Suara.com - Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Rully Akbar menyebut, masyarakat bosan melihat keikutsertaan Ketua Dewan Pembina Partai Hanura, Wiranto, di Pemilihan Presiden (Pilpres).
Wiranto sebelumnya tercatat dua kali mengikuti kontestasi Pilpres. Pertama di tahun 2004, saat berpasangan dengan Salahuddin Wahid selaku calon wakil presiden. Namun, duet Wiranto-Gus Sholah tersingkir di putaran pertama.
Kedua adalah saat Pilpres 2009. Kala itu, Wiranto mendampingi Jusuf Kalla sebagai calon presiden. Duet JK-Wiranto pun gagal bersaing dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono yang memenangi Pilpres 2009.
"Pemilih cukup bosan dengan nama Wiranto karena ikut kontestasi pemilu," ujar Rully di kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta, Rabu (24/1/2018).
Kendati demikian, Rully mengatakan, figur Wiranto masih sangat dibutuhkan bagi Partai Hanura. Walaupun begitu, figur Wiranto tidak sekuat Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
"Tapi sebagai salah satu figur besar, Hanura masih mengandalkan Wiranto, walau figur utama Hanura tidak sebesar Prabowo, Mega, SBY. Tapi ini menjadi upaya masuknya Wiranto menjadi bahan pembicaraan. (Terbukti) Hanura bisa langsung cepat recovery (dari) masalah internal," kata dia.
Belum lama ini, Hanura memang tengah diguncang konflik internal yang melibatkan dua kubu ketua umum Partai Hanura, yakni kubu Oesman Sapta Odang dan Daryatmo--ketua umum Partai Hanura versi Munaslub Bambu Apus.
Diungkapkan Rully, permasalahan internal ini membuat elektabilitas Hanura jelang Pemilu Legislatif 2019 jadi menurun.
"Bisa kita bilang Hanura bukan partai besar. Ekspos perpecahan itu semakin besar. Kalau perpecahan terus akan membuat 'nyungsepnya' suara Hanura itu sendiri. Harus ada penguatan figur dan kinerja di lapangan. Pilkada Serentak 2018 bisa memanaskan mesin (partai). Supaya bisa mengembalikan kepercayaan publik," tandasnya.
Baca Juga: Usai Dahnil, Polisi Periksa Direktur LBH Jakarta Soal Novel Besok
Berita Terkait
-
Gibran dan Teddy Indra Wijaya Jadi Magnet Pilres 2029, Hensa: Semua Bergantung Keputusan Prabowo
-
Analis Selamat Ginting: Gibran Mulai Manuver Lawan Prabowo Demi Pilpres 2029
-
Survei Poltracking: Prabowo Unggul di Top of Mind Capres 2029, Dedi Mulyadi dan Anies Menyusul
-
Mengapa Selat Malaka Bisa Jadi Senjata Indonesia Bebaskan Kapal Pertamina di Selat Hormuz?
-
Ray Rangkuti Khawatir Kemunculan Sjafrie Sjamsoeddin di Bursa Pilpres Mirip SBY 2004
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Menuju Pemilu 2029 yang Berbeda, Titi Anggraini Soroti Potensi Keragaman Calon Pemimpin Nasional
-
33 Tahun Tragedi Marsinah, Aksi Kamisan ke-907 Soroti Militerisasi
-
Hantavirus: Antara Risiko Global di MV Hondius dan Kesiagaan di Pintu Masuk Indonesia
-
Jelaskan Istilah Mitra dengan Homeless Media, Bakom RI Beri Kronologi Pertemuan bersama INMF
-
Kaesang Lantik Pengurus DPW PSI Papua Tengah, Nama Jokowi Diteriakkan
-
Ada Kasus Pencabulan Anak di Balik Kasus Narkoba Etomidate WNA China
-
Pemerintah Bahas Pengelolaan Kepegawaian dan Keuangan Daerah
-
Wamendagri Bima: Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah Penting dalam Penyusunan RKP
-
Geruduk DPRD DKI, Aktivis Endus 'Bau Busuk' Dugaan Korupsi Proyek RDF Rorotan Rp 1,3 Triliun
-
Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara