Suara.com - Turki akan menutup mozaik Bunda Maria yang terpasang di Hagia Sophia saat digunakan untuk ibadah salat Jumat atau ibadah yang lainnya.
Menyadur Artnet News, Kamis (23/7/2020), keputusan tersebut diumumkan oleh juru bicara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang mengatakan pada hari Minggu bahwa beberapa mozaik Bunda Maria dan Malaikat Jibril, yang terletak di arah kiblat akan ditutupi selama ibadah.
Mozaik-mozaik tersebut akan kembali dibuka ketika bangunan bersejarah itu dibuka untuk wisatawan umum.
Pihak berwenang juga mengatakan bahwa gambar tokoh Kristen lain yang terdapat di Hagia Sophia tidak menimbulkan masalah bagi para jemaah karena mereka tidak berada di arah kiblat.
Dibangun oleh Kaisar Romawi Yustinianus pada tahun 537 masehi sebagai Gereja Ortodoks Yunani, keajaiban arsitektur diubah menjadi masjid pada tahun 1453 ketika ditaklukkan oleh Ottoman pada akhir 1930-an.
Sejak saat itu, Hagia sophia menjadi salah satu situs wisata paling populer di Turki dan dikunjungi oleh jutaan pengunjung. Pada tahun 2019 saja, lebih dari tiga juta orang mengunjungi tempat tersebut.
Direktur jenderal UNESCO Audrey Azoulay menyebut Hagia Sophia adalah sebuah mahakarya arsitektur dan kesaksian interaksi antara Eropa dan Asia selama berabad-abad. Warisan kompleks bangunan terlukis di dindingnya.
Pengadilan Turki memutuskan bahwa konversi bangunan ke museum pada tahun 1934 dibatalkan dan beberapa jam setelah putusan tersebut, Presiden Erdogan langsung mengumumkan Hagia Sophia kembali sebagai masjid.
Keputusan tersebut kemudian menuai kritik dan keprihatinan internasional, termasuk dari Yunani, Amerika Serikat, Rusia, serta UNESCO dan Paus Francis, yang mengatakan ia sangat kecewa.
Baca Juga: Erdogan Kunjungi Hagia Sophia
Yunani mengutuk keputusan tersebut dan mengatakan akan berdampak pada hubungan antara kedua negara dan hubungan Turki dengan Uni Eropa. Departemen Luar Negeri A.S. mengatakan bahwa mereka "kecewa" dengan tindakan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Tragedi NS dan Fenomena Filisida: Mengapa Rumah Jadi Ruang Berbahaya bagi Anak?
-
Kubu Kerry Riza Sebut Jaksa Paksakan Keputusan Bisnis Jadi Tindak Pidana Korupsi
-
Konflik Kartel Meksiko Geser Rantai Pasok Narkoba ke Indonesia, BNN Waspadai Jalur Alternatif
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
Jelang Vonis Korupsi Pertamina, Ketua Hakim Beri Peringatan Keras: Jangan Coba-coba Pengaruhi Kami!
-
Sudah Jatuh Tertimpa Tangga: Kerry Adrianto Merasa Dijebak dalam Kasus Korupsi Pertamina
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
-
Unik, Aksi Massa di Mapolda DIY Bergerak Organik Tanpa Orasi dan Tuntutan Tertulis
-
Aksi di Mapolda DIY: Massa Kecam Kekerasan Aparat yang Tewaskan Bocah di Maluku