Suara.com - Imam Teguh Saptono semula sangat yakin pandemi Covid-19 merupakan kejadian yang direncanakan, buah dari upaya modifikasi virus yang dilakukan oleh manusia guna menghasilkan senjata biologi untuk kepentingan suatu kelompok.
Dia bukannya tidak percaya bahwa Covid-19 itu ada. Tapi dia termasuk orang yang meyakini adanya konspirasi di balik persebaran virus SARS CoV-2 yang menyebabkan penyakit tersebut. Dia juga menganggap SARS-CoV-2 tidak terlalu berbahaya sebagaimana yang diwartakan oleh media-media massa.
Selain itu, alumni Institut Pertanian Bogor tersebut merasa aman dari virus corona karena disiplin menjalankan protokol kesehatan dan menerapkan pola hidup sehat semenjak menderita penyakit akibat perlemakan hati beberapa tahun lalu.
Ketika dikonfirmasi positif Covid-19 pun, Imam masih merasakan penolakan di dalam dirinya karena merasa bisa menghindari penyakit itu setelah rutin berolahraga, minum berbagai macam vitamin dan obat-obatan herbal, makan sehat, dan disiplin menjalankan protokol kesehatan.
Namun dia kemudian merasakan bagaimana virus corona tipe baru mengobrak-abrik sistem pertahanan tubuhnya dan membuat dia merasa sudah berada dekat dengan maut. Infeksi virus itu membuat dia demam dan menggigil hebat serta menghadapi sindrom badai sitokin.
"Dokter bilang saya terkena badai sitokin sindrom," kata Imam, Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia yang termasuk anggota "alumni Covid-19 angkatan ventilator."
Badai sitokin terjadi akibat respons sistem imun terhadap infeksi yang tidak berjalan sebagaimana semestinya. Kondisi tersebut bisa menimbulkan penurunan fungsi paru-paru sehingga pasien membutuhkan ventilator untuk bernafas.
Pada hari keenam setelah dinyatakan positif terserang Covid-19, Imam harus menjalani perawatan di rumah sakit. Ia mengalami sesak nafas dengan saturasi oksigen dalam darah 92 persen sehingga membutuhkan asupan oksigen dengan kekuatan embusan level tiga.
Kondisi Imam selanjutnya makin memburuk. Dia mengalami diare hebat selama berhari-hari sehingga tubuhnya kekurangan cairan dan kelelahan karena hanya bisa tidur selama dua jam sehari, itu pun tidak nyenyak, dengan bantuan obat tidur.
Baca Juga: LIVE: Belajar dari Penyintas, Cara Kita Menjaga Kesehatan Pada Masa Pandemi
Pada hari ke-13, Imam dipindahkan ke ruangan perawatan intensif karena laju endap darahnya enam kali lipat di atas normal dan saturasi oksigen dalam darahnya menurun menjadi 85 persen dari batas minimal 95 persen. Di samping itu, Imam amat sangat kelelahan sampai mengangkat tangan saja tidak bisa.
"Dokter memutuskan untuk memasang ventilator. Pada saat itulah saya berpikir saya akan dipanggil," kata Imam.
Imam pun kemudian bertanya tentang hari, karena berharap dipanggil oleh Sang Maha Kuasa pada Jumat, dan menelpon isterinya untuk berpamitan serta memohon doa.
Hal terakhir yang dia ingat mengenai peristiwa itu adalah dokter meminta izin untuk menyuntikkan obat bius. Saat efek obat bius hilang, dia merasakan pengalaman terburuk.
Imam sadar kedua tangannya diikat keras pada tempat tidur, selang, dan pipa masuk ke dalam tubuhnya melalui mulut dan tenggorokan. Dia mendengar dengan jelas bunyi ventilator yang bekerja menggantikan fungsi paru-parunya dan berkontribusi 80 persen terhadap kelangsungan hidupnya. Dia merasa sakit dan amat sangat tidak nyaman.
Seorang perawat lantas datang menghampiri Imam dan menjelaskan mengenai apa yang terjadi padanya.
Tag
Berita Terkait
-
Teori Konspirasi Misteri Kematian dan Hilangnya Ilmuwan Riset Sensitif di AS
-
Viral Teori Donald Trump Time Traveler! Sketsa 100 Tahun Picu Spekulasi Liar Netizen
-
5 Kejanggalan Video Benjamin Netanyahu Terbaru, PM Israel Beneran Tewas?
-
Mengapa Banyak Orang Percaya Elite Global Adalah Reptil?
-
Makna Tersembunyi di Balik Koleksi Baju Anak Celine Dion, Benarkah Demonik?
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
PERADI Profesional Dikukuhkan, Bawa Standar Baru Profesi Advokat
-
Tinggal di Kawasan Industri, Warga Pasirranji Justru Sulit Dapat Air Layak Konsumsi
-
Megawati Terima Utusan Presiden Korsel, Bahas Perdamaian Semenanjung Korea?
-
Mantan Ketua KPPU Soroti Denda Rp 755 Miliar untuk Pinjol, Sebut Ada Kekeliruan Fundamental
-
Suasana Hangat Warnai Kunjungan Rajiv ke SLB Lembang, Bantuan PIP hingga Kursi Roda Disalurkan
-
Modus Pijat dan Doktrin Patuh Guru, Cara Keji Kiai Ashari Berkali-kali Cabuli Santriwati
-
Peringati Usia ke-80, Persit Kartika Chandra Kirana Mantapkan Pengabdian Dalam Berkarya
-
Indonesia Darurat Kekerasan Anak? MPR Soroti Celah Sistem Perlindungan Anak
-
Polisi Bongkar Gudang Penadah HP Curian di Bekasi, 225 iPhone dan Android Disita
-
Yuk Liburan ke Surabaya! Jelajahi Panggung Budaya Terbesar Tahun Ini di Perayaan HJKS ke-733