Suara.com - Beberapa Lembaga Pemasyarakat (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) di Palu, Poso, dan Donggala kini kosong tak berpenghuni. Ini karena saat terjadi gempa 7,7 SR sejumlah tahanan di lapas atau rutan itu memilih kabur untuk menyelamatkan diri.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham), Sri Puguh Budi Utami mengatakan, lapas dan rutan kosong karena ditinggal para tahanan menyelamatkan diri saat gempa terjadi.
"Kondisi ini terjadi karena bangunan lapas dan rutan di wilayah tersebut secara nyata rusak serta mengancam keselamatan mereka (narapidana dan tahanan)," kata Sri saat konferensi pers di kantor Dirjen PAS, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Senin (1/10/2018).
Menurut Sri, sempat terjadi provokasi dan perlawanan yang berujung aksi pembakaran di Rutan Donggala oleh para napi dan tahanan.
Berdasarkan keterangan Kalapas, sewaktu Rutan Donggala dibakar. Para penghuni rutan sempat ditenangkan oleh kalapas dan jajaran, namun ketika terjadi getaran gempa berikutnya dan mendengar bahwa pusat gempa ada di Donggala para penghuni rutan panik.
"Sebenarnya sudah ada negosiasi sedikit demi sedikit, diizinkan sedikit demi sedikit untuk melihat keluarganya, memang paniknya luar biasa. Tapi ternyata juga ada yang tidak sabar, entah bagaimana menyulut kebakaran itu," jelasnya.
Sri mengatakan, saat ini jajaran Dirjen Pas tengah melakukan pendalaman. Selain itu yang dapat diselamatkan ada berapa alat elektronik dan senjata yang dititipkan ke polres setempat.
"Yang tersisa hanya bangunan depan dengan masjid yang masih utuh. Bangunan depan kami pikir sudah nggak bisa dipergunakan lagi, tapi hari ini teman-teman kami sedang melakukan audit dengan jajaran yang ada di sana," tutur Sri.
"Kami akan melakukan relokasi pembangunan seutuhnya di Rutan Donggala, karena seutuhnya tidak dapat berfungsi pasca pembakaran," tambahnya.
Baca Juga: Sudah Yakin dengan Pacar, Marshanda Siap Nikah Lagi?
Sri pun memaklumi pembakaran yang terjadi di Rutan Donggala karena para penghuni Rutan Donggala butuh keselamatan dan kabar dari keluarga.
"Namun secara etika dan moral hukum, hal ini dapat dimaklumi, karena secara naluriah mereka butuh keselamatan jiwa, juga informasi tentang kondisi keluarga mereka di luar. Hal ini terbukti dengan sebagian besar mereka yang kembali melaporkan diri ke lapas rutan," tandas Sri.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan