Suara.com - Penebangan sebuah pohon yang dianggap keramat oleh suku Aborigin demi pembangunan jalan tol telah memicu kemarahan di Australlia.
Para pengunjuk rasa telah lama berkemah di lokasi pembangunan di negara bagian Victoria untuk mempertahankan pohon-pohon yang memiliki nilai budaya penting, termasuk menjadi tempat di mana perempuan Djab Wurrung biasanya melahirkan.
Akan tetapi otoritas negara bagian menebang pohon Djab Wurrung yang disebut sebagai "pohon petunjuk" pada Senin (26/10), kata para aktivis.
Para pejabat membela penebangan itu, dengan mengatakan pohon itu tidak ada dalam daftar pohon yang dilindungi.
Dalam kesepakatan tahun lalu, pemilik lahan Aborigin bernegosiasi dengan pemerintah Victoria untuk menyelamatkan sekitar selusin dari 250 pohon yang "penting secara budaya" dari kehancuran.
- Australia larang pendakian Ayers Rock mulai Oktober 2019
- Bahasa kuno Australia yang diciptakan oleh hiu
- Temuan kapak batu 'ungkap waktu masuknya' Aborigin ke Australia
Namun, aktivis independen dari kelompok lahan Aborigin tetap berada di lokasi dekat Buangor untuk mencoba menyelamatkan lebih banyak pohon.
Pemerintah menegaskan mereka tidak pernah menyentuh pohon lain yang diidentifikasi sebagai "pohon petunjuk" - yang dilindungi dalam daftar itu - dan menyatakan bahwa klasifikasi para aktivis berbeda dengan daftar yang dikeluarkan oleh pemilik lahan.
Pihak berwenang mengatakan pohon yang ditebang adalah pohon jenis fiddleback, tidak mungkin mendahului pemukiman Inggris di Australia. Namun para aktivis mengatakan pohon itu adalah spesies yellow box kuning yang berumur sekitar 350 tahun.
Banyak yang mengutuk berita kehancuran pohon-pohon itu.
Baca Juga: Melbourne Rayakan "Dobel Donat" Dua Hari Nol Kasus dan Siap Dibuka Kembali
"Benar-benar sedih dan merasakan sakitnya nenek moyang kita sekarang," kata Lidia Thorpe, senator Aborigin pertama di parlemen negara bagian dan seorang perempuan yang berasal dari Djab Wurrung.
https://twitter.com/lidia__thorpe/status/1320574264962002944
Banyak orang Aborigin mengatakan tanah adalah hal terpenting bagi identitas mereka.
Aktivis Djab Wurrung sebelumnya menyamakan pentingnya makna pohon di daerah itu dengan gereja atau tempat spiritual lainnya.
Di antara pohon yang dilindungi adalah dua pohon tempat di mana perempuan Aborigin melahirkan.
Pohon itu berusia berabad-abad, di mana perempuan juga mengubur plasenta mereka setelah melahirkan, sebagai bagian dari tradisi budaya mereka.
Kritikus juga mengecam penebangan itu yang bertepatan dengan pengumuman diakhirinya karantina wilayah di ibu kota negara bagian, Melbourne.
"Jadi, sementara pemerintah [Perdana Menteri] Andrews mengumumkan pembukaan Melbourne, secara bersamaan mereka menebang bagian sakral dari warisan Djap Wurrung," tweet penulis Aborigin, Celeste Liddle.
Pemerintah Victoria dengan gigih membela proyek jalan raya itu, yang merupakan perluasan jalan sepanjang 12 kilometer antara Melbourne dan Adelaide - dengan alasan pembangunan jalan itu akan mengurangi kecelakaan lalu lintas.
"Dengan lebih dari 100 kecelakaan di Western Highway dalam beberapa tahun terakhir, termasuk 11 kematian, kami melanjutkan peningkatan keselamatan mendesak yang akan menyelamatkan nyawa," tulis pemerintah Victoria dalam sebuah pernyataan.
Pemerintah menegaskan bahwa pembangunan jalan telah mendapat persetujuan dari kelompok masyarakat adat pemilih lahan, serta lulus pemeriksaan lingkungan dan hukum federal.
"Kami telah mendengarkan suara Aborigin di setiap langkah," kata seorang juru bicara.
Pada hari Selasa (27/10), pihak berwenang telah menutup bagian jalan raya agar bisa terus membuka lahan, lapor media lokal.
Awal tahun ini, penghancuran gua-gua Aborigin kuno di Australia Barat oleh sebuah perusahaan pertambangan juga memicu kemarahan dan kritik publik terhadap undang-undang warisan budaya Australia.
Akibat serangan itu, bos Rio Tinto mengumumkan akan mundur.
Berita Terkait
-
Ranking BWF Ganda Campuran: Jafar/Felisha Masuk 10 Besar usai Tembus Final Australia Open 2025
-
3 Rekomendasi Sunscreen Australia yang Cocok Dipakai Orang Indonesia di Usia 40 Tahun
-
Jadi Finalis Australia Open 2025, Jafar/Felisha Ingin Tampil Lepas di SEA Games 2025
-
Fajar/Fikri Bangga Juniornya Juara Australia Open 2025, Optimistis Masa Depan Ganda Putra
-
Juara Australia Open 2025, Raymond/Joaquin Ungkap Target Selanjutnya
Terpopuler
- 8 Sepatu Skechers Diskon hingga 50% di Sports Station, Mulai Rp300 Ribuan!
- Cek Fakta: Jokowi Resmikan Bandara IMIP Morowali?
- Ramalan Shio Besok 29 November 2025, Siapa yang Paling Hoki di Akhir Pekan?
- 7 Rekomendasi Sepatu New Balance Diskon 70 Persen di Foot Locker
- 3 Rekomendasi Sepatu Lari Hoka Terbaik Diskon 70 Persen di Foot Locker
Pilihan
-
Kids Dash BSB Night Run 2025 Jadi Ruang Ramah untuk Semua Anak: Kisah Zeeshan Bikin Terharu
-
Profil John Herdman, Pesaing Van Bronckhorst, Calon Pelatih Timnas Indonesia
-
Info A1! Orang Dekat Giovanni van Bronckhorst Bongkar Rumor Latih Timnas Indonesia
-
4 HP Snapdragon Paling Murah, Cocok untuk Daily Driver Terbaik Harga mulai Rp 2 Jutaan
-
Dirumorkan Latih Indonesia, Giovanni van Bronckhorst Tak Direstui Orang Tua?
Terkini
-
AHY Pimpin Penyelamatan Korban Banjir Sumatra, Ungkap Penyebabnya Topan Tropis Langka
-
PBNU Makin Panas, Wasekjen Sebut Pemecatan Gus Yahya Cacat Prosedur: Audit Belum Selesai
-
Tangis Ira Puspadewi Kenang Gelapnya Kamar Penjara: Dihindari Teman, Cuma Bisa Ngobrol Sama Tuhan
-
Legislator Nasdem Minta Gelondongan Kayu Pasca-banjir Sumatera Diinvestigasi
-
Update Bencana Sumatera: Korban Meninggal Dunia Jadi 442 Orang
-
Wasekjen PBNU Skakmat Syuriyah: Aneh, Gus Yahya Dipecat Dulu Baru Dicari Faktanya
-
Tragedi Banjir Aceh: Korban Tewas Jadi 96 Orang, 113 Hilang, Puluhan Ribu Keluarga Mengungsi
-
Momen Emosional Ira Puspadewi di Acara Syukuran Usai Bebas Penjara: Ini Mimpi Enggak Ya?
-
Saat Kurir Jatuh, Siapa yang Menolong? Ketika BPJS Ketenagakerjaan Jadi Penolong Pekerja Informal
-
Titiek Soeharto Turun ke Aceh: Tinjau Pengungsian Korban Banjir Bandang