Soroti Peran AI dan Kepercayaan Konsumen Dalam Pertumbuhan Bisnis
-
Dekorasi Rumah Pembawa Hoki untuk 12 Shio Menurut Feng Shui, Energi Positif Makin Mengalir
-
FIFA Tuai Kontroversi Lagi, Final Piala Dunia 2026 Bakal Punya Halftime Show?
-
Ulasan Men Are from Mars, Women Are from Venus: Memahami Perbedaan Cara Pria dan Wanita Mencintai
-
Harta Rp73 Miliar Menteri PU Dody Hanggodo, Koleksi Mobil Mewah dan Polemik Mutasi ASN
-
5 Sunscreen Merek Lokal untuk Kulit Sensitif, Cegah Iritasi dan Kulit Kemerahan
-
Peringatan! Cadangan Minyak Dunia Menipis saat AS - Iran Perang Lagi
-
Di Tengah Hilirisasi Nikel, Perempuan Pulau Obi Menemukan Jalan Baru Gerakkan Ekonomi