Suara.com - Generasi 1990-an pernah dihibur dengan Bioskop Senen. Film silat sampai percintaan klasik dipertontonkan, juga film 'agak panas'. Kini Grand Theater dan Mulia Agung Theater tinggal kenangan, rapuh dan tak terurus. Bioskop Senen sudah ditutup akhir 2016. Suara.com datang ke sana pertengahan pekan ini.
Bioskop tua di persimpangan Senen, Jakarta Pusat kini tinggal kenangan. Konon sudah ada sejak tahun 1920-an itu sempat mencapai masa kejayaanya pada tahun 1980 hingga 1990-an sebagai tempat hiburan di Ibu Kota Jakarta.
Bioskop itu adalah Grand Theater dan Mulia Agung Theater. Pertengahan pekan ini, Suara.com mendatangi gedung bioskop yang telah ditutup sejak 31 Desember 2016 itu.
Di persimpangan Senen, Jakarta Pusat, sebuah papan reklame bertuliskan Grand Theater dan Mulia Agung Theater itu masih tampak terlihat, meski samar lantaran telah berkarat. Sementara, dari luar banguanan gedung bioskop itu tampak telah usang termakan usia. Beberapa sisi banguanannya terlihat telah mengalami keruskan.
Sedikit mendekati bangunan gedung bioskop tersebut, tampak sebagian bangunan di sekitar gedung bioskop tersebut kini di manfaatkan seseorang untuk berjualan DVD. Seseorang itu bernama Dani Mulyana (48). Pria asal Garut, Jawa Barat itu ternyata mantan proyeksionis atau pemutar roll film dengan proyektor analog di bioskop Grand Theater dan Mulia Agung Theater, Senen, Jakarta Pusat.
Dani mengaku pasca bioskop Grand Theater dan Mulia Agung Theater berhenti beroperasi dirinya beralih profesi sebagai penjual DVD bajakan. Profesi itu, terpaksa dilakoninya demi menutupi biaya hidup sehari-hari. Meski, Dani mengaku dari hasil penjulannya itu hanya cukup untuk makan dan rokok saja.
“Saya beli satu DVD itu Rp 4.000 terus saya jual Rp 6.000, paling sehari laku tiga sampai empat, itu habis untuk makan sama rokok sehari-hari aja,” tutur Dani.
Dani menceritakan dirinya mulai bekerja sebagai proyeksionis di bioskop Grand Theater dan Mulia Agung Theater pada tahun 2008. Dani sendiri menceritakan sebelumnya telah memiliki pengalaman bekerja di beberapa bioskop tua di Garut yakni, bioskop Sumbersari dan Cikuray. Mulai dari penyobek tiket, pengantar film, hingga akhirnya menjadi seorang proyeksionis.
Baca Juga: Aksi Bapak-bapak Merokok di Bioskop Ini Bikin Kesal Warganet
Dani menuturkan masa-masa kecilnya memang banyak dihabiskan di bioskop. Semasa duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) Dani kerap membolos untuk sekadar menonton film di bioskop Sumbersari di Jalan Ahmad Yani, Garut, Jawa Barat yang persis berada dibelakang rumahnya itu. Dani mengatkan ayahnya sendiri merupakan petugas penyobek tiket di bioskop Sumbersari.
Sementara itu, Dani mengungkapkan ketertarikan dirinya untuk menjadi seorang proyeksionis bermula saat dirinya kerap mengikuti sang kakek yang juga berprofesi sebagai proyeksionis di bioskop Cikuray Garut.
Ketika duduk di bangku kelas 2 SMP Dani kerap membolos dan diam-diam memasuki ruang proyeksionis bioskop Cikuray tempat kakeknya bekerja. Dani mengaku keterampilannya mengoperasikan mesin proyektor analog pun bermula dari kenakalannya semasa kecil yang kerap mengotak-atik mesin proyektor tanpa sepengetahuan kakeknya itu.
“Namanya masih kecil kan ya penasaran gitu, saya masuk diem-diem terus otak-atik aja tuh proyektor. Sampai sering dimarihin kakek juga, katanya ‘udah diem lihatain aja kalau ketauan bos gawat nanti kakek dimarihin,” tutur Dani menirukan ucapan kakeknya itu.
Dani mengatakan sekitar tahun 1995 akhirnya dirinya pun menggantikan kakeknya menjadi seorang proyeksionis di bioskop Cikuray. Tak berselang lama, kata Dani, dirinya pun pindah bekerja di bioskop Intan Cineplex Bandung pada tahun 2002 setelah bioskop Cikuray tutup.
“Tapi di Intan Cineplex Bandung itu juga enggak lama tutup, soalnya sekitar tahun 2000-an itu bioskop-bioskop itu udah mulai pada goyang,” ungkapnya.
Tag
Berita Terkait
-
Aksi Bapak-bapak Merokok di Bioskop Ini Bikin Kesal Warganet
-
Curhat Warganet Pergoki Sejoli Mesum di Bioskop, Kesaksian Lain Lebih Parah
-
Ada yang Aneh dari Poster Film Dilan 1991, Warganet Temukan Ini
-
Film Mia and the White Lion, Kisah Haru Persahatan Manusia dan Hewan Liar
-
19 Hari Diputar, Film Orang Kaya Baru Tembus Sejuta Penonton
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila
-
3 Kali ke Prancis dalam 5 Bulan, Elite PDIP Pertanyakan Urgensi Kunjungan Presiden Prabowo
-
Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa
-
Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya
-
Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
-
Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif
-
Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?
-
Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT
-
Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
-
HLUN 2026 Momentum Wujudkan Lansia Tangguh Menuju Indonesia Emas