Melawan rasisme terhadap masyarakat Papua “Rasisme itu ada di mana-mana. Di tanah air, bisa kita simpulkan rasisme itu ada sejak dulu, karena tanpa sadar kita mengadopsi doktrin itu. Kita pun sebagai orang, yang mengatakan kepada kita sebagai bangsa pribumi, kita bisa melihat ketidakadilan terhadap etnis Tionghoa dan Papua,“ kata Alfie.
Menurutnya, gerakan antirasisme di dunia, #BlackLivesMatter ini, mengingatkannya pada situasi di Tanah Air.
“Kita tidak akan pernah lupa tragedi kerusuhan Mei tahun 1998 atau kejadian yang menimpa mahasiswa Papua di Jawa. ‘Colourism’ dan ‘anti Blackness’ di Indonesia itu ada karena kebanyakan orang menghubungkan warna kulit yang gelap dengan hal yang negatif, padahal sama sekali tidak benar,” ujar Alfie geram.
“Tidak ada yang bisa mengkotak-kotakkan kita berdasarkan warna kulit. Karena pada dasarnya tidak ada fakta biologis yang menyatakan bahwa warna kulit mempengaruhi level intelektual seseorang. Jadi selama kita berpikir warna kulit mempengaruhi tingkah laku kita, sikap kita, motivasi kita, tingkah laku kita, cara berpikir atau gaya hidup, maka saya pikir, rasisme itu akan selalu ada.“
Hal senada disampaikan Reynaldi Adias Dhaneswara yang juga kuliah di jurusan yang sama dengan Alfie di Kota Köln.
Menurutnya, kematian George Floyd di Amerika Serikat mengingatkan bahwa rasisme itu masih sangat kental di kehidupan masyarakat maupun di sekeliling dan kehidupan kita sehari-hari, entah disadari atau tidak.
“Dan kematian Floyd mengingatkan kita sebagai bangsa Indonesia bahwa kita masih melakukan rasisme sedari dulu kala terhadap saudara kita di Papua dengan penindasan yang melanggar hak asasi manusia baik, dari pemerintah maupun kepolisian/tentara.“
Amira Rahima Wasitova, mahasiswi jurusan ilmu pertanian Universitas Bonn berbagi pendapat, insiden yang menimpa George Flyod bisa diketahui banyak orang karena tertangkap kamera dan jadi viral. Sehingga masyarakat luas jadi marah dan tidak terima kalau orang kulit hitam masih mendapat diskriminasi ras yang parah.
Padahal bukan rahasia lagi, insiden serupa sering terjadi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Baca Juga: Mahasiswa UI Ajukan Diri Sebagai Amicus Curiae untuk Tujuh Tapol Papua
“Masih banyak diskriminasi antar ras, seperti contohnya yang sering dihadapi oleh teman-teman dari Papua,“ papar Amira.
Mahasiswi yang bermukim di Kota Bonn, Jerman ini juga berharap agar masyarakat Indonesia mengintrospeksi diri dan menghargai sesama.
“Yang paling penting agar lebih sadar terhadap isu kekerasan terhadap ras tertentu di Indonesia demi persatuan,“ katanya.
“Mulai dari sekadar lontaran ejekan yang menyinggung warna kulit, serangan fisik dari masyarakat sekitar, hingga perlakuan aparat yang kurang berdasar,“ tambah Amira yang juga mengambil contoh serangan di asrama Papua tahun lalu.
Sementara itu, Bimo Ario Tedjo, mahasiswa jurusan bisnis administrasi, Universitas Köln, berharap banyaknya aksi solidaritas terhadap komunitas kulit hitam akan membangun kesadaran baru.
Seperti rekan-rekan mahasiswa yang lain, ia pun mengingatkan pentingnya juga membangun kesadaran melawan rasisme di tanah air.
Berita Terkait
-
Ngaku Lawan Rasisme, Starbucks Larang Karyawan Pakai Atribut BLM
-
Liga Inggris Restart Pekan Depan, Pemain Tampil Tanpa Nama di Jersey
-
Anna Wintour Turut Minta Maaf atas Kasus Rasisme George Floyd, Kenapa?
-
Menilik Gerakan Tanpa Pemimpin #BlackLivesMatter di Amerika
-
Melirik Kepemimpinan Karismatik Martin Luther King Jr. Atasi Rasialisme
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- 9 HP Gaming Terjangkau Rekomendasi David GadgetIn Buat Lebaran 2026, Performa Kencang!
- Apa Jawaban Minal Aidin Wal Faizin? Simak Arti dan Cara Membalasnya
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
Pilihan
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
Terkini
-
Libur Lebaran 2026: Ragunan Diserbu Wisatawan, Targetkan 400 Ribu Pengunjung
-
Duduk Perkara Benjamin Netanyahu Bandingkan Yesus vs Genghis Khan
-
Kepadatan Kendaraan Menuju Puncak Bogor Meningkat 50 Persen, Satu Arah Diberlakukan Sejak Pagi
-
Lalu Lintas Kendaraan di Tol Jabodetabek dan Jawa Barat Masih Tinggi Pasca Lebaran
-
Seberapa Penting Selat Hormuz untuk Dunia?
-
Strategi Mengerikan Perang Iran, Makin Ganas Hingga Diprediksi Akan Kalahkan AS - Israel
-
Preseden Buruk Gus Yaqut Jadi Tahanan Rumah, ICW Sebut Dewas Harus Periksa Pimpinan KPK
-
4 Anggota BAIS TNI Terlibat Teror Air Keras, DPR Desak Pengusutan Transparan
-
Jet Siluman Amerika Serikat Seperti Pesawat Mainan, Dipecundangi Iran Sampai Rontok
-
Krisis Iklim Menguat, Indonesia Butuh Komitmen Politik Kuat untuk Memitigasinya