Suara.com - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Nusa Tenggara Timur (NTT) Naek Tigor Sinaga mengungkapkan, penyebaran uang rupiah palsu meningkat drastis dari 26 pada 2015 menjadi 114 lembar pada 2016 dan hingga triwulan III-2017 menjadi 403 lembar.
"Jumlah upal yang berhasil di identifikasi di NTT mengalami peningkatan signifikan dari 26 lembar uang palsu menjadi 403 lembar," katanya di Kupang, Jumat (15/12/2017).
Menurut dia, uang palsu (upal) yang beredar sempat minim, karena sudah berhasil diidentifikasi sebelum diedarkan dan peningkatan ini terjadi setelah ditemukan adanya upal di wilayah Kabupaten Kupang.
Awal dari laporan penggunaan dua lembar upal senilai Rp200 ribu yang setelah ditelusuri ternyata terdapat ratusan upal yang belum di edarkan. "Kasus tersebut telah ditangani sebagai tindak pidana khusus dan dijatuhi hukuman," katanya.
Naek mengatakan untuk mengatasi hal itu saat ini NTT menjadi satu-satunya provinsi yang telah menerapkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.
Terbukti, kata dia, dua pelaku pengedaran upal pada 2015 di Ngada divonis 10 hingga 11 tahun. Sedangkan pada 2017, kasus pengedaran upal yang melibatkan dua pelaku di Kabupaten Kupang. Pelakunya divonis 5 sampai 10 tahun.
"Ini perlu kami apresiasi, karena NTT satu-satunya provinsi di Indonesia yang telah menerapkan secara dua kali memvonis pelaku hukuman penjara 10 hingga 11 tahun agar ada efek jera," katanya.
Untuk mencegah beredarnya upal di wilayah NTT, BI terus melakukan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah (cikur) kepada warga masyarakat, akademisi maupun aparat.
Untuk mencegah hal-hal itu, Bank Indonesia terus mensosialisasikan kepada warga bagaimana mengenali uang palsu dan melakukan langkah-langkah preventif dengan menggunakan cara dilihat, diraba dan diterawang.
Dia mengatakan dalam melaksanakan tugas pengedaran uang, Bank Indonesia melakukan upaya preventif dalam menanggulangi beredarnya uang palsu.
Upaya preventif dilakukan dengan melakukan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah kepada masyarakat, baik di Kota Kupang maupun di kabupaten-kabupaten di NTT secara rutin.
"Sosialisasi dimaksudkan memberikan pemahaman kepada masyarakat luas untuk dengan mudah mengenali keaslian uang rupiah dengan metode yang dikenal dengan 3D (dilihat, diraba dan diterawang) sehingga dapat lebih cepat mencegah beredarnya uang palsu," katanya.
Naek mengatakan metode 3D adalah cara mengenali keaslian uang rupiah tanpa menggunakan alat bantu cukup dengan panca indera, seperti warna uang terlihat terang dan jelas Terdapat benang pengaman, yaitu bahan tertentu yang ditanam pada kertas uang dan tampak sebagai suatu garis melintang atau beranyam, berubah warna.
Berikut pada uang pecahan tertentu Rp100.000, Rp50.000, Rp20.000 dan Rp10.000), disudut kanan bawah terdapat optical variable Ink (OVI),yaitu hasil cetak mengkilap berupa logo BI dalam bidang tertentu yang warnanya dapat berubah apabila dapat dilihat dari sudut pandang tertentu.
Berikut diraba akan nampak cetak intaglio yaitu hasil cetak berbentuk relief yang terasa kasar bila diraba.Yang terdapat pada angka, huruf dan gambar utama di setiap uang kertas.
"Kode Tunatera kode tertentu untuk mengenal jenis pecahan bagi tunanetra. Di setiap uang terletak pada bagian muka uang diatas tulisan Bank Indonesia.
Lalu diterawang pada setiap uang terdapat TANDA AIR, yaitu suatu gambar tertentu yang di buat dengan cara menipiskan dan menebalkan serat kertas sehingga terlihat bila diterawang, umunya berupa gambar pahlawan.
Pada setiap uang kertas terdapat "rectoverso", yaitu hasil cetak yang beradu tepat atau saling mengisi antara bagian muka dan bagian belakang yang membentuk logo Bank Indonesia secara utuh apabila diterawang kearah sumber cahaya. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Viral Pedofil WN Jepang di Indonesia: Lecehkan WNI, Sebarkan Penyakit Menular Seksual
-
Warga Jakarta Catat! CFD Rasuna Said Rehat Sejenak, Bakal Comeback Lebih Kece di Juni 2026
-
Tito Karnavian Dampingi Prabowo Luncurkan Operasional 1.061 KDKMP di Jawa Timur
-
Kepala BPKP Gemetar Lapor Korupsi di Lingkaran Presiden, Prabowo: Mau Orang Saya, Tidak Ada Urusan!
-
Ketua RW Sebut Bukan Warga Lokal, Siapa Belasan Orang yang Keroyok Dico hingga Tewas di Grogol?
-
Pernyataan Prabowo Bikin Riuh, Sebut 'Mbak Titiek' Pusing Gara-gara Dolar
-
Prabowo: Selama Purbaya Bisa Senyum, Tak Perlu Khawatir Soal Dolar
-
AS Takut Disadap? Rombongan Trump Buang Semua Barang China Sebelum Naik Air Force One
-
Usai Temui JK, Anies Baswedan Beri Komentar Santai Terkait Putusan MK Soal IKN
-
Ray Rangkuti: DPN Dinilai Perkuat Dominasi Militer di Ruang Sipil