Suara.com - Presiden AS Donald Trump selalu memiliki pendapat berbeda dengan dokter top ahli penyakit menular, Anthony Fauci terkait virus corona. Terakhir, pada hari Minggu (19/07/2020), Trump menyebut Fauci sebagai orang yang gelisah berlebihan alias alarmist.
"Yah, aku tidak tahu kalau dia seorang leaker. Dia sedikit gelisah. Tidak apa-apa. Hanya sedikit alarmist," ujar Trump ketika pembawa acara Fox News Sunday, Chris Wallace meminta komentarnya.
Menyadur The Hill, dalam kesempatan yang sama, Trump mengaku punya hubungan yang baik dengan Fauci tapi dalam menit berikutnya, ia berkata Fauci memiliki banyak kesalahan terkait pandemi.
"Dr. Fauci pada mulanya berkata, 'Ini akan berlalu. Jangan khawatir tentang itu. Ini akan berlalu'," ujar Trump meniru kata-kata yang ia yakini sebagai pendapat Fauci.
"Dia salah," kata Trump. "Dr. Fauci berkata, 'jangan melarang China. Jangan melarang China' tapi aku melakukannya. Dia kemudian mengakui bahwa aku adalah yang benar," lanjut Trump.
Wallace kemudian bertanya, mengapa pemerintahan Trump menyudutkan Fauci, tapi Trump buru-buru mengelak dan berkata ia tidak melakukannya.
"Dr. Fauci membuat beberapa kesalahan, tapi aku punya yang sangat bagus, aku berbicara dengannya panjang lebar kemarin. Aku memiliki hubungan yang sangat baik dengan Dr. Fauci," tegasnya lagi.
Ketika Wallace bertanya tentang kesalahan Trump dalam penanggulangan pandemi, ia menjawab bahwa semua orang pernah membuat kesalahan.
Trump mengakui klaim sebelumnya bahwa virus itu akan hilang begitu saja, dengan mengatakan "aku akan benar pada waktunya".
Baca Juga: Anthony Fauci: Tak Ada Jaminan Vaksin Covid-19 Tersedia di Awal Tahun 2021
Sementara itu, Fauci mengkritik aksi Trump dan menyebutnya sebagai serangan Gedung Putih. Ia mengaku tak paham, mengapa serangan itu terjadi padanya dan berdalih itu akan jadi bumerang bagi Trump.
"Pada akhirnya, ini menyakitkan presiden karena sudah berbuat seperti itu," kata Fauci dalam sebuah wawancara dengan Atlantik awal pekan ini.
"Ketika staf mengeluarkan sesuatu seperti itu dan seluruh komunitas ilmiah dan pers mendorongnya kembali, itu akhirnya melukai presiden."
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Teheran Tutup Wilayah Udara Selama Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
-
Pakar UGM: Wajar Publik Curiga Pengangkatan Komisaris BUMN karena Balas Jasa Politik
-
Kronologi Pertemuan Menhut dan Bupati Kuansing, Dari Amplop Sampai Alih Fungsi Hutan
-
Penguatan Fiskal hingga Digitalisasi Layanan Masuk 10 Rekomendasi untuk Kota di Indonesia
-
Bukan Provokasi, Boikot Pajak Dinilai jadi Hak Pembangkangan Sipil
-
Minta Bantuan Dana Parpol Naik, ICW Tantang Partai Buka Laporan Keuangan
-
Perludem Usul Sistem e-Banpol, Publik Bisa Pantau Penggunaan Dana Partai Secara Real-Time
-
Vonis Seumur Hidup untuk Priyo, Eksekutor Keji yang Habisi 5 Nyawa di Indramayu
-
Korban Penyekapan 3 Tahun Bakal Jalani Operasi Bertahap, Begini Kondisinya Kini
-
Bayar Rp200 Ribu Sebulan Bisa Naik Transjakarta Setiap Hari? Begini Skemanya