Suara.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan alasan penggunaan beberapa literatur yang berstatus belum final atau peer-reviewed dalam kajiannya yang berjudul 'Pengaruh Cuaca dan Iklim Terhadap Penyebaran Covid-19'.
BMKG berdalih dalam kondisi darurat Covid-19, pihaknya tidak mungkin sepenuhnya menggunakan literatur yang berstatus peer-reviewed.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, dalam kajian pihaknya juga menggunakan literatur yang telah berstatus peer-reviewed pada tahun 2011 terkait wabah SARS Covid yang terjadi sebelumnya. Dalam literatur penelitian tersebut disebutkan, bahwa penyebaran virus tersebut dikontrol oleh lintang tinggi atau suhu yang rendah dan kelembaban yang rendah.
Sementara itu, Dwikorita mengemukakan bahwa sebagian besar literatur yang dikumpulkan dalam kajian BMKG berjudul 'Pengaruh Cuaca dan Iklim Terhadap Penyebaran Covid-19' itu merupakan hasil kajian baru antara bulan Januari hingga Maret 2020.
Literatur tersebut pun telah dimasukkan untuk dilakukan review agar berstatus peer-reviewed. Hanya saja menurut Dwikorita pihaknya tidak mungkin menunggu beberapa literatur tersebut hingga berstatus peer-reviewed di dalam kondisi darurat lantaran dapat memakan waktu lama.
"Jadi sangat tidak mungkin kalau dalam kondisi darurat, emergensi, kita harus menunggu tiga bulan enam bulan lagi, saat ini adalah kondisinya darurat," kata Dwikorita dalam diskusi online lewat WhatsApp grup bertajuk 'Benarkah Iklim Berpengaruh pada Penyebaran Covid-19?' Selasa (7/4/2020).
Dalam kondisi darurat itu, Dwikorita mengklaim perlu mengambil terobosan. Terlebih, kata dia, yang terpenting ialah adanya tranparansi dalam kajian yang dilakukan BMKG tersebut.
"Kita harus melakukan terobosan, yang penting transparan. Jadi bagaimana metodenya agar dapat diberi masukan, bagaimana latar belakang teori atau kajian pustakanya dan bagaimana analisisnya," katanya.
Sebagaimana diketahui, BMKG baru saja merilis hasil kajian terkait pengaruh cuaca dan iklim terhadap penyebaran pandemi virus Corona baru Covid-19. Dalam kajian berjudul 'Pengaruh Cuaca dan Iklim Terhadap Penyebaran Covid-19' BMKG menyebut bahwa Covid-19 tidak bisa bertahan dalam iklim tropis seperti di Indonesia yang memiliki suhu udara dan kelembaban yang tinggi.
Baca Juga: Sebulan Pandemi Corona, Pemerintah Sudah Keluarkan 5 Aturan
Berdasar hasil kajian BMKG disebutkan kondisi suhu harian umumnya yang ada di Indonesia dan khususnya
Jakarta pada siang hari berkisar 30'C atau lebih. BMKG lantas menyimpulkan bahwa Covid-19 di ruang terbuka tidak bisa bertahan lebih dari 30 menit, namun pada sore hingga pagi Covid-19 bisa bertahan lebih lama.
Di sisi lain, hasil kajian BMKG juga menyebutkan bahwa temperatur dan kelembapan udara yang tinggi hampir sepanjang hari kurang mendukung virus Covid-19 bertahan di udara terbuka. BMKG juga mengungkapkan bahwa kondisi kelembaban di Jakarta cenderung “lebih lembab” bila dibandingkan dengan kota terjangkit lainnya.
Hanya saja, belakang diketahui bahwa beberapa literatur yang digunakan BMKG dalam kajian 'Pengaruh Cuaca dan Iklim Terhadap Penyebaran Covid-19' itu belum berstatus final atau peer-reviewed seperti. Misalnya, literatur penelitian dari Miguel B. Araujo dan Babak Naimi serta Dong Chen Jr dan kawan-kawan.
Berita Terkait
-
Prediksi Cuaca BMKG Sabtu 4 April 2020: Jabodetabek Hujan Ringan
-
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Angin di Jabodetabek Mulai Hari Ini
-
BMKG Prediksi Musim Kemarau 2020 di Indonesia Bermula di April
-
Heboh Dugaan Meteor Jatuh di Sekitar Merapi, Ini Penjelasan BMKG Yogyakarta
-
BMKG Sebut Gempa di Sukabumi Selasa Kemarin Terkuat dalam 19 Tahun Terakhir
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Kronologi Pemotor Tewas usai Terpental di Jalan Sudirman Pekanbaru
-
Real Cewek Manis, Intip 5 Ide Outfit Girly dan Simpel ala Chae SooBin!
-
3 Contoh Teks Doa Malam Tirakatan 17 Agustus 2026, Khidmat dan Penuh Makna
-
Tak Cuma Buat Belanja, Sistem Pembayaran Digital Kini Menyentuh Layanan Publik
-
Apa Itu Skin Tint dan Bedanya dengan Foundation? Ini Penjelasannya
-
Cara Mengatasi Lipstik Meleber Keluar dari Garis Bibir, Makeup Tetap Rapi Seharian
-
Sprint Race MotoGP Inggris 2026: Aprilia Tampil Dominan, Ducati Kesulitan
-
Contoh Teks MC Jalan Sehat 17 Agustus yang Santai dan Interaktif, Cocok untuk Acara Tingkat RT
-
Alasan Pemprov DKI Jakarta Bongkar JPO Lama di Rasuna Said
-
Keindahan Haji dalam Buku Bergambar Zamzam for Everyone