- Rocky Gerung menyoroti surplus ijazah doktor namun defisit aktualisasi pemikiran di struktur pemerintahan saat Public Lecture Series 002.
- Ia menilai kegagalan negara mengelola komunitas epistemik mengakibatkan banyak doktor menjadi pengemudi ojek karena dominasi pedagang kekuasaan.
- Rocky Gerung mendorong Yogyakarta tetap sebagai Komunitas Berpikir untuk menghidupkan nalar publik melalui oposisi kritis terhadap pragmatisme politik.
Suara.com - Pengamat politik dan filsuf Rocky Gerung menyoroti fenomena miris di dunia pendidikan dan ketenagakerjaan Indonesia saat berbicara dalam acara Public Lecture Series 002 di Embung Giwangan, Yogyakarta.
Rocky secara spesifik menyinggung nasib para intelektual bergelar doktor (S3) yang kini kehilangan ruang untuk mengaktualisasikan pemikiran mereka.
Dalam acara tersebut, Rocky menilai saat ini terjadi ketimpangan antara jumlah gelar akademik dan ketersediaan ruang bagi para pemikir di dalam struktur pemerintahan.
"Kita hari ini mengalami surplus ijazah, tapi defisit value. Banyak lulusan S3 akhirnya hanya jadi supir ojek karena negara tidak mampu menyediakan ruang bagi pikiran mereka. Kenapa? Karena struktur teknokratis kita lebih banyak dikuasai oleh para dealer (pedagang kekuasaan), bukan leader," kata Rocky dalam acara yang disiarkan secara daring melalui akun YouTube Pandu Negeri, dikutip Senin (18/2/2026).
Rocky menilai kondisi tersebut merupakan bentuk kegagalan negara dalam mengelola “komunitas epistemik”.
Ia menganggap institusi pendidikan tinggi saat ini terjebak dalam formalitas gelar, namun kehilangan substansi nilai yang dapat memberikan dampak nyata bagi kebijakan publik.
Selain menyoroti nasib lulusan S3, Rocky menegaskan bahwa Yogyakarta harus tetap menjadi Community of Thought (Komunitas Berpikir) dan tidak boleh tunduk pada desain politik praktis yang menjauhkan nalar kritis masyarakat.
Ia melemparkan metafora 'Kandang Gajah' untuk mengingatkan warga Jogja agar tidak mau dijinakkan oleh elite politik.
"Jogja ini adalah tempat di mana orang datang untuk bertengkar secara akademis. Jangan sampai ruang ini dirampas oleh makhluk-makhluk pragmatis dan rakus yang ingin merampas hak generasi," tegas Rocky.
Baca Juga: Prabowo Kumpul Bareng Lima Konglomerat, Janji Perkuat Segala Lini Investasi
Bagi Rocky, satu-satunya cara untuk menghalangi potensi creeping authoritarianism atau otoritarianisme yang merangkak naik adalah dengan menghidupkan kembali nalar publik melalui oposisi dan pemikiran kritis.
"Mem-back up negeri ini dengan ide dan pikiran dimaksudkan untuk mengembalikan nalar publik menjadi grammar of the town (bahasa sehari-hari warga). Itu pentingnya oposisi, itu pentingnya Jogja tetap kritis," tambahnya.
Acara ini juga menjadi ruang bagi keresahan pelajar. Otniel Rahadianta dari Forum Komunikasi Pengurus OSIS Yogyakarta sempat mengeluhkan kaku dan bungkamnya sistem pendidikan terhadap ide-ide baru.
Merespons hal tersebut, Rocky mendorong generasi muda untuk tetap bersuara jika kebijakan pemerintah menutup ruang partisipasi mereka.
"Kalau universitas marah, kanalisasinya apa? Pasti demonstrasi. Jadi kalau pemerintah menganggap demonstrasi berbahaya, lho mereka sendiri yang menciptakan kondisi sehingga hanya demonstrasi yang bisa menjadi bentuk partisipasi generasi," pungkasnya.
Kegiatan ini ditutup dengan harapan agar spirit 'Anti-Kandang Gajah' dari Yogyakarta mampu menjadi episentrum perlawanan intelektual terhadap pragmatisme politik di seluruh Indonesia.
Berita Terkait
-
Prabowo Kumpul Bareng Lima Konglomerat, Janji Perkuat Segala Lini Investasi
-
Cerita Rocky Gerung Bantu Prabowo 'Serang Balik' Jokowi lewat Buku Francis Fukuyama
-
Baby Driver: Simfoni Aspal dan Peluru yang Dimainkan Ansel Elgort, Malam Ini di Trans TV
-
Prabowo Tekankan Lapangan Kerja Bareng APINDO, Akankah Gen Z Diuntungkan?
-
Akhir Damai Kasus Oknum TNI Aniaya Driver Ojol di Kembangan, Hasan: Pelaku Sudah Minta Maaf
Terpopuler
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Bagaimana Cara Menonton Film Pesta Babi? Ini Syarat dan Prosedurnya
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
Terkini
-
Amnesty: Kritik Pemerintah Dibungkam Lewat Kampanye Disinformasi 'Antek Asing'
-
Kedubes Palestina Kutuk Israel usai Cegat Konvoi Global Sumud Flotilla ke Gaza
-
Mendagri Bersama Menteri PKP Luncurkan Bedah Rumah BSPS di Provinsi Wilayah Maluku-Bali-Nusra
-
Polda Jabar Bongkar Kasus Penipuan Dapur MBG, Modus Catut Nama BGN dan Jual Koordinat SPPG
-
Jaga Stabilitas Politik & Keamanan Daerah, Mendagri: Pemda Perkuat Forkopimda, FKUB & Tim TPKS
-
Jurnalis Indonesia Disebut Makin Rentan Intimidasi, AJI Ungkap 4 Isu yang Paling Bahaya
-
Dipecat dan Ditahan! Begini Tampang AKP Deky 'Beking' Bandar Narkoba Pakai Baju Tahanan Nomor 38
-
Tampang Eks Kasat Narkoba Kutai Barat AKP Deky Sasiang Ditahan Bareskrim, Jadi Beking Bandar
-
Menhan Sjafrie: Peradilan Militer Bisa Hukum Lebih Berat Pelaku Penyiraman Air Keras
-
Akui Tak Bisa Nego Langsung dengan Israel, Pemerintah Gandeng Pihak Ketiga Bebaskan 9 WNI