Suara.com - Penerapan new normal atau normal baru di tengah pandemi Covid-19 di Indonesia, diprediksi akan berbuah kegagalan. Pelonggaran pembatasan sosial di tengah meningkatnya infeksi jadi salah satu faktornya.
Menyadur The Conversation, Jumat (26/6/2020), I Nyoman Sutarsa, Dosen sekolah kedokteran di Universitas Nasional Australia, dan tiga rekannya menulis artikel mengapa prediski kegagalan normal baru di Indonesia dapat terjadi.
Peningkatan harian kasus infeksi virus Corona di Indonesia kekinian terus melonjak tanpa adanya tanda-tanda melambat.
Namun, pemerintah Indonesia disebut mereka seakan mengacuhkan data, dengan tetap membuka pembatasan sosial demi menghidupkan kembali perekonomian yang terpuruk.
Pekan lalu, Indonesia bahkan mencatatkan infeksi kasus baru mencapai lebih dari 1.000 perhari, dalam kurun sepekan terakhir.
Pada Rabu (17/6/2020), negara yang dipimpin Presiden Joko Widodo ini bahkan telah menyalip Singapira sebagai negara Asia Tenggara dengan jumlah kasus Covid-19 tertinggi.
"Indonesia berada di bawah tekanan untuk membuka kembali ekonominya untuk merangsang pertumbuhan, mengurangi pengangguran dan mencegah eskalasi kemiskinan lebih lanjut," tulis I Nyoman Sutarsa dan kawan-kawan.
"Tetapi arahan normal baru Indonesia menderita tiga kelemahan serius (kurva infeksi tidak menurun, kebijakan yang untungkan sebagian orang, salah kaprah normal baru)."
1. Kurva infeksi tidak menurun
Baca Juga: Kacau, Wujud Kost Mahasiswa Porak Poranda Setelah Ditinggal Karena Pandemi
Sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan protokol normal baru pada 15 Mei lalu, kurva infeksi virus Corona di Indonesia justru kian meningkat.
Episentrum penyebaran virus yang awalnya berada di ibu kota DKI Jakarta, kini justru makin meluas dan berpindah ke dareah-daearh lain, terkhusus Jawa Timur.
Menurut I Nyoman Sutarsa, arahan normal baru yang diwacanakan Presiden Joko Widodo terlalu dini dilakukan.
Dari sudut pandang politisi dan pengusahan, pemberlakukan normal baru hanya dilihat dari kacamaata stabilitas sosial, dan mendorong pemulihan dan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.
Kurva pandemi Indonesia tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan, sejak April 2020. Pada 24 Juni, ada 49.009 kasus dengan tingkat kematian 5,3 persen. sehari setelahnya, sebanyak 1.113 kasus baru telah dicatat.
Statistik yang terpampang semakin membuat frustasi lantaran hal itu didapatkan Indonesia melalui tingkat pengujian yang begitu rendah.
Tag
Berita Terkait
-
Cara Komunitas Wuling Almaz Bantu Lansia Cegah Penyebaran Covid-19
-
Warga Optimis Kondisi Ekonomi Membaik Usai Pandemi
-
Masih Puncaki Virus Corona RI: Ada 247 Pasien Baru di Jatim, 14 Meninggal
-
Hari Ini, Warga Positif Corona di Indonesia Tembus 50.187 Kasus
-
30.195 UMKM Dilibatkan dalam Pengadaan Barang dan Jasa Pupuk Indonesia
Terpopuler
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Usia 50 Tahun ke Atas
- Ini 4 Smartphone Paling Diburu di Awal Januari 2026
- 5 Sepatu Nike Diskon hingga 40% di Sneakers Dept, Kualitas Bagus Harga Miring
- 5 Tablet dengan SIM Card Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking Anti Ribet
- Beda dengan Inara Rusli, Wardatina Mawa Tolak Lepas Cadar Demi Uang
Pilihan
-
Harga Minyak Anjlok! Pernyataan Trump Soal Minyak Venezuela Picu Kekhawatiran Surplus Global
-
5 HP Infinix RAM 8 GB Paling Murah, Pilihan Terbaik Mulai 1 Jutaan
-
UMP Minim, Biaya Pendidikan Tinggi, Warga Jogja Hanya jadi Penonton Kemeriahan Pariwisata
-
Cek Fakta: Video Rapat DPRD Jabar Bahas Vasektomi Jadi Syarat Bansos, Ini Faktanya
-
Dipecat Manchester United, Begini Statistik Ruben Amorim di Old Trafford
Terkini
-
Prabowo: Saya Dituduh Mau Jadi Diktator
-
Dasco Minta Elite Stop Gaduh Pilkada Lewat DPRD, Fokus Dulu Tangani Bencana Sumatera
-
Hampir Setahun Beroperasi, Love Scamming di Jogja Ditaksir Raup Puluhan Miliar Tiap Bulan
-
Teriakan di Gang 10: Teka-teki Keracunan Satu Keluarga di Warakas, Bunuh Diri atau Pembunuhan?
-
Banyak Anak Indonesia Terpapar Paham Neo-Nazi, Densus 88 Antiteror: Kurang Filter dari Negara
-
Prabowo Geleng-gelang Kepala: Bolak-balik Orang Datang Mau Nyogok Saya
-
Pemprov DKI Kucurkan Rp100 M, Sulap Wajah Rasuna Said Usai Tiang Monorel Lenyap
-
Mentan Keseleo Lidah, Sebut Gubernur Jabar Ridwan Kamil Bukan KDM, Langsung Istighfar dan Minta Maaf
-
Balita 4 Tahun Kena Peluru Nyasar Tawuran di Medan, KemenPPPA: Ini Ancaman Nyata Bagi Anak
-
Polisi Bongkar Praktik 'Love Scamming' di Sleman, Korban di Luar Negeri Dijebak Pakai Konten Porno