Suara.com - Masa puncak kebanyakan atlet adalah antara usia 20 sampai 30 tahunan dan setelah itu mereka masih memiliki waktu untuk melanjutkan "karir kedua" dalam kehidupan mereka.
ABC Indonesia berbicara dengan tiga mantan atlet bulutangkis Indonesia, yaitu Yuni Kartika, Lilik Sudarwai dan Elizabeth Latif yang melakukan tiga hal yang sangat berbeda, setelah berhenti bermain bulutangkis.
Bagi para pecinta bulutangkis Indonesia dan juga penonton televisi, Yuni Kartika mungkin tidak asing lagi karena walau sudah berhenti, perempuan asal Pekalongan ini tetap melakukan sesuatu berhubungan dengan bulutangkis.
Yuni menekuni karir di dunia penyiaran, mulai dari menjadi reporter olahraga sampai sekarang menjadi penyiar atau komentator terutama di pertandingan bulutangkis baik di tingkat lokal maupun internasional.
Elizabeth Latif pensiun dari bulutangkis di tahun 1988, setahun setelah dia menjuarai turnamen Konika Cup di Singapura mengalahkan pemain China Gu Jiaming 1-11, 11-6, 11-6.
"Ini turnamen yang paling mengesankan bagi saya, karena di semifinal saya mengalahkan pemain China lainnya, Han Aiping," kata Elizabeth Latif kepada wartawan ABC Indonesia Sastra Wijaya.
Han Aiping bersama dengan Li Lingwei adalah dua pemain tunggal putri terbaik China dan juga dunia saat itu.
Setelah turnamen tersebut, Itje panggilan Elizabeth mengalami cedera dan bermaksud mengundurkan diri, namun diminta untuk bertahan selama setahun oleh pelatih tunggal putri saat itu, Minarni Sudaryanto.
Setelah berhenti bermain di usia 25 tahun, Elizabeth kemudian terjun di bidang periklanan bersama kakaknya di Jakarta dan juga belakangan memiliki bisnis pijat bersama mantan pemain Indonesia lainnnya, Susy Susanti.
Baca Juga: Bulutangkis Masih Jadi Tulang Punggung Indonesia di Olimpiade Tokyo
Setelah kerusuhan di tahun 1998, Elizabeth dan keluarganya memutuskan untuk mendapatkan status Permanent Resident atau penduduk tetap di Perth, ibu kota Australia Barat.
"Di tahun 2001 saya melahirkan anak saya di Perth dan kemudian bolak balik Perth-Jakarta," katanya lagi.
"Baru benar-benar pindah di tahun 2014 karena anak saya mau melanjutkan pendidikan di sini."
Sejak berhenti bermain bulutangkis, Elizabeth banyak menghabiskan kegiatan olahraganya dengan bermain golf dan sekarang di Perth banyak terlibat kegiatan sosial di gereja.
"Sejak berhenti bulutangkis, saya gila main golf. Di Perth ada yang minta saya jadi pelatih bulutangkis namun saya tidak mau," kata perempuan kelahiran tahun 1963 tersebut.
Elizabeth mengaku jika sekarang ia sudah merasa betah tinggal di Perth.
Tag
Berita Terkait
-
Perluas Jangkauan Pembinaan, PBSI Gelar Festival SenengMinton di Purwokerto
-
PBSI Gelar Festival SenengMinton, Cetak Bibit Emas Bulu Tangkis Sejak Dini
-
PBSI Kudus Gelar Festival Bulu Tangkis, Masyarakatkan Olah Raga Tepok Bulu
-
Yuni Kartika Puji Potensi Pemain Muda di Indonesia Para Badminton International 2024
-
Kolaborasi dengan PB Djarum, PBSI Kudus Gelar Festival SenengMinton 2024
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Motor Gigi Tanpa Kopling: Praktis, Irit, dan Tetap Bertenaga
- 5 Rekomendasi HP Layar Lengkung Murah 2026 dengan Desain Premium
- 5 Lipstik Ringan dan Tahan Lama untuk Usia 55 Tahun, Warna Natural Anti Menor
- Kenapa Angin Kencang Hari Ini Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia? Simak Penjelasan BMKG
- Lula Lahfah Pacar Reza Arap Meninggal Dunia
Pilihan
-
Menilik Survei Harvard-Gallup: Bahagia di Atas Kertas atau Sekadar Daya Tahan?
-
ESDM: Harga Timah Dunia Melejit ke US$ 51.000 Gara-Gara Keran Selundupan Ditutup
-
300 Perusahaan Batu Bara Belum Kantongi Izin RKAB 2026
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Fit and Proper Test BI: Solikin M Juhro Ungkap Alasan Kredit Loyo Meski Purbaya Banjiri Likuiditas
Terkini
-
Badan Geologi Ingatkan Longsor Susulan Masih Mengintai Cisarua, Ini Pemicunya
-
Percepatan Relokasi dan Tata Ruang Aman Jadi Fokus Mendagri Pascabencana
-
Langsung Ditelepon Prabowo, Menteri Trenggono Ungkap Kondisinya Usai Pingsan Saat Upacara
-
Bantah Tebang Pilih, Satgas Ungkap Proses di Balik Perintah Prabowo Sikat 28 Izin Perusahaan
-
Pengamat Nilai Pengacara Nadiem Tak Siap Hadapi Jaksa, Apa Alasannya?
-
Kasus Suami Jadi Tersangka Usai Bela Istri dari Jambret di Sleman, Ini Kronologi Versi Polisi
-
JPO 'Melayang' JIS-Ancol Bakal Jadi Ikon Baru Jakarta, Kapan Bisa Digunakan?
-
Pramono: WFH dan PJJ di Jakarta Hanya Saat Hujan Deras, Cerah Tetap Masuk Normal
-
Adu Cepat Lawan Maut: Basarnas Terjang 'Bubur Pasir' Cari Puluhan Korban Longsor Cisarua
-
PDIP Jabar Siapkan Relawan Kesehatan Desa, Hasto Kristiyanto: Kemanusiaan di Atas Politik Elektoral