“Ya, karena lebih banyak yang minat barang impor, saya jadi dagang mainan ini,” kata Heru, pedagang di Pasar Gembrong, Senin.
Hal yang sama disampaikan oleh Sri yang juga pedagang mainan di pasar tersebut. Dia mengatakan bahwa harga jual mainan plastik impor jauh lebih murah jika dibandingkan dengan produk lokal.
“Saya juga jual mainan lokal tetapi ternyata pembeli lebih minat yang impor karena lebih murah. Padahal, yang lokal lebih awet,” katanya.
Pedagang lain, Adi, turut berpendapat bahwa sebenarnya kualitas mainan lokal jauh lebih bagus daripada mainan impor. Namun, itu tidak cukup membuat masyarakat tertarik untuk membelinya.
“Pembeli lebih memilih yang menarik. Kalau mainan plastik, 'kan lebih mencolok,” katanya.
Berbagai pendapat dari beberapa pedagang tersebut disetujui oleh pembeli mainan impor di Pasar Gembrong. Pertimbangan seperti harga mainan impor yang jauh lebih murah hingga model dan jenis yang lebih modern membuat mereka mengesampingkan mainan lokal.
“Banyak jenisnya, ya, terus modelnya juga lebih modern jadi anak senang,” kata Desi, pembeli mainan impor.
Di Pasar Gembrong, berbagai mainan impor tersebut dijual dengan harga mulai Rp5.000,00 hingga Rp800 ribu. Namun, untuk skala harga Rp250 ribu, para pembeli sudah bisa mendapat mainan berjenis mobil remot hingga drone.
Tentu saja hal itu berbeda dengan di kios mainan kayu milik Umar, seperti bus dan tronton dibanderol dengan harga Rp300 ribu, angkot Rp200 ribu, bus Tayo Rp95 ribu, dan yang paling murah adalah bajaj seharga Rp50 ribu.
Baca Juga: 350 Perusahaan Mainan Anak Bakal Gelar Pameran di JIExpo Kemayoran
“Bahan baku, seperti kayu, cat, dan paku, sekarang harganya sangat mahal,” ujar Umar.
Terjangan mainan impor itu membuat UD Senang Anak yang dahulu memproduksi hingga 37 tipe mobil-mobilan, kini berkurang separuh menjadi 18 tipe saja. Bahkan, dari 200 pekerja pembuat mainan kayu sekarang hanya tinggal dirinya beserta anak dan cucunya.
“Sempat masih ada 40 orang yang bekerja membuat mainan kayu di sini, sekarang sudah tidak ada. Ya, paling cuma saya sama anak dan menantu saya saja, itu pun mereka membantu di kios, bukan bagian produksi mainan,” katanya.
Pelanggan Setia
Di balik banyaknya warga yang memilih mainan impor, ternyata karya Umar masih mendapat tempat di hati pembeli yang setia dengan produk lokal. Menurut dia, masyarakat yang tetap memilih mainan kayu adalah mereka yang mengetahui makna sesungguhnya di balik mainan tersebut.
Sebuah mainan yang tidak hanya menemani anak-anak ketika bermain, tetapi juga mampu memberikan edukasi kepada mereka tentang keselarasan antara mainan dan sang pembuat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- 7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Krisis Tambak di Kaltim: Bagaimana Petambak Bisa Bertahan di Tengah Perubahan Iklim?
-
Liga Arab Siap Amankan Jalur Minyak Selat Hormuz di Dewan Keamanan PBB Besok
-
Kolaborasi Pembiayaan Hijau Kian Digenjot, Sasar Kelestarian Hutan dan Ekonomi Petani
-
Kajari Karo 'Siap Salah' di DPR, 7 Fakta Kasus Amsal Sitepu yang Divonis Bebas
-
Momen Kajari Karo Akui Salah di Depan Komisi III DPR Soal Kasus Amsal Sitepu: Siap Salah Pimpinan
-
Jadwal Pemulangan Jenazah Prajurit Indonesia Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Jumat Agung 2026 di Katedral Jakarta: Ini Jadwal Ibadah dan Lokasi Parkir Jemaat
-
Dampak Kasus Amsal Sitepu: Pekerja Kreatif Khawatir Kerjasama dengan Pemerintah
-
Demi Selat Hormuz, PBB Hari Ini Akan Putuskan Pengerahan Kekuatan Militer untuk Keroyok Iran
-
Prinsip 'No Service No Pay': Badan Gizi Nasional Bakal Cabut Insentif SPPG yang Lalai